Jalan Sunyi Raih Mimpi Kopi Tuli

Putri Sampaguita Santoso, founder & owner kedai Kopi Tuli (Koptul)
Putri Sampaguita Santoso, founder & owner kedai Kopi Tuli (Koptul)

Siapa bilang jaringan internet gratis adalah satu-satunya daya tarik warung kopi yang bertebaran saat ini? Kopi Tuli, kedai kopi yang didirikan dan dijalankan para tuna rungu, membuktikan bahwa tanpa menyediakan jaringan internet gratis pun, warung kopi dapat menarik pengunjung. Justru karena tidak terpapar jaringan internet, pengunjung banyak yang berinteraksi dengan pengunjung lain, juga dengan barista dan pramusaji. Suasana seperti ini rupanya mulai didambakan banyak tamu. Kembali seperti di zaman dulu, pengunjung dapat berkomunikasi dengan barista atau pengunjung lain, di samping menikmati rasa kopi yang disajikan.

Putri Sampaguita Santoso (28 tahun) bersama dua temannya, Adhika Prakoso (27 tahun) dan Trierwinsyah (28 tahun), sengaja mendirikan kedai Kopi Tuli (Koptul) karena sebagai penderita tuna rungu, Putri mengaku berkali-kali kecewa, melamar ratusan perusahaan dan ditolak semua. Padahal, sebagai lulusan DKV Binus, Putri merasa mampu dan bisa bekerja selayaknya orang biasa. “Saya ingin jadi wanita karier. Tapi karena saya tuli, saya tidak diterima di perusahaan mana pun,” ungkap Putri, kecewa.

Demi mengisi waktu, Putri sempat membangun yayasan pelatihan untuk teman tuli, yaitu Yayasan Sampaguita. Di yayasan ini ia memberikan pelatihan untuk penyandang tuli berupa pelatihan tata boga, menjahit, membuat dompet kulit dan tas, hingga melukis di gelas. “Sejauh ini sudah ada 700 teman disabilitas tuli yang kami latih dengan harapan mereka tidak mengalami hal yang sama seperti saya,” katanya.

Suatu hari, Andhika menghubungi Putri mengajak berbisnis. “Saya tanya apa hobinya. Ternyata, dia suka kopi,” cerita Putri tentang kejadian dua tahun lalu itu. Menurutnya, bisnis yang dijalankan berdasarkan hobi pasti tidak akan membuat bosan. “Kebetulan, Adhika hobi ngopi sehingga kami memutuskan mendirikan Koptul pada 2018 di garasi rumah temannya di kawasan Depok. Tak sampai setahun, sekitar Oktober 2018, gerai bertambah di Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Bagi Putri, pilihan membuka kedai kopi bukan sekadar mengikuti tren. Menurutnya, kopi merupakan media komunikasi. Biasanya, orang-orang ngopi sambil mengobrol. “Nah, kami berusaha membangun sebuah ruang yang bisa menjembatani orang-orang dengan penyandang tuli. Kami ingin penyandang tuli bisa berkomunikasi secara normal dengan orang-orang lainnya. Nah, disini lah value-nya, yaitu menjadikan kedai kopi sebagai ruang interaksi teman dengar dan teman tuli. Selain itu, supaya masyarakat lebih aware bahwa penyandang tuli juga bisa membangun bisnis,” paparnya.

Diberi nama Kopi Tuli, menurut Putri, bukan bermaksud mengolok-olok atau agar dikasihani, melainkan sebagai identitas para pendirinya. “Saya dan teman-teman juga ingin memberitahu masyarakat bahwa tuli bukanlah halangan untuk berkarya,” ujarnya bangga. Bahkan, di gelas kemasan Koptul pun ada alfabet dalam bahasa isyarat. “Ini juga pembelajaran bagi masyarakat tentang cara berkomunikasi dengan teman tuli,” lanjutnya. Putri pun senang karena dalam sehari, Koptul bisa menjual 150-200 gelas kopi di tiap gerainya.

Kini, Koptul tidak hanya menyediakan kopi dan pembelajaran bahasa isyarat. Koptul akan mempersiapkan program pelatihan barista, bahkan berencana memperbanyak penggunaan jenis kopi di rumah kopi mereka. Selain itu, Koptul juga sengaja memberdayakan teman- teman disabilitas tuli untuk bisa produktif. Para pendirinya juga tengah menghadirkan inovasi dengan memadukan kopi dengan buah. Di antaranya, Kopi Siput (Si Putri) yg memadukan kopi dengan alpukat, kopi marmer hitam, dan kopi arang dengan susu. “Pasokan kopinya banyak diambil dari Papua dan Ciwidey. Harganya di kisaran Rp 20 ribu per gelas,” ujar Putri bangga.

Ke depan, pihaknya telah merancang program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Program jangka pendeknya adalah menyosialisasikan bahasa isyarat ke sekolah-sekolah. Untuk jangka menengah, akan membangun lebih banyak lagi gerai Koptul, terutama di Jabodetabek, dengan prioritas memberdayakan teman tuli. Untuk jangka panjang, memiliki rumah produksi sendiri. “Rumah produksi ini nantinya selain memproduksi bahan baku untuk makanan dan minuman Koptul, juga akan menjadi wadah pelatihan untuk teman tuli agar menjadi SDM yang bisa dipekerjakan,” Putri menjelaskan. Rencananya, Koptul juga akan membangun bakery.

Bagi Putri, Koptul menjadi tempat mewujudkan impiannya untuk berkarya sekaligus berguna bagi sesama tuna rungu. Kini, ia sudah merancang membuka 1.000 gerai Koptul supaya bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja disabilitas. Satu gerai Koptul bisa mempekerjakan empat teman tuli, maka kalau ada 1.000 gerai, pihaknya bisa menyerap 4.000 teman tuli. ”Koptul juga sudah menjadi PT, yaitu PT Biru Alam Internusa,” Putri menambahkan.

Harapan yang sama datang dari salah seorang pelanggan Koptul, Iqbal. Sebagai pelanggan setia, ia berharap ada banyak kedai Koptul yang muncul. Karena, kedai semacam Koptul menjadi oase di tengah maraknya kedai-kedai kopi sejenis. “Di sini, tempat yang menyatukan teman dengar dan teman tuli. Tiap ngopi di sini juga saya merasa kekeluargaannya amat terasa,” katanya. “Kalau di tempat lain, orang yang ngopi pasti akan fokus pada urusan masing-masing. Tapi di Koptul, pengunjung akan diajak mengobrol dan berbaur satu sama lain. Pegawai dan founder juga saling berbaur,” lanjut Iqbal yang menyukai identitas yang paling melekat di Koptul: penggunaan bahasa isyarat. (*)

Dyah Hasto Palupi/Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)