Tiga Sekawan Besarkan Elven

Memulai bisnis selagi masih mahasiswa kini memang menjadi tren. Yang menarik, tak sedikit di antaranya yang membesar dan menjadi bisnis serius. Contohnya, Elven Digital (PT Elven Digital Indonesia), penyedia jasa TI dan digital untuk B2B yang dikembangkan tiga sekawan alumni Universitas Bina Nusantara. Kini mereka punya kantor tiga lantai di Alam Sutera, Serpong, lebih dari 30 karyawan, dan omset Rp 200-400 juta sebulan.

Laksamana Mustika, CEO PT Elven Digital Indonesia

Laksamana Mustika, CEO PT Elven Digital Indonesia

Elven Digital didirikan tiga anak muda, yakni Laksamana Mustika (CEO), Ferdinand (COO), dan Samuel Theodorus (executive chairman). Ketiganya lulusan Ilmu Komputer BiNus (kampus Alam Sutera).

Laksamana dan Samuel bertemu saat sama-sama mengambil mata kuliah Entrepreneurship hingga kemudian sepakat mendirikan Elven Digital. Keluarga Laksamana, yang menyelesaikan TK sampai SMA di Yogyakarta, kebanyakan berprofesi dokter. Ayah-ibunya tak setuju saat ia mendirikan usaha TI.

Elven Digital awalnya merupakan usaha paruh waktu. “Waktu itu saya membuatkan web untuk perusahaan, namun saya kerjakan secara freelance. Sejak semester I di BiNus, saya sudah punya passion untuk bekerja di bidang marketing dan IT. Lalu, kami dirikan Elven Digital ini,” ungkap Laksamana yang kelahiran Palembang, 24 September 1994, dan suka berdagang sejak remaja.

Elven Digital berbisnis secara B to B di bidang layanan digitalisasi perusahaan. “Core business kami adalah pembuatan sistem berbasis web dan mobile apps, pembuatan dan desain grafis (logo, packaging, dsb.), serta layanan Internet marketing,” kata Laksamana. Pada tahun didirikan (2013), Elven Digital belum memiliki klien satu pun. Kemudian, untuk menarik pelanggan, Laksamana dkk. memberi layanan pembuatan web dengan harga murah. “Bayaran hanya Rp 300 ribu, Rp 500 ribu, bahkan ada yang gratis. Lama-lama klien makin banyak dan tarif perlahan kami naikkan,” katanya.

Roda bergulir. Pertengahan 2014 Laksamana dkk. sudah bisa menyewa kantor, walaupun ukurannya kecil, 4 x 7 m2, dan sangat sederhana,. Enam bulan kemudian mereka pindah menyewa kantor yang lebih besar, sebuah rumah dua lantai, karena saat itu sudah punya 10 karyawan. Mereka bersyukur, hanya sekitar setahun kemudian ada investor yang tertarik menanamkan modalnya sehingga Elven Digital bisa pindah ke ruko di De Mansion Alam Sutera (tiga lantai) yang ditempati sampai saat ini. “Investor melihat prospek kami. Karena, semua bisnis ke depan pasti akan bergantung pada teknologi, TI dan digitalisasi. Dengan track record kami, investor setuju berinvestasi di sini,” ujar Laksamana yang mengenal investor tersebut melalui salah satu kliennya.

Laksamana Mustika (CEO), Ferdinand (COO), dan Samuel Theodorus (executive chairman)

Laksamana Mustika (CEO), Ferdinand (COO), dan Samuel Theodorus (executive chairman)

Kini tak disangka, Elven Digital telah mampu mempekerjakan lebih dari 30 karyawan. Omset bisnis sudah di kisaran Rp 200 juta-400 juta per bulan. “Kami besar di purchase order dan piutang karena ini bermain B to B,” katanya. Kebanyakan pelanggannya dari industri logistik, travel, dan ecommerce.

Salah satu klien Elven Digital ialah Wootekh, perusahaan produsen suplemen kesehatan yang menjual produknya secara online. “Website meupakan bagian signifikan dari bisnis kami sehingga harus bagus. Kami memilih Elven Digital karena pendekatan mereka yang persuasif dan portofolio yang mereka tunjukkan juga membuat kami terkesan,” kata Andy Alijaya, Wakil Presiden Direktur Wootekh. Pihaknya sudah bekerja sama dengan Elven Digital selama setahun. Kami punya satu proyek tetapi banyak unsur di dalamnya, Elven Digital mendesain grafisnya dan memrogram webnya dari nol. Kami puas dan sistem program berjalan dengan baik,” kata Andy lagi.

Dari pengalamannya mengelola usaha, menurut Laksamana, berbisnis tak harus bermodal besar. Bisa memulai dengan seadanya dan yang sudah dimiliki. Yang penting, cermat dalam mencari jalan keluar. Ia memberi contoh, saat awal memulai usaha, kebanyakan karyawannya adalah freelance karena belum mampu menggaji karyawan tetap.

Juga dalam promosi, untuk menghemat, pihaknya melakukannya dengan cara mouth to mouth, promosi ke teman, saudara, chat personal, dan broadcast melalui SMS. Dalam memilih karyawan pun, pihaknya berhati-hati dan menomorsatukan kejujuran ketimbang hard skill yang menurutnya mudah dipelajari. “Akan sulit mengubah karakter seseorang hanya dengan bekerja selama satu-dua tahun di sini,” ujarnya.

Di tengah perkembangan yang pesat ini, Laksamana dkk. belum merasa puas. Mereka masih punya ambisi besar: memiliki produk digital yang bisa dijual secara massal. “Sekarang belum kami garap karena peluang B2B masih banyak,” katanya.(*)

Sudarmadi dan Raden Dibi Irnawan

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Bank Mualamat Gandeng PWNU DKI Jakarta Luncurkan Gerai Muamalat

Bank Muamalat dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama(PWNU) DKI Jakarta bekerja sama strategis di bidang Bisnis Payment Point Online Bank (PPOB)...

Close