Jemi Ngadiono, Anak Petani yang Menggaungkan Komunitas 1.000 Guru

Pil pahit dialami Jemi Ngadiono, pendiri Komunitas 1.000 Guru, lantaran terpaksa putus sekolah. Penyebabnya, kondisi perekonomian keluarganya yang pas-pasan. Orang tuanya berprofesi sebagai petani. Jemi pun terpaksa bekerja serabutan demi bisa melanjutkan pendidikannya. Ia menyisihkan penghasilannya agar bisa membiayai sekolahnya di SMK 24 Jakarta Timur, dan merampungkan kuliahnya tahun 2008 di Jurusan Penyiaran, Bina Sarana Informatika, Tangerang Banten. Kini, Jemi menjelma sebagai social entrepreneur karena menggaungkan kepedulian sosial sambil piknik (traveling) ke sekolah di daerah pedalaman.

Jemi NgadionoSekadar kilas balik, Jemi mendirikan Komunitas 1.000 Guru ketika masih kuliah. Waktu itu ia sudah bekerja di salah satu media elektronik. Tugasnya merekam gambar dari aneka peristiwa yang terjadi di daerah pedalaman. “Saya melihat kondisi sekolah di daerah pedalaman memprihatinkan, dan muridnya tidak memakai sepatu,” ia menceritakan. Hal itu membangkitkan tekadnya untuk berkontribusi nyata bagi dunia pendidikan. Lalu, dia membuat akun Twitter @1000_guru pada Agustus 2012.

Ia acap kali mengunggah kegiatannya serta foto-foto yang menggambarkan kondisi dan para murid di daerah terpencil yang dikunjunginya ke akun Twitter-nya itu. “Saya tidak menyangka kalau responsnya cukup baik. Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah follower-nya mencapai 30 ribu,” ungkapnya. Kebanyakan pengikut akunnya itu ingin turut serta dalam kegiatan yang dilakoni Jemi. Berangkat dari hal itu, ia lalu mencetuskan Komunitas 1.000 Guru yang dideklarasikan pada November 2013. Komunitas ini, Jemi menjelaskan, tidak terafiliasi dengan lembaga pemerintah. Aktivitasnya adalah mengajak peserta menjelajahi (open trip) wilayah terpencil yang berlangsung selama tiga hari (Jumat-Minggu).

Jemi memulai kegiatannya tahun 2013 dengan menyusuri daerah pedalaman di Rangkasbitung, Banten. Pesertanya hanya 9 orang (sukarelawan). Selanjutnya, jumlahnya membengkak lantaran tingginya minat masyarakat. Agenda kegiatannya: mengunjungi berbagai objek wisata ala backpacker. Tak hanya itu, dia menyelipkan kegiatan sosial karena peserta diharuskan mengajar para murid sekolah atau memberikan bantuan untuk memperbaiki bangunan sekolah atau memberikan alat-alat tulis. Jemi menamakan programnya itu Traveling and Teaching (TnT). “Kini, progam TnT berlangsung setiap bulan di daerah terpencil. Kami sudah memiliki 38 cabang regional di 30 provinsi,” ujarnya. Jakarta menjadi pusat komando Komunitas 1.000 Guru, sementara cabangnya beroperasi di sejumlah wilayah, antara lain Bengkulu, Bandung, Kupang, Makassar dan Samarinda.

Jadi, lanjut Jemi, masing-masing cabang mengadakan open trip TnT setiap bulannya ke desa terpencil. Biasanya, kegiatan peserta di hari Sabtu memberikan materi pelajaran di sekolah. “Materi ajarnya ringan, yakni mengenai ilmu dasar seperti geografi, biologi dan sebagainya,” ungkapnya. Adapun aktivitas di hari Minggu mengunjungi destinasi wisata. Alih-alih menginap di hotel, para peserta menumpang di rumah warga. Tujuannya, menjalin ikatan emosional antara sukarelawan dan warga setempat. Porsi aktivitas mengajar disesuaikan dengan kondisi di suatu daerah. Kegiatan mengajar mencapai 60% apabila jumlah lokasi wisatanya tidak banyak, sedangkan kegiatan jalan-jalan 40%. Sebaliknya, durasi untuk jalan-jalan akan lebih dominan apabila jumlah objek wisatanya lebih banyak.

Lantas, berapa tarif yang dipatok setiap kali perjalanan? “Tarifnya tergantung wilayahnya, rata-rata berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per orang,” tutur pria kelahiran Tulang Bawang, Lampung, 11 Mei 1984 ini. Sebagian dana digunakan untuk kebutuhan peserta, di antaranya untuk konsumsi, kaus dan sepatu. “Sisanya yang sekitar 26% digunakan untuk donasi ke sekolah. Inilah uniknya perjalanan TnT,” tutur Jemi.

Selain traveling, komunitasnya juga menyediakan program beasiswa guru pedalaman dan kampanye moral bertajuk Hormati Gurumu. Beasiswa diberikan kepada para guru lulusan SMA atau sederajat. Agar tepat sasaran, Jemi dan timnya terjun langsung untuk menghimpun informasi mengenai guru atau sekolah yang layak mendapat bantuan. “Kami sudah memberikan beasiswa kepada empat guru di daerah pedalaman,” katanya.

Rhenald Kasali, pengamat kewirausahaan, menyarankan pengelola Komunitas 1.000 Guru harus selektif menjaring peserta yang akan menjadi guru. “Jika tujuannya untuk pendidikan, harus selektif memilih gurunya karena seorang guru harus berintegritas,” kata Rhenald. Jemi menambahkan, peserta TnT berasal dari berbagai latar belakang profesi, semisal dokter, karyawan swasta, guru dan mahasiswa. “Namun, peserta yang kami fokuskan adalah peserta yang peduli masa depan pendidikan anak-anak,” ia menegaskan.

Ke depan, Jemi berencana mendirikan yayasan sebagai payung hukum bagi komunitasnya. “Kami mengurus prosedur administrasinya sejak Januari kemarin. Kalau yayasan ini sudah beroperasi, kami ingin memberikan bantuan untuk anak-anak di Nusa Tenggara Timur selama 12 bulan,” ungkap Jemi. Setiap bulan, Jemi bakal memberikan bantuan sebanyak 16 kali. Dia mengimpikan pendidikan yang layak bisa dinikmati oleh anak-anak di daerah pelosok dan guru semakin sejahtera.

Rhenald merespons positif kegiatan sosial yang dirintis oleh generasi muda seperti Jemi ini. “Kita harus mengapresiasinya,” ia menandaskan. Rhenald menganjurkan Jemi untuk menjelaskan misi komunitasnya itu sebagai kegiatan sosial atau unit bisnis. “Saya juga menyarankan peserta menghormati kearifan lokal di daerah-daerah dan mempelajari nilai-nilai budayanya,” ujar Rhenald.

Syukron Ali & Vicky Rachman

Riset: Yulia Pangastuti

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)