Jurus Zaki Falimbany Kibarkan Software Codemi

Zaki Falimbany, Founder Codemi
Zaki Falimbany, Founder Codemi

Ketatnya persaingan tak menciutkan nyali Zaki Falimbany untuk mengembangkan bisnis penyedia jasa learning management system (LMS). Pada 2014, Zaki mulai merintis bisnis software pembelajaran bernama Codemi, yang dijalankan dengan sistim cloud. Ternyata, optimismenya tak bertepuk sebelah tangan. Pengguna sofware berbasis SaaS (Software as a Service) ini terus tumbuh cepat dan kini sudah mencapai lebih dari 2 juta user. Sederet perusahaan besar berhasil digaet menjadi klien PT Codemi Global yang dibangun Zaki yang kini mempekerjakan 30-an karyawan.

Kelahiran Palembang, 22 Januari 1986, ini memang punya latarbelakang pendidikan bidang teknologi informasi. Dia sempat merasakan kuliah di Jurusan Teknik Informatika AMIKOM Yogyakarta, tetapi tidak sampai lulus. Pada semester-semester akhir, tugas skripsinya terbengkalai karena dia sudah coba-coba berbisnis. Dia sempat kerja paruh waktu, pernah pula mencoba membuka usaha clothing. Lalu, dia membuka bisnis software house. Bisnis ini rupanya jalan dan pada 2010, karena banyak permintaan di Jakarta, akhirnya dia memindahkan usaha ke Ibu Kota.

Di Jakarta, tahun 2013 Zaki sempat bertemu dan dimentori tim Founder Institute guna mengembangkan startup Codemi. Namun apa daya, dia kemudian berbeda pandangan dengan para mentornya di Founder Institute. Waktu itu semua mentor tidak setuju dengan model bisnis menjual konten software alias aksesnya mesti free. Tak mengherankan, bisnis Codemi saat itu seperti open online course, semua orang bisa mengajar dan belajar di situ. “Tapi saya pikir, kalau semua gratis, kami tidak bisa make money dong,” kata Zaki. Alhasil, usaha tersebut pada 2014 dia tutup dan di akhir tahun itu dia ganti konsep bisnisnya. “Kami ubah dari open online course menjadi LMS. Kami menyewakan software Codemi ini ke perusahaan-perusahaan supaya perusahaan bisa mengelola training untuk karyawannya,” kata Zaki dengan penuh keyakinan.

Banyak kawan Zaki yang saat itu skeptis dengan model bisnis dan masa depan Codemi. Namun, Zaki yakin. Dia lalu mengontak 30 HR di Jakarta dan mewawancarai mereka satu per satu. Ternyata dari semua yang dia temui, baru satu perusahaan yang sudah punya LMS, itu pun LMS dari perusahaan induknya karena merupakan perusahaan Inggris. “Tiga bulan setelah itu, saya mulai berani menyewakan Codemi. Market-nya masih sangat luas di Indonesia dan harga dari kompetitor luar biasa mahal. Kami tawarkan produk sama dengan harga yang kompetitif dan dibuat di Indonesia, jadi support-nya lumayan cepat,” ungkapnya.

Model bisnis Codemi ialah SaaS, pihak perusahaan penyewa membayar sesuai dengan penggunaan. Pihaknya sudah membuat aplikasinya, ditempatkan di cloud. Begitu ada karyawan A yang login, logonya akan berubah jadi logo perusahaan A.

Nah, untuk mendapatkan pelanggan, Zaki menelepon dan mendatangi satu per satu calon pelanggannya seraya menawarkan pilot project. Dalam mencari pelanggan, dia fokus menggarap perusahaan besar yang punya karyawan di atas 1.000 orang, khususnya di industri jasa finansial seperti perbankan, asuransi, sekuritas, multifinance, serta industri otomotif dan e-commerce. “Karena di perusahaan superbesar itu, tingkat kebutuhannya memang tinggi, urgent. Dari sisi bujet mereka juga sudah punya,” kata pria yang kini sedang menempuh kuliah S-1 online di Jurusan Pemasaran LSPR ini.

Dari sisi konten, Codemi fokus di tiga pengalaman belajar. Pertama, e-learning dan online; belajar sendiri dari video dan pdf. Kedua, belajar formal di dalam kelas. Di sini Codemi bisa mengelola pendaftarannya melalui aplikasi. Sistemnya in-house training, jadi perusahaan mengelola classroom training-nya sendiri. Pihaknya juga mulai mengembangkan public training, bekerjasama dengan training provider di Jakarta untuk memasukkan konten training kelasnya di Codemi. Kalau ada karyawan yang mau ikut training, tidak perlu memohon ke HR, tetapi tinggal pilih dari Mobile Apps. Ketiga, collaborative learning atau learning from others. “Di perusahaan besar, banyak karyawannya itu yang ahli di bidang tertentu, nah Codemi bisa mempertemukan orang yang mau belajar sesuatu di perusahaan ke expert-nya masing-masing di internal perusahaan melalui sistem,” katanya.

Zaki bersyukur karena pertumbuhan bisnisnya dalam empat tahun ini cukup ajaib. “Tahun 2017-2018 lonjakan user hampir 10 kali lipat, yakni sudah mencapai 2 juta user,” katanya. Menurutnya, cepatnya pertumbuhan ini, selain karena kerja keras tim, juga faktor dukungan ekosistem yang sudah siap. “Ekosistemnya terbantu oleh perusahaan-perusahaan cloud provider seperti Google, Amazon, dan Alibaba yang aktif mengedukasi market tentang cloud. Saat kami dekati tahun 2015, market masih banyak yang belum siap,” ungkapnya.

Tahun depan pihaknya mulai menggarap segmen perusahaan skala medium dan mengembangkan produknya dengan menggandeng para trainer di seputar Jakarta untuk membuat video training pembelajaran. Kini pihaknya sudah punya 60 video dan menargetkan punya 150 video.

Djoko Kurniawan, pemerhati bisnis startup, melihat Codemi punya potensi bagus untuk berkembang. “Hal yang perlu dilakukan agar bisnis Codemi bisa sustain yaitu meningkatkan brand awareness, terus-menerus melakukan edukasi market, memperbanyak customer segment, memperluas key partner, dan terus meningkatkan hubungan baik dengan customer dengan memberikan sistem support yang mudah,” kata Djoko menyarankan. Codemi juga mesti terus menambah konten online training bekerjasama dengan lebih banyak konsultan/mentor bisnis, selain harus terus mengembangkan programmer internalnya guna mendukung pertumbuhan. (*)

Sudarmadi & Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)