Bisnis IoT Andri Yadi

Andri Yadi, CEO DycodeX

Meski sudah 13 tahun Andri Yadi bergelut dalam pembuatan software untuk beragam bidang, baru pada 2015 bendera Dycode didaftarkan secara legal. Hal itu menurut Andri karena ia membangun bisnis tidak sendirian. Bersama enam temannya, ia mencoba menjalankan bisnis baru. Namun, dalam perjalanan, tinggal Andri yang aktif. Sementara yang lain mundur teratur.

Tertantang oleh keadaan, Andri bergerak cepat mengelola dan menggaet mitra-mitra baru. Bahkan, ia pun antusias mengembangkan jenis bisnis baru yang dibutuhkan saat itu. Yaitu, ketika pada 2014 ia melihat pesatnya perkembangan Internet of Things (IoT) di luar negeri, ia pun membangun perusahaan baru di bidang IoT bernama DycodeX.

“DycodeX kami bangun untuk menyelesaikan masalah dengan multidisplin. Jadi, tidak hanya menggunakan software sehingga membentuk suatu solusi,” kata Andri yang menjabat sebagai CEO DycodeX. Perusahaan ini pun membuat produk-produk yang sifatnya mudah. Misalnya, membuat asset tracking yang bisa mengetahui pergerakan sebuah aset. Asetnya pun bisa bermacam-macam, seperti mobil dan sepeda. Namun baginya, hal-hal tersebut dianggap terlalu biasa saja, hingga akhirnya ia membuat SmartTernak.

SmartTernak merupakan alat/aplikasi untuk merekam/mendeteksi secara otomatis kondisi sapi, seperti kesehatannya, berat badan, serta perilaku yang ada kaitannya dengan pola makan dan minum. Lalu, bisa merekam juga kondisi sapi pejantan atau bibit unggul, apakah banyak gerak atau tidak. Sebab, kalau sapi tidak aktif, berarti bukan bibit unggul. Sementara sapi yang digemukkan justru tidak boleh banyak bergerak. Dan, sapi yang diambil susunya tidak boleh stres. Lalu, bisa juga mendeteksi apakah sapi akan melahirkan atau tidak, akan menstruasi atau tidak, berahi atau tidak, dsb.

Bagi pengelola peternakan sapi, data tentang perilaku dan kondisi sapi seperti di atas sangatlah penting dan dibutuhkan. Selama ini orang melihatnya manual. Jadi, bisa dibayangkan kalau harus mengecek satu per satu sapi dalam jumlah banyak. “Intinya, bagaimana si sapi bisa diprediksi, dari lokasi dan kondisinya. Semua itu bisa dideteksi otomatis dengan alat yang kami ciptakan. Alat ini akan selalu me-record secara otomatis tanpa perlu bantuan manusia lagi,” kata alumni Fisika Institut Teknologi Bandung ini.

Saat ini, SmartTernak digunakan Andri pada pilot project di peternakan milik Kementerian Pertanian di Padang, Sumatera Barat. Di sana ada 100-an pekerja yang berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang mengelola 1.000 ekor sapi. Dengan SmartTernak ini, jika nanti sapinya bertambah banyak, pekerjanya tidak perlu bertambah. Kalau pekerjanya dikurangi, juga tidak bisa karena status mereka adalah ASN.

Dengan memanfaatkan aplikasi SmartTernak, produktivitas pekerja akan meningkat. Juga, bisa meminimalkan kerugian karena mereka akan mendapatkan peringatan dini melalui aplikasi terebut ketika sapi mulai berperilaku aneh (tidak wajar). Misalnya, sapi tiba-tiba tidak mau makan, sistem SmartTernak akan mendeteksinya sebagai peringatan dini.

Apa yang bisa dilakukan peternak? Sebenarnya, tidak ada yang bisa dilakukan peternak kalau sapi sakit karena biasanya dokter hewan datang ke peternakan seminggu sekali. “Yang bisa dilakukan peternak adalah memotong sapi itu secara darurat dan bisa dijual dengan harga yang lebih murah,” katanya.

