Jalur Cepat Flock

Dalam setahun terakhir, pelaku bisnis periklanan tentu mengamati perkembangan bisnis biro iklan Flock yang merangsek cepat. Tak kurang dari 16 klien besar sudah berhasil direngkuhnya, termasuk Tokopedia dan Djarum yang menjadi pembelanja iklan besar. Baru didirikan Juli 2016, karyawannya tak kurang dari 42 orang yang terdiri dari orang-orang kreatif muda usia.

Ivan Hadywibowo & teamFlock didirikan Ivan Hadywibowo (CEO) dan Erwin Santoso (creative partner) yang sebelumnya sama-sama bekerja di perusahaan periklanan multinasional, JWT Thompson. Pendirian Flock didorong kegelisahan dua pendiri itu terhadap praktik pengelolaan perusahaan periklanan, yakni model bisnis yang tidak bisa di-scale up. Ketika ada order, biasanya menambah banyak orang, dan saat sepi order, SDM dikurangi. Pola pikir pengajar sangat jangka pendek. “Dari situ kami berpikir kalau bikin agensi, harus bisa di-scale up. Caranya, tidak dikerjakan semuanya sendiri. Makanya, kami namai Flock, artinya kawanan atau perkumpulan yang pergi bersama-sama,” Ivan mengisahkan.

Setelah Flock terbentuk, keduanya mengawali dengan mendirikan unit bisnis Kokako yang fokus sebagai production house untuk konten digital. Tiga bulan kemudian, dilanjutkan dengan membangun Paleo, unit bisnis yang khusus sebagai social media agency. “Sambil berjalan mengembangkan divisi bisnis, kami jualan. Klien pertama kami Tokopedia, kedua Djarum. Setelah itu, klien-klien lain mulai masuk,” katanya. Untuk klien Tokopedia, misalnya, Flock membuat kampanye dengan pendekatan holistik: konten digital, TV commercial, billboard, dan semua strategi komunikasinya.

Setelah Kakako dan Paleo, mereka kemudian juga mendirikan divisi OU (design agency) dan Finch. Finch dibentuk untuk mengelola klien yang bersinggungan atau berada di industri yang sama --ada kalanya sebuah biro iklan memang punya dua klien di bisnis yang sama pada saat yang bersamaan. Maka, agar tidak terjadi konflik dan semua terlayani baik, dibuat tim dan unit yang berbeda untuk menanganinya. Selain sebagai nama creative company, Flock juga merupakan divisi yang bertugas mengelola klien periklanan above the line (ATL).

Rahasia pertumbuhan bisnisnya yang cepat: Flock lebih suka mengambil talent yang sudah jadi untuk memperkuat tim, bukan yang masih junior. “Kami ambil kepalanya dulu, kakinya belakangan. Memang investasi yang lumayan besar. Tapi, so far it works. Kami bisa speed up reputation,” Ivan menceritakan rahasianya. Jangan heran, di Flock sudah bergabung nama-nama senior seperti Leonard Wiguna (creative partner), Yerry Indrajaya (chief creative officer), Jeffrey Nijstad (chief digital officer), dan Reza Fitriano (business director). Tak bisa dimungkiri, Flock bisa melakukan hal itu karena memang sudah mendapatkan suntikan modal dari East Ventures (pemodal ventura) pada Agustus 2016.

Untuk penetrasi pasar, sambung Reza Fitriano, Direktur Bisnis Flock, pihaknya mengandalkan strategi word of mouth karena timnya memang sudah punya jejaring dan pengalaman. “Kami tidak melakukan banyak kegiatan marketing. Hasil kerja kami menjadi marketing kami. Dunia kreatif dan advertising ini kecil, people talk, klien akan ikut,” tambah Jeffrey Nijstad. Kumpulan anak muda ini yakin, sukses industri kreatif sangat dipengaruhi reputasi orang-orang di belakangnya. Klien Flock saat ini antara lain Djarum, Tokopedia, Bebelac, Futuready, Alfamart, Ichitan, Sharp, Teh Botol Sosro, Warner Music, Jenius, dan Slim Fit.

Kini mereka yakin, dengan topangan sekumpulan talent yang memiliki kelebihan masing-masing, Flock bisa menawarkan layanan holistik di bawah satu atap. Dan ke depan, mereka punya satu ambisi: membuat produk yang bisa dinikmati konsumen massal. “Kami sudah mulai dengan OU Magazine, majalah khusus untuk anak-anak milenial yang suka pada desain dan kultur,” katanya. (*)

Sudarmadi & Herning Banirestu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)