Kiat Aditya Triantoro Orbitkan The Little Giantz

Aditya Triantoro, CEO dan Co-Founder The Little Giantz

Takjub menonton film Jurassic Park di bioskop tahun 1993, Aditya Triantoro yang saat itu berusia sembilan tahun tidak percaya bahwa komputer bisa digunakan untuk membuat animasi. Melihat kecanggihan di film itu, sang ayah menjelaskan kepadanya bahwa komputer tidak hanya untuk mengetik dokumen berformat Word/Excel atau bermain aneka game, tetapi juga bisa untuk membuat animasi. “Dari situ saya mulai ada ketertarikan, bahwa computer graphic bisa diaplikasikan secara luas,” kata Aditya mengenang.

Animasi dalam film Jurassic Park itu rupanya sangat membekas dalam dirinya. Hari-hari Aditya selanjutnya diisi dengan kegiatan yang terkait animasi. Apalagi, ia hobi menggambar. Setamat SMA, ia putuskan untuk belajar animasi secara otodidak. Untuk menjajal kemampuannya ini, di tahun 2003 Aditya mengikuti lomba Bubu Awards Web Design dan berhasil menjadi Juara I se-Indonesia. Kemudian, ia merambah bidang animasi. Ini pun ia belajar secara otodidak pula. Hingga sekarang ia konsisten berkiprah di bidang animasi.

Begitulah sepenggal pengalaman Aditya, animator sekaligus CEO dan Co-Founder The Little Giantz. Prinsipnya, setiap individu memiliki bakat dan passion. Apabila seseorang telah menemukan bakat dan passion-nya, yang mesti dilakukan adalah mengembangkannya hingga meraih sukses. “Saya merasa animasi adalah akar saya karena story telling. Jiwa saya ingin menceritakan sebuah cerita,” tutur lelaki kelahiran Jakarta, 25 September 1984, ini.

Salah satu kisah suksesnya di dalam negeri, bahkan jadi milestone selama berkiprah di ranah animasi, adalah menciptakan Nussa, video animasi keluarga bertema islami yang diunggah di YouTube. Nussa Official, demikian nama kanalnya, mengunggah konten kreatif dan edukatif bernuansa islami. Konten video Nussa diunggah pertama kali di YouTube pada 25 Oktober 2018. Kini, jumlah subscriber kanal Nussa Official di YouTube telah mencapai lebih dari 1,8 juta. Dari 21 video yang telah diunggah, kanal Nussa Official telah ditonton lebih dari 111 juta kali.

Aditya mengakui, pasar animasi di Tanah Air sangat menarik. Banyak pemain yang menggarap video bertema keluarga, tetapi tidak sukses karena segmennya belum terbentuk. Terutama, video bertema keluarga islami. Maka, Nussa memberanikan diri untuk membentuk pasarnya. “Kita harus berani ambil konsep yang berbeda dan beraninya lagi, kita membawakan agama. Kita sadar jika kita membawakan agama, ilmu agama kita juga harus hebat,” ia menerangkan.

Menurutnya, populasi Indonesia terbesar adalah pemeluk agam Islam. Sayangnya, jumlah animasi yang menyuguhkan konten islami hanya bisa dihitung dengan jari. Kontennya pun kurang kreatif, sehingga tidak menyedot minat penonton lantaran durasinya cukup panjang, rata-rata lebih dari 10 menit. Kualitas konten pun terabaikan. “Kami think out of the box. Daripada mengejar 11 atau 12 menit, ujung-ujungnya orang hanya menonton satu menit, lebih baik berani tiga menit tapi yakin ditonton sampai akhir. Itu adalah challenge-nya. Kami buat islami karena segmennya Indonesia, kontennya edukatif,” ungkap Aditya.

Nussa tidak ditayangkan di stasiun televisi karena memang konsep awalnya adalah memberi edukasi akhlak islami kepada anak-anak di YouTube. “Kalaupun TV mau tayangkan Nussa, kami tidak di-driver TV, tapi kami yang driver TV,” ia menegaskan. Sebab, kehadiran Nussa merupakan elaborasi The Little Giantz untuk memberikan kontribusi tontonan yang positif bagi anak-anak sebagai calon penerus bangsa.

