Tiga Sekawan di Balik Teh Detoks

Meningkatnya permintaan makanan dan minuman sehat benar-benar ditangkap Ketrin Agustine, Claudia Novira, dan Sandy Wiguna sebagai peluang bisnis. Tiga sekawan itu memasarkan dan memproduksi teh detoks melalui Teatox & Co. Mengandalkan jurus pemasaran online, tiap bulan Teatox & Co berhasil memasarkan ribuan paket produk ke pelanggannya di berbagai kota.

Ketrin Agustine & Claudia Novira, Mereka tertarik berbisnis teh detoks setelah melihat bisnis serupa sudah cukup dikenal di Amerika Serikat dan Australia. Adik Ketrin sering membeli produk teatox (teh detox) ini dari luar negeri, dan Ketrin sering mencoba serta merasakan khasiatnya. Dari situlah Ketrin dkk. terpikir membisniskannya di Indonesia karena teh detoks belum ada di negeri ini. “Kami lalu riset bahan-bahannya dari berbagai negara. Untuk olong tea kami ambil dari China, yerba mate dari Argentina, dan lain-lain. Kami juga kirim ke nutrisionis di Australia. Lalu, kami meraciknya,” Ketrin menjelaskan kisah awal mereka berbisnis.

Tiga sekawan ini memulai bisnis pada 2015 dengan modal Rp 300 juta-400 jutaan. Modal sebesar itu mereka gunakan untuk mencari nutrisionis, bahan-bahan, packaging, dan membangun tim. Mereka bertiga juga berbagi tugas. Sandy lebih banyak bekerja untuk mengurusi operasional dan pengiriman, sedangkan Ketrin memikirkan pekerjaan kreatif seperti kampanye pemasaran.

Ketrin menjelaskan, Teatox & Co mengemas produk dalam dua paket program: paket 14 hari dan 28 hari. “Untuk produk 14 hari, biasanya dicari orang yang ingin detoks saja. Sementara yang 28 hari biasanya untuk orang-orang yang ingin detoks sekaligus ingin penurunan berat badan," kata Direktur Kreatif Teatox & Co ini.

Sejauh ini, berdasarkan riset Teatox & Co, dari semua konsumen yang mengonsumsi paket 14 hari, 85%-nya bisa turun beran badan 2-3 kg. Adapun paket program 28 hari rata-rata bisa menurunkan beran badan 5-7 kg. Dari sisi pricing, paket produk 14 hari dijual seharga Rp 589 ribu sementara paket 28 hari Rp 700 ribu.

Membidik segmen konsumen usia 25-35 tahun, awalnya Teatox & Co membangun pasar hanya melalui online (Instagram). “Namun, ternyata permintaan sangat tinggi. Orang-orang merasa produk kami bekerja dengan baik. Akhirnya, kami supply juga ke gym, salon kecantikan, tempat menicure dan pedicure, hingga eyelash extention,” kata Ketrin. Kini pihaknya juga sering mengikuti event, termasuk bazar di Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan. Mereka berpromosi dengan mengangkat seorang perempuan inspiratif untuk melakukan photoshoot dengan membawa brand Teatox. Mereka kini juga memasok hotel, restoran, dan kafe, khususnya untuk teh lifestyle. Bahkan, meluncurkan merek baru, Shushu, yang isinya green tea latte dengan produk mirip green tea Starbucks, dan sudah dijual di mal-mal.

Seiring waktu, bisnis Teatox & Co makin berkembang dan kini sudah dibantu 18 karyawan. Yang menarik, belakangan makin banyak konsumen yang membeli teh detoks dari Teatox & Co untuk cendera mata pernikahan mereka. Misalnya, pasangan penyanyi Raisa dan bintang film Hamish Daud.

Pemerhati pemasaran Yuswohady melihat tren ke arah makanan atau minuman kesehatan semakin tinggi, khususnya di kelas menengah. “Apalagi, ini healthy yang terkait dengan kecantikan. Segmen ibu muda, ibu itu influencer terbesar di rumah tangga. Artinya, market Teatox & Co sudah betul secara value preposition-nya dengan menawarkan healthy,” katanya. Strategi channelling dengan masuk ke gym dan promo menggunakan ambassador juga sudah benar.

Hanya saja, ini perlu mengedukasi pasar karena produk baru, bisa melalui digital dan offline,” kata Yuswo. Dia juga menyarankan agar Teatox rajin masuk ke komunitas, melakukan co-branding dengan klinik-klinik kecantikan. Bila ini dilakukan secara kreatif, bukan mustahil bisnis tiga sekawan ini kian berkibar. (*)

Sudarmadi & Nisrina Salma

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)