Kewirausahaan di Balik Software Pendidikan QuintalQuintal

Danny Saksono, CEO dan Co-Founder Quintal
Danny Saksono, CEO dan Co-Founder Quintal

Tren otomasi di berbagai aktivitas kehidupan manusia modern memang menjadi peluang bisnis tersendiri bagi mereka yang jeli melihatnya. Tak terkecuali di bidang pengelolaan sekolah. Peluang itu antara lain ditangkap oleh Danny Saksono dan Henry Fausta, pada awal 2015, dengan mengembangkan software Quintal untuk membantu para pengelola sekolah di bidang administrasi akademik dan kesiswaan. Kini pengguna Quintal tak kurang dari 90 sekolah dan 25 yayasan, dan mencakup 17.000 siswa –80 persen pengguna berada di Jabodetabek.

Usaha ini mulai dirintis pada 2015 awal ketika Danny masih bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan di Singapura. Saat itu ia memang serius mencari ide untuk punya usaha sendiri. Dari sana terpikir untuk menggarap software pendidikan.

Idenya, agar suatu hari, guru-guru dan murid di Indonesia menggunakan teknologi. Mereka hanya perlu ke sekolah membawa satu komputer tablet saja, seperti saat kita kuliah,” kata Danny. Dari situ ia mengajak kawan-kawannya yang bekerja di beberapa negara, antara lain di Malaysia dan Australia. “Jadi, awalnya kami semua programmer, tidak ada orang bisnis dan marketing,” ungkap lulusan Jurusan Ilmu Komputer, University of New South Wales (Australia) ini.

Software Quintal pada dasarnya sebuah patform untuk membantu sekolah dalam mengurusi administrasi akademik dan kesiswaan. Umumnya, sekolah selalu direpotkan dalam menjalankan administrasi pendidikan karena banyak paperwork, baik terkait siswa, kurikulum, uang sekolah, tes dan ulangan, maupun pelaporan ke dinas.

Kalangan guru, selain pusing karena urusan pendidikan, juga harus menangani administrasi. “Ini salah satu masalah yang ingin kami solve,” kata Danny yang menjadi CEO dan Co-Founder Quintal. Ia memberi contoh ulangan online: dengan Quintal, sekarang guru tak perlu lagi mengoreksi ulangan karena siswa mengerjakannya lewat komputer atau tablet. Otomatis nilai langsung tersimpan oleh sistem dan langsung masuk ke buku nilai.

Kelahiran Jakarta 17 September 1986 ini bercerita, selama tujuh bulan pertama merintis usaha, pihaknya fokus mengembangkan software. “Kami lakukan riset dan interview ke guru-guru untuk membuat produk,” katanya mengenang. Otomatis timnya juga mulai belajar tentang kurikulum di Indonesia, berbagai problem guru dan siswa, serta kebutuhan orang tua siswa.

Dalam lima bulan pertama menjual produk, pihaknya berhasil mendapatkan klien tiga sekolah. Danny mengakui, tak mudah menawarkan software pendidikan ini ke para pengelola sekolah. “Mesti ke sekolah-sekolah yang benar-benar butuh dan mau bayar,” ujarnya.

Salah satu cara untuk memudahkan pemasarannya, Quintal ditawarkan dengan pola Software as a Service (SaaS). Artinya, pengguna hanya membayar berdasarkan penggunaan dan tidak perlu investasi besar di awal, alias model langganan.

Untuk mempercepat penjualan, awalnya dicoba merekrut tim penjualan di Jakarta ataupun daerah. Namun, pola itu rupanya tak cocok dan hasilnya tak sepadan dengan biaya. Hubungan kerjasama dengan sekolah pun tidak sustainable. “Akhirnya, kami ubah hingga sekarang, jualan dengan cara bekerjasama dengan partner yang memang biasa menjual produk ke sekolah. Contohnya, menggandeng PesonaEdu dan pihak-pihak lain yang sudah terbiasa jualan ke sekolah, misalnya berjualan buku atau pelatihan. Mereka kami kasih sharing reveneu,” ungkap Danny. Yang pasti, penjualan menjadi lebih lancar setelah caranya diganti.

Danny menjelaskan, salah satu diferensiasi Quintal, selain produknya bisa costumized sesuai dengan kebutuhan sekolah, pihaknya juga menjaga kepuasan pelanggan. “Sekolah bayar langganan penggunaan dan kami tidak akan tinggalkan mereka,” ujarnya. Pihaknya juga terus melakukan inovasi agar produknya selalu fresh dan update. “Untuk biaya langganan, harga paket full ritel Rp 2 juta per unit (misalnya per SD atau SMP) plus Rp 15 ribu per anak per bulan,” katanya.

Diakui Danny, dari 90 sekolah penggunanya saat ini, kebanyakan memang sekolah swasta dari segmen kelas menengah-atas --milik pengusaha swasta dan yayasan. “Mungkin ini lebih ke cara pembelian, kalau sekolah swasta lebih simpel. Di sekolah swasta, urusan pembelian ini otonomi dari yayasan, bahkan kadang kepala sekolah saja sudah cukup. Kalau sekolah negeri, agak beda,” katanya. Urusan pembelian di sekolah negeri lebih kompleks, apalagi yang sifatnya subskripsi atau langganan, terkadang mesti melalui APBD. Namun, Danny dan timnya tetap terus mencoba menggarap sekolah negeri pelan-pelan.

Danny dan timnya merasa pertumbuhan usahanya sudah on track. Kini anggota tim Quintal tak kurang dari 15 orang. Ia ingat, awalnya timnya tidak terima gaji pada delapan bulan pertama berdiri. Waktu itu bisa jalan karena ia dan teman-temannya pada posisi pernah bekerja sehingga punya tabungan. Namun setelah bisnisnya mulai mendapatkan revenue ratusan juga per bulan seperti saat ini dan mendapat pendanaan dari East Venture tahun 2016 (US$ 200 ribu), timnya pun lebih lengkap dan ia bisa menggaji mereka dengan baik.

Ke depan, selain memperkuat pemasaran ke sekolah swasta, Quintal akan lebih intens melakukan pendekatan ke dinas di daerah sebagai kanal untuk mengenalkan Quintal. “Target tahun ini kami bisa masuk ke public school di daerah-daerah,” kata pria yang pernah berkarier sebagai Analis Sistem Senior di Mobile Xperience Ple. Ltd. ini.

Pihaknya juga akan menggodok proses digitalisasi buku dengan penerbit. Danny yakin produknya akan makin diminati karena bagi sekolah, kehadiran Quintal pasti menjadikan manajemen sekolah lebih efisien. Selain itu, juga menjadi nilai tambah pemasaran karena berarti proses manajemen dan administrasi di sekolah itu sudah modern dan terotomasi. (*)

Sudarmadi & Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)