Anggun Citra Wulandari, Orbitkan 13th Shoes Sejak Mahasiswa

Walaupun sempat ditentang orang tuanya, Anggun Citra Wulandari mampu membuktikan bahwa pilihannya mengembangkan bisnis sepatu handmade khusus wanita tidaklah salah. Terbukti, kini sepatu merek 13th Shoes yang dibesutnya sejak tahun 2009, diminati masyarakat. Bahkan, kini sepatu 13th Shoes sudah tersebar di berbagai kanal penjualan. “Kami juga sudah mulai mengekspor ke beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia, Jerman dan Kuwait,” kata Anggun dengan bangga.

Anggun Citra WulandariBagaimana kiat wanita kelahiran Jakarta, 9 April 1990 ini mengorbitkan produk sepatunya? Menurut Anggun, usaha pembuatan sepatu khusus wanita itu mulai dirintisnya tahun 2009 ketika ia masih kuliah semester kedua di Jurusan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, Telkom University. Ia sempat bertanya ke ibunya di mana tempat sentra sepatu di Bandung, karena ia ingin mengembangkan bisnis sepatu. Maklum, Anggun termasuk cewek yang gemar belanja sepatu. Tentu saja, orang tuanya menentang niat anaknya itu, karena mereka ingin ia fokus kuliah dulu.

Namun tampaknya, niat Anggun sudah bulat. Ia pun melakukan “survei” ke sentra sepatu Cibaduyut. Ia antusias ketika menemukan ada produk sepatu handmade, tetapi pola dan desainnya tidak sesuai dengan keinginannya. Setelah bertanya dan mencari dengan tekun, Anggun yang ketika itu ditemani pacar yang kini jadi suaminya, Mufti Wisanggeni Lepicsa, menemukan satu perajin sepatu yang sesuai dengan kriterianya.

Saya request sesuai yang saya mau. Dari awal saya pesan di sana dan sampai sekarang karena memang cocok,” kata Anggun. Awalnya Anggun memakai pola maklun (pesan pembuatan) karena dulu penjualannya masih sedikit. Dari modal yang dikumpulkan perlahan-lahan kini usaha sepatu itu sudah ia ambil alih semuanya.

Untuk memasarkan produk sepatu yang diproduksinya, Anggun mencari contoh penjualan sepatu (handmade) di Internet. Lalu ia mengunggah foto-foto produknya di Facebook. Ternyata banyak temannya yang tertarik dan memesan.

Bagaimana Anggun yang masih mahasiswa bisa memiliki usaha pembuatan sepatu itu? Rupanya ketika merintis, ia meminta calon pembeli memberikan uang muka (down payment) untuk sepatu yang dipesannya. Nah, uang muka ini yang digunakan Anggun untuk melakukan purchase order ke perajin sepatu rekanan bisnisnya di Cibaduyut. Ia memberikan contoh gambar, lalu dibuatkan pesanan tersebut ke perajin. “Uang DP dari pembeli itu yang saya gunakan untuk pemesanan. Setelah mereka melunasi pembelian, ada keuntungan saya kumpulkan untuk membuat ready stock. Sambil mengumpulkan, lama-kelamaan saya beli aset. Jadi tidak ada modal khusus yang disiapkan untuk membangun bsnis ini,” tutur Anggun.

Diklaim Anggun, selain merupakan sepatu handmade (yang dikerjakan oleh 20 karyawannya), 13th Shoes juga dibuat dari bahan sintetis grade A. Ia menjamin modelnya up-to-date. Ia menyebut, yang membuat desain adalah suaminya. Dengan membidik target konsumen usia 15-40 tahun, 13th Shoes dijual mulai Rp 295 ribu hingga Rp 425 ribu per pasang.