Aditya sangat berhati-hati dalam membuat konten agar tidak dituding memberi informasi yang salah. Karena itu, ia selalu meminta nasihat kepada Ustaz Felix Siauw dan Ustaz Abdul Somad yang memberikan arahan mengenai konten kreatif berbasis agama ini.

Jadi, di The Little Giantz ada divisi service yang sudah ada sejak tahun 2016 dan ada divisi Nussa yang baru lahir Juli 2018,” katanya. Sebelum menjadi CEO The Little Giantz, ia sempat bekerja di beberapa studio animasi, di antaranya Castle Production, Infinite Frameworks Studios, Sparky Animation, One Animation Pte. Ltd. Singapura, hingga One Indonesia.

Pencapaiannya tidak mudah, lantaran ia tak sempat kuliah karena ketika itu ayahnya sakit. Akhirnya, ia belajar otodidak. Untuk membantu ekonomi keluarga, ia sempat bekerja di resto cepat saji McDonald's dan KFC. Debutnya di bidang animasi terjadi pada 2005 saat bekerja di rumah produksi dengan proyek pertamanya animasi daun jatuh pada iklan Teh Sariwangi.

Singapura menjadi negeri jiran yang paling lama ia tinggali (2008-2015). Di sana ia merintis karier dari bawah di perusahaan One Animation Pte. Ltd. Sewaktu menjabat sebagai kepala departemen di perusahaan ini, ternyata banyak orang Indonesia yang menduduki jabatan sama. Ia melihat orang-orang Indonesia pandai dan sangat dihargai. Dalam benaknya muncul keinginan untuk memajukan industri animasi di Indonesia. Tahun 2016, ia kembali pulang ke Indonesia. Lalu, bersama koleganya mendirikan The Little Giantz. Mereka adalah Yuda Wirafianto (sebagai Chief Financial Officer The Little Giantz), Ricky Manoppo (Chief Operating Officer), dan Bony Wirasmono (Chief Creative Officer).

Bersama tim yang beranggotakan 20 orang, The Little Giantz mulai mengerjakan sejumlah proyek dari berbagai institusi asal Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Finlandia, Denmark, dan Malaysia. Bahkan, 90-95 persen proyek animasi yang digarap berasal dari luar negeri, dengan genre hero yang paling banyak (70 persen), diikuti genre kisah perjalanan dan remaja (teens). “Saat ini The Little Giantz telah mengerjakan project-project yang sudah tayang di Disney Channel, Disney XD, dan Nickelodeon. Dalam project itu, kami berkontribusi semuanya, mulai dari ide, pembentukan karakter, hingga cerita,” Aditya menjelaskan.

Kepedulian Aditya mengembangkan industri animasi dalam negeri melalui suguhan animasi Nussa dinilai oleh pengamat industri kreatif Yorris Sebastian sebagai hal positif yang patut diacungi jempol. Menurut Yoris, ada kecenderungan anak muda Indonesia yang sukses di luar negeri tetap ingin berkarya untuk Indonesia. Salah satunya, The Little Giantz ini. “Tentunya, masih perlu perjuangan. Namun, saya yakin nantinya animasi lokal pasti bisa berjaya di Indonesia,” katanya tandas.

Disinggung soal kanal YouTube untuk tayangan Nussa yang berarti tidak bernilai bisnis, Yorris menyatakan bahwa bisnis ini sebenarnya bermain di Internet Protocol (IP). Jadi, revenue-nya bukan hanya dari Nussa yang di YouTube, melainkan bisa digali dari berbagai hal. Sponsorship, salah satunya. Juga, brand collaboration dalam bentuk event serta strategi lainnya untuk menambah pundi-pundi pendapatan The Little Giantz.

Tetap idealis namun tetap sustainable dan profitable, inilah tantangannya,” ujar Yorris. Maka, bagi startup yang bermain di industri animasi atau yang sejenisnya, kiatnya adalah perkuat IP dan pelajari omni channel untuk mendapatkan revenue tambahan, dan bisa belajar model bisnis dari berbagai startup di dunia.

Vina Anggita & Vicky Rachman

Riset: Armiadi Murdiansah 

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)