Pratiwi Halim, Vespa Adalah Otomotif Life Style

Selalu keluar dari zona nyaman. Itulah Pratiwi Halim dari segi karier. Meskipun terbilang masih yunior masuk industri sekutik, Direktur Marketing PT Piaggio Indonesia ini mencoba untuk terus belajar. Sementara ranah pembelajaran yang ia pilih selalu berhubungan dengan pemasaran.

Dari L'Oreal Indonesia, Azkonobel, kemudian berlabuh ke Piaggio Indonesia. Mulanya, kelahiran Palembang, 4 April 1980 ini belajar dari bawah, yaitu berperan sebagai Product Consultant di L'Oreal Indonesia. Setelah makan asam garam di lapangan, dirinya terus dipromosikan untuk naik jabatan sampai akhirnya menjabat di posisinya sekarang, Piaggio Indonesia. “Sebenarnya kita belajar tidak pernah berhenti, walaupun di satu tempat. Tetapi untuk memperbesar scoope pembelajaran dan mengerti industri yang berbeda, keluar dari comfort zone sangat penting,” ujar lulusan S2 Business Management, Universitas Indonesia ini.

Pratiwi Halim, Direktur Marketing PT Piaggio Indonesia

Tiwi, demikian sapaan akrabnya, mengaku bahwa Piaggio tidak sekadar menjual motor atau sekutic tapi juga menjual life style. Karena vespa is life style. Jadi walaupun otomotif, tapi ini adalah otomotif live style. Tiwi berpendapat bahwa industri yang digelutinya sekarang tidak berbeda jauh dengan dunia fashion, masih seru untuk digali. Tiwi mengibaratkan bahwa dirinya harus menjadi 'busa', dimana ia harus mengabsorpsi semua hal, terutama yang positif, juga mau mendengarkan. Dari sisi market, ia melihat bahwa pasar semakin berkembang. “Sekarang mereka sangat digital. Digital media, social media, itu sangat berpengaruh terhadap pola pikir konsumen. Salah satu tantangannya adalah bisa cook in dengan dunia yang digital ini untuk mendapatkan kepuasan pelanggan. Karena evolusinya jauh sekali. Dulu, mungkin generasi Baby Boomers, mereka tidak terlalu mementingkan teknologi. Sudah masuk generasi X, mereka sudah mengerti teknologi, sekarang generasi Y semuanya digital, mereka sangat kritis,“ ungkapnya yang baru-baru ini aktif menjadikan mereknya sebagai salah satu promotor utama Bazar Art Jakarta 2012.

“Kami melihat antara art, seni, dan Vespa itu bukan sesuatu yang bisa dipisahkan, karena Vespa pertama kali dilahirkan dari art. Makanya vespa itu iconic. Dari bentuknya, dia tidak terlalu berubah banyak. Berpartisipasi dalam Bazar Art Jakarta sendiri merupakan upaya untuk mendukung dunia seni rupa Indonesia. Di situ kami juga memberikan 2 Vespa LX125 dan 3 aksesoris boxnya untuk diinterpretasikan oleh 5 seniman yang kemudian dilelang. Uang hasil lelang didonasikan untuk Yayasan Seni Rupa Indonesia. Lebih ke charity dan untuk menguatkan imagenya vespa bagi art,” terang pehobi relaksasi dan massage ini.

Adapun program yang ia lakukan adalah masih menjalankan program yang sudah ada namun dengan melakukan inovasi market insight. Selama satu bulan masuk, dirinya menghabiskan banyak sekali waktu untuk market research, serta bergabung dengan komuniti Vespa. Ia melihat bahwa komunitas Vespa di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, setelah Italia. “Kami punya 40 ribu anggota, mereka adalah heritagenya kami, dimana mereka merupakan pecinta vespa, mereka mengerti tentang brand. Dalam 1 bulan ini, saya masih fine tuning tentang market inside, apa yang membuat mereka mencintai brand ini sedemikian dasyat, karena mereka adalah brand ambassador yang terbaik sih, yang pernah saya lihat. Mereka tidak dibayar, tapi mereka speak for the brand dengan hati mereka,” ujarnya.

Bicara target, Tiwi melihat bahwa potensi pasar untuk Piaggio sangat besar. Vespa adalah premium sekutik, dimana di Indonesia sendiri sebenarnya marketnya belum eksis. Tiwi menyebutkan bahwa rata-rata harga sekuternya di Rp 12-13 juta, sedangkan Vespa di Rp 24-27 juta, sehingga untuk premium sekutic itu belum ada. “Kami melihat bahwa ini adalah potensi yang besar yang belum digali oleh perusahaan lain, dan ini merupakan heritage dan juga poin pentingnya Piaggio.” katanya.

Lantas bagaimana membawa Piaggio menuju target? Tiwi mempunyai strategi yang ia sebut sebagai extramild. Yang dimaksud dengan extramild adalah, pada saat bekerja, kita harus mengerjakan pekerjaan kita dengan hati, bukan hanya melakukan apa yang mejadi kewajiban, tapi seberapa besar kontribusi lebih kita kepada perusahaan. “Extramild itu wajib, dengan tidak membatasi diri kita untuk berkembang,” ujar ibu satu anak ini bijak. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)