Dua Pemenang Socio Digi Leader 2017, Tidak Punya Latar Belakang TIK

Share Cup berhasil meraih juara pertama Socio Digi Leader (SDL) 2017, kompetisi sosial berbasis TIK (teknologi, informasi, dan komunikasi, yang digelar PT Telkom sejak pertengahan Mei hingga akhir September ini. Peserta asal Jakarta ini berhasil menyisihkan ratusan peserta SDL lain bahkan ada yang berasal dari Australia, Belanda, Jerman, India dan Perancis. Kemenangan Share Cup setelah dinyatakan juara oleh para juri yang terdiri dari: Ketua Dewan Juri Herdy Harman (Chief Human Capital Officer PT Telkom), Billy Boen (pengusaha), Alamanda Santika (praktisi TIK), dan Nadine Chandrawinata (artis dan sociopreneur maritim).

Ide Share Cup sangat menarik karena membuat pebisnis minuman tidak perlu beli gelas karena bea produksi sudah diperoleh dari pengiklan dari depan cup tersebut.  Tak ada yang pernah seksama perhatikan, jika waktu seseorang saat habiskan minuman dalam gelas adalah sekitar 15 menit. Makanya, sebuah iklan dalam cup gelas tersebut, bisa jadi lebih efektif dan efisien dibandingkan beriklan melalui teve atau radio yang sepintas lalu.

Jika gelas habis, melalui aplikasi teknologi, informasi, komunikasi (TIK), bisa disampaikan infonya untuk dipasok kembali. Tak kalah pentingnya, bahan baku gelas tersebut dibuat dari kertas yang mudah diurai sehingga ramah lingkungan. dengan harga jauh lebih hemat. Bersama rekan-rekannya, yaitu COO Share Cup Eunike Regina Febby dan CEO Technology Share Cup Yosua Nathanael, ketiganya sebenarnya tak berlatar TIK.

Ketiganya mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Nanyang Technological University. Steven merupakan mahasiswa teknik mesin, Yosua teknik elektro, dan Eunike dari teknik kimia. Akan tetapi, rasa ingin memberi dampak sosial kepada Indonesia, membuat mereka belajar otodidak.

"Semua tentang coding juga belajar dari internet dan scratch. Desain juga waktu itu pakai power point. Tapi penting sekali dalam setiap aplikasi start up mempertimbangkan dampak sosial. Kalau hanya bisa menghisap sumber daya tanpa memberi impact, Indonesia bisa hancur," ujarnya.

Start up Share Cup ke depannya ingin segera mempeluas konsep bisnisnya tersebut. Selain itu, mereka ingin menciptakan bungkus makanan reuseable guna mengurangi sampah plastik dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Sedang untuk juara kedua SDL diraih Travel Share berhak hadiah sebesar Rp 45 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong dan juara ketiga Market Hub mendapat Rp 30 juta, beasiswa, dan company visit ke Hongkong.

SDL yang dihelat keduanya kalinya setelah tahun kemarin meneruskan tradisi sebelumnya ketika pemenang SDL 2016 dikirim antara lain ke Google, Facebook, Plug & Play di Silicon Valley, Amerika Serikat, Net CV di Hong Kong, serta Pay Pal Incubator di Singapura. Program employee branding ini sekaligus berusaha mencari karyawan BUMN TIK terbesar di Indonesia tersebut.

Tanpa latar TIK juga terjadi pada pemenang kedua, Travel Share, sebuah platform tentang relawan di bidang pariwisata. CEO Travel Share  Fidhzarian Utama saat ini sedang mengambil jurusan master International Development di University of Manchester. Begitu juga rekannya , Risya Nurfitriani di jurusan pemasaran dan Cindy Hapsari di organisational change di kampus sejenis.

"Travel Share menjadi media bagi traveller guna mendapat aktivitas volunteering di destinasi wisata berdasarkan skill yang dimiliki. Secara tidak langsung, Travel Share juga dapat meningkatkan marketing, sehingga warga Indonesia bisa menjadi relawan di daerah-daerah terpencil di Indonesia," sambungnya.

Banyaknya destinasi wisata di Indonesia menjadi tantangan bagi Travel Share dalam melakukan pendekatan, terlebih lagi kepada operator tur wisata. Namun, tantangan tersebut tidak terus jadi hambatan, karena tanpa latar belakang TIK saja, mereka dapat menjadi runner up SDL 2017.

Menurut mereka, Telkom memang benar-benar mendukung dan memberi media bagi anak-anak muda kreatif untuk berkolaborasi sehingga muncul kreativitas tersebut. Mereka berharap ajang serupa konsisten diadakan kedepannya. Terlebih, bukan sekedar kompetisi, sampai digelar Bootcamp seminggu di Bali dengan hadirkan mentor juara.

Berbeda dengan Share Cup dan Travel Share, Market Hub ditangani orang-orang yang mumpuni di bidang TIK. Mereka adalah Dewa Wahyu (CEO) dan Deta Utama Putra (Web Master) dari STIKOM Indonesia serta Dody (Chief Product Development) dari STIMIK Primakara di Bali.

Ketiganya berusia di bawah 24 tahun, tetapi memiliki kepekaan dari fenomena yang dilihat dan menerapkannya melalui Market Hub.

"Kami melihat bahwa market place di Indonesia sudah banyak. Namun, masih ada merchant yang jarang jualan online, kalaupun ada, mereka hanya ada di satu tempat saja. Jadi, Market Hub memungkinkan konsumen belanja online pada satu tempat namun mencakup seluruh market place dalam satu dashboard," ujarnya.

Dewa Wahyu mengatakan, SDL memberi pelajaran kepada mereka bahwa ide kreatif tidak berarti apa-apa tanpa usaha mewujudkannya. Anak muda harus berusaha memberi ide kreatif meski belum bisa memberi dampak lebih besar.

"Kami tidak ingin bersaing dengan yang lain. Kami pure ingin membantu Indonesia. Kami tidak merasa bersaing pada Socio Digi ini. Karena, semakin banyak yang ikut, maka semakin banyak juga yang turut membantu Indonesia, terutama dari segi usaha kecil menengah," katanya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)