Manfaat lain dari aplikasi tersebut, untuk mencegah pencurian atau sapi kabur dari kandang karena SmartTernak dilengkapi dengan GPS. Selain itu, aplikasi tersebut bisa mengukur temperatur tubuh sapi dan temperatur lingkungan, juga bisa mengetahui lingkar badan sapi. “Jadi, alat tersebut tinggal dikalungkan saja di kepala sapi,” kata Andri. Ia menambahkan, SmartTernak digunakan sebagai pilot project di delapan tempat dengan rata-rata implementasi aplikasinya sekitar 10 device SmartTernak per lokasi.

Mengapa tidak langsung berjualan secara terbuka? Andri memberikan alasannya, yaitu masalah edukasi dan masalah regulasi. “Jadi, kami belum bisa berjualan secara komersial karena ada beberapa izin yang harus kami minta dan izin itu belum keluar. Jadi, sebenarnya sekarang kami masih di ranah R&D, bukan komersial. Peminatnya sebenarnya banyak sekali. Seperti belum lama ini, ada yang minta 100 device,” kata lulusan STM Penerbangan ini. Adapun tantangan yang dihadapi, selain masalah perizinan, juga soal edukasi penggunaan alat tersebut. “Ada perusahaan besar di Indonesia, mereka tahu value-nya dan sapi mereka ada 10 ribuan. Namun, mereka ingin trial dahulu,” ungkapnya.

Kendati produk tersebut belum secara resmi dijual bebas, perusahaan Andri telah menghasilkan keuntungan. “Jadi, dari delapan tempat pilot project tadi, mereka sudah membayar. Pendekatan kami adalah bukan menjual produk, tetapi menjual manage service,” katanya. Pendekatan kepada kliennya ada dua cara, yaitu klien membeli device-nya atau klien tidak perlu membeli device-nya tetapi membayar secara bulanan. “Tentu, yang kedua ini bayar bulanannya lebih mahal. Untuk kontraknya, mereka kontrak dengan kami minimal dua tahun dengan membayar US$ 11 per device per bulan. Minimum pembelian 10 device. Sekarang, total device yang tersebar ada sekitar 100,” ungkap Andri.

Ia menjelaskan, pihaknya perlu waktu empat bulan untuk membangun aplikasi tersebut sampai peluncuran dan trial. Bahan-bahan untuk membuat alat tersebut harus diimpor dari luar negeri, antara lain chip-chip-nya. “Yang kami buat kan desain keseluruhan namun chip-chip-nya harus membeli. Dalam riset kan biasanya bahan-bahan mentah ini rusak berkali-kali dan belum lagi untuk membayar orang juga. Jadi, kisaran dana yang sudah dikeluarkan Rp 500 juta,” katanya. Adapun modal berasal dari angel investor.

Saat ini karyawan perusahaan Andri berjumlah 40 orang. Ia juga telah membuat komunitas bernama Makestro untuk mengembangkan IoT. Tujuannya, mengakomodasi siapa saja yang mau belajar program hardware. Selain itu, juga membuat ekosistemnya terlebih dulu. Jumlah anggota komunitas mencapai 3.000 orang tetapi tidak semuanya aktif. “Sekarang sudah ada di 10 kota yang kami sambangi dan kami beri training. Tujuannya untuk awareness bahwa IoT peluangnya besar dan orang bisa belajar,” katanya.

Dalam empat tahun ke depan, Andri menargetkan akan membidik peternak perorangan, bukan hanya peternak besar skala perusahaan seperti saat ini. “Kami percaya jika regulasi sudah oke dan device sudah bisa produksi banyak, akhir tahun depan kami sudah bisa menyebarkan lebih dari 30 ribu device. Tahun keempat, target kami bisa mengover 10% dari jumlah sapi di Indonesia yang sebanyak 1,6 juta ekor, atau sebanyak 160 ribu ekor sapi,” ungkap Andri optimistis.(*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)