Jurus Brian Marshal Lejitkan Sirclo

Acungan jempol layak diarahkan ke Brian Marshal atas keberanian dan kejeliannya dalam membangun startup bisnis Sirclo. Digitalpreneur yang baru genap berusia 30 tahun ini sudah mampu mempekerjakan 240 karyawan full time plus 100 karyawan lepas. Padahal tahun 2013, ketika memulai merintis Sirclo dari kamar kosnya, ia hanya dibantu lima karyawan. Pesatnya perkembangan bisnis Sirclo inilah yang memacu Brian untuk menampung banyak karyawan di perusahaannya.

Brian mendirikan Sirclo sebagai sebuah platform e-commerce untuk membantu pihak lain berjualan. “Ide awalnya, saya ingin mendirikan perusahaan yang membantu UKM, konsepnya seperti blog atau Wordpress tapi bisa untuk jualan online,” kata Brian yang mulai mendirikan Sirclo setelah dua tahun bekerja sebagai analis data di PWC Singapura.

Tahun 2013, ia melihat banyak temannya dan pebisnis di Indonesia ingin ikut jualan online tetapi belum punya tempat (online) yang baik. Pemilik UKM dan brand lokal yang sudah aktif berjualan di Facebook dan Blackberry ingin mereknya lebih kredibel dan punya web sendiri, tetapi terkendala biaya pembuatan yang mencapai Rp 20 juta-30 juta plus memakan waktu tiga bulan. “Karena itu, kami bantu membuatnya, bukan sekadar website perusahaan tapi bisa menjadi kanal jualan,” kata lulusan NTU Singapura yang memutuskan balik ke Jakarta tahun 2013 ini.

Brian lalu mengembangkan konsep pengelolaan toko online untuk brand dengan charge biaya bulanan. Nama layanannya, Sirclo Store. Di dalamnya ada platform: atur toko, desain sendiri tinggal pilih, dengan biaya per bulan mulai dari Rp 250 ribu. “Hanya dalam hitungan menit bisa menjadi satu website brand. Tidak ada biaya awal, inilah yang menarik,” katanya. Tak mengherankan, layanan ini berkembang pesat, dari 2014 hingga 2016 Sirclo tumbuh cepat menjadi platform lokal papan atas yang menawarkan layanan website khusus untuk perusahaan/brand.

Sirclo Store memiliki klien hingga 1.000 merek lokal. Rahasia pertumbuhannya, Sirclo menggandeng merek populer seperti Wacoal, Nissan, Kellogg’s, dan Minimal, serta pebisnis online dari kalangan selebritas, antara lain merek Luna Habit milik Luna Maya dan RA Jeans-nya Raffi Ahmad.

Setelah layanan Sirclo Store berjalan baik, Brian mulai melihat ceruk layanan lain. Seiring dengan makin banyaknya marketplace, tak sedikit merek yang ingin bisa menjual produknya di banyak kanal. Namun, mereka harus repot mengunggah barang dan meng-update stoknya berulang-ulang di banyak kanal. Dari situ Brian lalu tertarik dengan ide bisnis seperti yang dilakukan HootSuite, layanan manajemen konten, jika pemilik akun meng-update status di Facebook, otomatis ter-update juga ke Twitter dan Instagram. Hal yang sama juga ingin ia terapkan pada di layanan website klien-kliennya. Karena itu, Brian kemudian meluncurkan layanan Sirclo Commerce pada 2017.

Layanan Sirclo Commerce ini bersifat end to end, mulai dari membuat toko online, konten, stok, mengelola order, produk fisik hingga ordernya, hingga packing lalu siap dikirim. Bahkan, live chat pun mengelola Sirclo Commerce,” kata Brian. Ia menyebutkan, banyak brand besar yang tertarik menjadi klien Sirclo Commerce, antara lain Kao (semua merek), Reckitt Benckiser (Detol, Durex), Levis, Eiger, Bodypack, Exsport, Casio, G-Shoc, dan Baby G. Total ada 30-an klien untuk layanan ini. “Kami fokuskan untuk brand besar karena perusahaan besar banyak yang tidak agile sehingga perlu jasa kami,” papar pria yang jatuh cinta pada dunia teknologi informasi sejak masih SMA ini.

Yang pasti, Brian sudah bisa memonetisasi dari pertumbuhan bisnisnya ini. “Kami dapat uang dari biaya bulanan plus margin (persentase) untuk jualan. Hitungan biayanya fleksibel, bisa saja di awal layanan jasa kami dapat dari persenan jualan saja, tidak ada biaya bulanan, atau pola lain,” ungkapnya. Tanpa memerinci angkanya, ia menyebut minimal pertumbuhan pendapatannya dua kali lipat per tahun. “Pada 2018 pendapatan kami terdorong dari Sirclo Commerce, naik empat kali lipat,” ujarnya. Sebuah sumber menyatakan, tahun 2018, jumlah transaksi melalui Sirclo sudah menyentuh Rp 500 miliar. Tentu saja, ini prestasi mengingat ketika mendirikan usaha ini Brian hanya bermodal Rp 200-an juta.

Pesatnya perkembangan bisnis ini juga tecermin dari jumlah karyawannya yang mencapai 240 orang (full time) --100 orang di kantor pusat dan 100 orang di gudang, sisanya tersebar di cabang: Yogyakarta, Bandung, dan Surabaya. Selain itu, Sirclo juga mempekerjakan karyawan tidak tetap sebanyak 50-100 orang. Sirclo yang kini sudah menjadi partner Google Cloud ini juga terus berinvestasi dengan mengembangkan gudang (walau sewa) di sejumlah kota dan membangun teknologi. “Kami harus membangun hub-hub kecil di berbagai tempat guna memberikan layanan terbaik bagi brand. Targetnya, di tiap ibukota provinsi akan kami buka hub-hub baru,” katanya.

Kunci keberhasilan bisnisnya, menurut Brian, ada pada solusi layanan yang diberikan Sirclo. “Ini layanannya end to end, biayanya terjangkau, dan timnya dedicated untuk tiap brand,” katanya. Kunci sukses lainnya, kekuatan jejaring. Karena jejaring pula, begitu bisnisnya mulai terlihat berkembang dan prospektif, ia mendapatkan pendanaan dari East Ventures, Sinarmas Land, dan sejumlah investor lain. Hingga kini Sirclo telah memperoleh pendanaan tak kurang dari US$ 5 juta. Ya, tak salah bila banyak praktisi mengatakan, “In business, networking is almost everything.” Bagaimana dengan bisnis Anda? (*)

Sudarmadi & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)