Tarita Lubis

Tarita LubisSejak di bangku sekolah, Tarita Lubis sudah tertarik mempelajari sumber daya manusia. Hal ini mendorongnya untuk mengambil studi S-1 Psikologi di McGill University, Kanada. Bahkan, sampai bekerja pun, ia lebih menyukai bidang SDM atau human resources (HR).

Baginya, dunia HR sangat menantang. “Untuk merealisasikan strategi, pasti ada peran manusianya. Memiliki sistem dan tujuan yang baik itu perlu, tapi pada akhirnya yang melakukan itu manusia. That’s how it interests me, bagaimana bisa merealisasikan semua inisiatif atau strategi itu melalui manusia dan bagaimana melaksanakannya secara efektif,” ujar wanita kelahiran Desember 1982 ini tentang alasannya tertarik pada bidang HR..

Tarita bercerita, saat awal bekerja di Daya Dimensi Indonesia, ia tertarik pada bidang SDM. Begitu pindah ke organisasi, jadi lebih tertarik mengenai bagaimana manusia berperilaku di dalam organisasi. “Untuk itu, saya kuliah lagi jurusan MBA di mana kami berbicara mengenai kompetensi dan leadership development,” kata peraih gelar MBA dari Rotterdam School of Management, Belanda, ini. Sebagai profesional, Tarita percaya untuk memahami dunia HR tidak bisa dari satu sisi saja, sehingga harus mengerti tentang strategi bagaimana organisasi bisa berjalan dengan baik.

Setelah empat tahun di Daya Dimensi Indonesia, Tarita pindah ke Ernst & Young Indonesia bagian People Advisory Services. Lalu, tahun 2017, ia bergabung dengan PT Coca-Cola Amatil (CCA) sebagai Head of Organizational Capability and Talent.

Tarita mengakui, CCA menarik baginya karena perusahaan ini adalah tempat di mana ia menemukan dua dunia. Ada banyak orang yang sudah lama berkarier di sini, tetapi juga banyak orang baru. Organisasi ini memiliki dua demografi yang berbeda untuk menghadapi perkembangan zaman yang sangat cepat dan dinamis. Dengan demikian, yang menjadi penting untuk semua orang ke depannya adalah bagaimana membuat diri masing-masing bisa meaningful dan lebih relevan dengan perubahan yang ada.

Memulai karier dari bidang consulting, kemudian terjun ke industri, ia merasakan siklus karier yang menyeberang batas. “Maksudnya, dari posisi sebagai external hire dari industri yang berbeda bisa pindah ke Coca-Cola Amatil adalah pencapaian saya,” tutur pehobi latihan mindfulness, meditasi, serta yoga ini.

Tantangan yang ia hadapi adalah belajar tentang seluk-beluk industri dan proses bisnis fast moving consumer goods (FMCG). Selain itu, dengan skala supply chain CCA yang besar, tantangannya adalah bagaimana mengelolanya. Tarita harus membangun program yang dapat menambah value karyawan. Yang ia lakukan adalah berbicara dengan tim-tim divisi CCA yang sudah berpengalaman lebih banyak di business process. Ia tak segan ikut bekerjasama dengan orang lapangan, seperti bagian penjualan, agar mengetahui bagaimana mereka menjalankan target-target pekerjaannya,. Selain itu, ia dan tim berbicara dengan direktur regional bidang penjualan. Jadi, ia bisa mengerti siapa saja stakeholder dan customer, dan akhirnya dapat membuat program agar mereka mampu meningkatkan value.

Untuk meningkatkan kompetensi diri, Tarita suka membaca melalui e-learning. Konten yang dibaca acak, tetapi sekarang ia sedang tertarik pada informasi tentang bagaimana digital learning bisa diterapkan, inovasi, dan design thinking. Dari bacaan-bacaan itu, ia menyadari saat ini organisasi-organisasi besar juga sudah mulai melakukan unsur inovasi di dalam proses bisnisnya.

Eva M.Rahayu/Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!