Tahun 2011, 13th Shoes mulai ngetop. Anggun pun mulai percaya diri, dan melirik kalangan artis untuk berkolaborasi. Salah satunya artis sinetron Shireen Sungkar. Anggun mengirimkan dua pasang 13th Shoes gratis ke Shireen. Tanggapannya sangat bagus: Shireen mau bekerja sama, dan menjadi pelanggan. Artis lain yang ikut memberikan endorsement pada 13th Shoes adalah Natasha Rizki, Zaskia Sungkar, Momo Geisha, dan Zaskia Adya Mecca, yang memakainya di acara Jakarta Fashion Week. Ia juga berkolaborasi dengan selebgram Mega Iskanti. “Strategi berkolaborasi dengan artis atau digunakan oleh artis ini sangat berpengaruh pada hasil pemasaran kami,” ucap Anggun.

Selain berkolaborasi, Anggun juga menempatkan sepatunya di para stockist. Saat ini, 13th Shoes ada di PopShop, Happy go Lucky, Widely Project, dan Satvrdays. Tak lupa, ia memasarkan pula melalui website dan media sosial, seperti Facebook, Twitter dan Instagram. “Mulai tahun 2016 ini kami menawarkan kalau belanja Rp 1 juta bisa mendapatkan membership card yang akan mendapatkan diskon 10% untuk seumur hidup,” ujarnya. Produk 13th Shoes juga masuk ke portal belanja Berrybenka dan Hijup.

Hasilnya pun mulai kelihatan. Jika pada 2010 hanya terjual 50 pasang per bulan, tahun berikutnya penjualan 13th Shoes naik dua kali lipat: 100 pasang lebih setiap bulan. Kini, Anggun sudah mampu memproduksi 800-1.000 pasang sepatu per bulan, dengan 20-30 model. Selain 80% lebih dipasarkan di dalam negeri, 13th Shoes juga sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia, Jerman dan Kuwait. “Warna yang paling laku adalah cream, maroon, navy, black and white,” ucap Anggun. “Omset tahun lalu rata-rata Rp 150 juta per bulan. Tahun ini naik sedikit, Rp 160-170 juta per bulan,” tambahnya.

Kendati bisnisnya mulai moncer, Anggun tetap khawatir dengan adanya perdagangan bebas yang memungkinkan banyak merek luar yang masuk. Maklum, mindset masyarakat masih berorientasi merek global. Di sisi lain, ia masih kesulitan meningkatkan jumlah produksi karena keterbatasan sumber daya. Termasuk aturan main dari pemain besar yang kurang berpihak ke merek lokal. Misalnya di mal-mal, merek lokal sulit diletakkan di tempat yang utama. Biasanya ditempatkan di pojok atau di ujung. “Ke depan, kalau sudah punya gerai sendiri, saya ingin seperti Wakai. Jadi Wakai itu merek lokal tapi orang berpikirnya itu merek asing atau Jepang. Saya sudah membuat konsep toko saya nantinya itu akan seperti toko asing. Karena toko lokal rata-rata standar,” ungkap Anggun.

Kekhawatiran akibat perdagangan bebas yang dikeluhkan Anggun ditepis pengamat pemasaran Sumardy. Menurutnya, justru di zaman sekarang produk lokal lebih memiliki kesempatan untuk bersaing. Sebab, mereka bisa memanfaatkan kanal online, promosi dan cara jualannya murah.

Memanfaatkan kanal online adalah pilihan yang tepat, karena menjangkau jumlah orang yang jauh berkali lipat dibanding kanal offline atau gerai,” ujar Sumardy.

Karenanya, Sumardy menyarankan: Anggun tetap fokus menciptakan produk yang bagus, dan bermain pada kanal yang bersahabat bagi merek lokal. Jangan terjebak permainan merek asing yang gencar promosi dan punya banyak gerai. “Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengembangkan bisnis, ya bisa co-branding atau kemitraan. Misalnya, ada acara di TV dia menjadi sponsor sepatunya. Pokoknya harus mencari cara yang unik dan inovatif untuk membangun merek,” katanya menyarankan. “Sebagai pemain baru, ia harus menggunakan cara-cara di luar kebiasaan,” katanya lagi menegaskan.

Nerissa Arviana & A. Mohammad B.S.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)