Digitalisasi Ternak Ikan ala Lima Sekawan

Salah satu manfaat kemajuan teknologi digital adalah mampu memberikan sentuhan modern terhadap berbagai aktivitas tradisional, seperti yang dilakukan Iwak.Me, startup yang didirikan oleh lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang menawarkan bisnis ternak ikan air tawar melalui dunia maya. Dengan Iwak.Me, investor hanya perlu menggunakan ponsel pintar atau PC untuk memantau perkembangan ternak ikannya dari hari ke hari.

 iwak trainingIwak.Me dibesut berkat pengamatan salah satu pendirinya, Rushan Faisal. Pria asal Nganjuk, Jawa Timur, itu awalnya hanya ingin membantu para peternak ikan di kampung halamannya. Kebetulan, ayah Rushan juga seorang pembudidaya ikan air tawar.

Rushan lantas membicarakan idenya dengan kawan-kawannya di UGM, yakni Hestyriani Anisa, Ade Armyanta Yusfantri, Anggita Arum Pertiwi dan Rian Adam Rajagede. Mereka pun sepakat membesut Iwak.Me dan meluncurkannya pada 15 Juli 2015. “Ini adalah platform investasi sosial. Kami di sini membantu petani-petani ikan untuk memaksimalkan produksinya dengan menghubungkan para petani ikan dengan pemodal, pakar, penyedia bibit, dan pemerintah. Bagi pemodal, kami membuat program investasi yang kami desain untuk membiayai aktivitas petani ikan,” kata Hestyriani Anisa, CEO Iwak.Me, kepada SWA.

Dipaparkan Nisa, sapaan Hestyriani, Iwak.Me memungkinkan peternak ikan di daerah untuk terhubung dengan para pemilik modal dari berbagai belahan dunia mana pun. Sebaliknya, Iwak.Me juga memudahkan seorang investor untuk memantau bisnis ikannya dari balik meja kerja di kantor, atau bahkan di tengah-tengah kemacetan jalanan kota besar. Berbagai data penunjang pun tersaji di situsnya yang beralamat di www.iwak.me, seperti laporan keuangan serta data ikan yang mati, setiap hari, real time.

Keuntungan lain berinvestasi di Iwak.Me, menurut Nisa, imbal hasilnya melebihi simpanan deposito di bank yang hanya berkisar 4%-5% per tahun, sementara di Iwak.Me di angka 8%-10%. “Ditambah lagi, investor juga mendapatkan privilege untuk mengunjungi keluarga petani. Jadi, investor bisa tahu dan mengenal seperti apa kolam ikannya dan siapa yang mengelola kolam tersebut,” papar dia.

Nisa menuturkan, untuk berinvestasi di Iwak.Me, investor cukup mendaftar di situsnya. Sayang, ketika SWA mengkliknya, terpampang tulisan bahwa pendaftaran investor baru sedang ditutup selama 5 Juli-15 September 2016. Alasannya, demi pengembangan sistem dan manajemen. Meski demikian, bagi yang tetap berminat bisa mengisi form daftar tunggu yang jika diklik akan mengarah ke dokumen di Google Forms

Adapun paket investasi yang disediakan bervariasi, dari Rp 150 ribu hingga Rp 15 juta, yang kemudian dikonversikan ke dalam kepemilikan kolam. “Untuk membuat satu kolam, kami membutuhkan Rp 15 juta,” Nisa menerangkan.

Setelah jatuh-bangun menguji coba sistemnya selama setahun, Nisa dkk. kini telah memanen hasilnya. Setiap kolamnya bisa menghasilkan 700 kg hingga 1 ton ikan lele untuk sekali panen, atau setiap bulan. Adapun petani ikan bisa mendapat bagian sebesar Rp 600-700 ribu sekali panen untuk satu kolam. “Saat ini, total kolam aktif ada 40 dan seorang petani menangani 3-4 kolam,” tutur Nisa.

Total kini terdapat 300 investor yang menanamkan modalnya di Iwak.Me. Sementara jumlah petani yang telah bergabung mencapai 14 orang, dan 10 orang lagi dalam masa pelatihan selama dua bulan. Nisa menuturkan, saat ini startup-nya fokus pada budidaya ikan lele. Namun, ada kemungkinan akan ditambah dengan jenis ikan air tawar lain, seperti nila.

Ke depan, Nisa dan timnya hendak membantu lebih banyak lagi petani ikan di Jawa Timur. Selain itu, Iwak.Me berencana menghubungkan langsung bisnisnya dengan restoran dan hotel serta daerah lain yang mengalami kekurangan ikan. Rencana ekspor pun sudah dipetakan dan akan diujicoba dua tahun lagi.Bottom of Form

Arief Rahmanuddin, salah satu investor Iwak.Me, menuturkan, dirinya sudah empat bulan berinvestasi dengan nilai Rp 150 juta. “Yang membuat saya tertarik investasi di sini adalah visi mereka membantu memberdayakan masyarakat di Indonesia. Jadi, harapannya adalah investor, pengelola dan peternak sama-sama sejahtera,” ungkapnya kepada SWA.

Arief menyarankan agar Iwak.Me terus mempromosikan bisnis sosialnya melalui berbagai media. Tujuannya tak lain agar semakin banyak investor yang mendorong pengembangan Iwak.Me sehingga bisa membantu lebih banyak petani ikan lagi.(*)

Raden Dibi Irnawan dan Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Yulia Pangastuti

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)