Interlook, Bisnis Jasa Desain Interior Wandy Rustandy

Baru tiga tahun Interlook Indonesia berdiri, Wandy Rustandy telah mendapat respons positif. Perusahaan jasa desain interior dan arsitektur miliknya itu mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Buktinya, dalam sebulan pria kelahiran 27 November 1989 ini menangani proyek dari sekitar 10 klien.

Wandy RustandyRupanya, media sosial menjadi senjata andalan alumni Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur, Universitas Pendidikan Indonesia itu. Akun Instagram dan website miliknya menjadi platform utama untuk memamerkan portofolio proyek yang telah digarapnya. “Dunia digital saat ini menjadi fokus utama kami,” ujar Wandy. “Kami berkomitmen untuk tidak membuka showroom secara offline.”

Demi meningkatkan brand awareness, ia rajin menyediakan konten yang memang sesuai untuk target pasar Interlook, yaitu pengguna medsos dengan rentang usia 27-40 tahun. Kliennya antara lain pemilik rumah, pemilik unit apartemen, serta pemilik bangunan komersial seperti kafe dan perkantoran.

Selama ini kebanyakan klien memang mengetahui Interlook dari Instagram, website, dan rekomendasi dari klien-klien sebelumnya. Menurutnya, pertambahan jumlah klien Interlook berbanding lurus dengan jumlah pengunjung akun Instagram dan website-nya. “Kadang dalam sebulan kami bahkan bisa menangani lebih dari 10 klien,” ujarnya.

Interlook mematok tarif Rp 100 ribu-300 ribu per m2 untuk jasa desain. Adapun untuk jasa konstruksi, tarifnya Rp 3 juta-5 juta tergantung pada materialnya.

Wandy berupaya mengedepankan desain yang fungsional dan bernuansa instagenic, sehingga foto-foto yang dihasilkan dari desainnya bisa viral dan banyak direkomendasikan. Dalam portofolio proyeknya antara lain ada front office Balai Pengujian Mutu Konstruksi dan Lingkungan Jawa Barat, ATM Center, dan Mushola Room di Klinik Kiara Husana (Kiaracondong), semuanya di Bandung. “Saat ini kami memiliki positioning sebagai penyedia jasa home and interior custom,” ungkapnya.

Sebelum mengibarkan Interlook, Wandy ternyata juga pernah mencoba peruntungan dalam usaha pembuatan taman bernama Garden Design. Sayang, usaha itu tidak berjalan mulus. “Pernah saya menggabungkan dua ranah desain, interior dan taman, dalam satu konsep, yakni Landspace, tapi tak membuahkan hasil,” katanya.

Kini, guna menghadapi persaingan yang kian ketat, Wandy menawarkan jasa dari hulu hingga hilir, yakni mulai dari desain hingga konstruksi, menggunakan SDM-nya sendiri. Dengan begitu, ia mengatakan, tidak ada salah persepsi antara desainer, kontraktor, dan klien. Ia dibantu sekitar 26 orang: 11 orang tenaga officer dan sisanya tenaga produksi.

Walau saat ini tidak memiliki offline showroom, Interlook sudah memfasilitasi semacam showroom yang berformat virtual reality (VR). Dengan adanya showroom virtual ini, semua orang dapat dengan mudah melihat proyek dan produk yang dikerjakannya. “Target ke depannya kami akan terus memperbarui fitur-fitur digital untuk memberikan kemudahan bagi klien-klien kami,” ujarnya.

Untuk lebih mengibarkan bendera Interlook, Wandy aktif sebagai peserta pameran di beberapa event ekspo. Interlook juga menjalin kemitraan dengan beberapa merek furnitur dan home decor untuk membantu dalam hal penjualan di akun Interlook. “Bisa dibilang, ini proyek kolaborasi agar saling memberi leverage satu sama lain,” ungkapnya.

Marsha Hanian, salah satu klien Interlook, menyebut keunggulan Interlook yaitu mematok tarif yang sangat terjangkau tetapi dengan kualitas memadai. Dalam satu paket yang ditawarkan, kata Marsha, klien sudah mendapatkan gambar kerja dengan puluhan gambar detail, gambar tiga dimensi, video tiga dimensi interior rumah, perhitungan biaya membangun, hingga beberapa panduan. “Belum pernah saya melihat ada desain bagus dengan harga semurah ini,” katanya dengan nada puas.

Reportase: Akbar Kemas

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)