Kiat Amanda Kembangkan Sayurbox

Amanda Susanti (kanan), CEO dan Founder Sayurbox

Merasa prihatin dengan kehidupan petani yang sudah bekerja keras tetapi penghasilan dari penjualan produk taninya tidak seberapa memunculkan ide bagi Amanda Susanti untuk mendirikan Sayurbox. Ide itu muncul saat lulusan Program Manajemen di University of Manchester, Inggris, ini bertemu dengan seorang petani singkong bernama Misto pada 2016. Kala itu, Misto menjual hasil panennya kepada pedagang desa setempat tetapi omsetnya dari hasil bertani tersebut terbilang rendah.

Amanda pun pernah mengelola kebun sendiri di daerah Parungkuda, Sukabumi, Jawa Barat. Ketika itu, ia kerja bareng dengan para petani. Ia juga merasakan petani susah mencari akses langsung untuk menjual produk ke konsumen. Selain itu, wanita kelahiran Jakarta 22 Juni 1990 ini melihat mata rantai antara petani dan konsumen sangatlah panjang. Akibatnya, harga produk pun menjadi mahal, terutama produk pertanian organik. Sementara kesejahteraan petani masih jauh dari yang diharapkan. Ia juga ingin masyarakat di kota besar seperti Jakarta bisa makan produk organik yang lebih sehat dalam keadaan segar dengan harga yang bagus.

Itu sebabnya, Amanda menggandeng para petani untuk mulai mencari celah menjual hasil pertanian organik secara langsung ke restoran dibandingkan menjual ke pedagang setempat. Ia pun mulai membangun bisnis dengan membuat Sayurbox, sebuah platform digital (market place) yang menghubungkan langsung konsumen dengan petani melalui website dan aplikasi yang bisa diunduh konsumen.

Amanda tak sendiri dalam membangun Sayurbox, tetapi bermitra dengan Rama Notowidigdo dan Metha Trisnawati. Ketiganya memiliki visi dan misi yang sama, yaitu membantu lebih banyak petani dan menjual lebih banyak produk langsung ke konsumen. Selain itu, mereka juga ingin membantu petani lokal untuk menanam tanaman dengan lebih baik sesuai dengan permintaan pasar.

Ia menjelaskan, Rama memiliki pengalaman sebagai Head of Product Go-Jek. Rama menyarankan agar Sayurbox fokus pada konsumen karena banyak konsumen mencari produk yang lebih sehat dan segar dengan lebih banyak variasi. Hanya saja, di pasar terkadang produk yang dibutuhkan konsumen tidak selalu tersedia. Sementara itu, Metha yang sekarang jadi co-founder lebih fokus mengelola operasional. “Rama pada 2017 mengundurkan diri dari manajemen, tetapi ia tetap menjadi penasihat tepercaya kami,” ujar Amanda, CEO dan Founder Sayurbox.

Berapa modal awal dan dari mana? “Modal awal kami dari founder. Kemudian, kami juga dapat investor. Berapa persen tidak bisa kami ceritakan,” kata Amanda. Namun berdasarkani info yang beredar, belum lama ini Patamar Capital dan beberapa angel investor menyuntikkan dana ke Sayurbox. Perolehan seed funding (pendanaan awal) ini diperkirakan berkisar US$ 200 ribu-300 ribu.

Saat awal berdiri, Sayurbox hanya menggunakan Instagram dan WhatsApp untuk menawarkan jualannya. Awalnya, ditawarkan ke keluarga dulu, kemudian ke teman dan ibu-ibu. Dari situ, kemudian tersebar dari mulut ke mulut. “Ya, kebanyakan organic growth,” kata Amanda, bungsu dari tiga bersaudara. Lalu, ketika melihat permintaan pasar di Instagram meningkat, Sayurbox membuat situs web. Dan, ketika kemudian pesanan meningkat lagi, akhirnya Amanda meluncurkan aplikasi.

Sayurbox menyediakan segala produk pertanian untuk dimasak setiap hari. “Setiap hari kami panen,” ujar Amanda. Sekarang ada sekitar 400 jenis sayuran dan buah yang dijual Sayurbox. Bahkan, ada berbagai produk pertanian yang kadang tidak ada di supermarket atau di pasar. Misalnya, buah tin, aneka buah beri, atau buah-buahan unik lainnya. Hal tersebut menjadi nilai lebih jualan Sayurbox.

Nilai lebih lainnya dibandingkan supermarket atau pasar: produk yang dijajakan Sayurbox diklaim lebih segar karena dipetik langsung dari lahan petani yang dipanen setiap hari sehingga tidak melewati banyak rantai distribusi. Selain itu, saat penanamannya tidak memakai banyak pestisida sehingga produknya tidak tahan lama. Makanya, pihaknya harus pintar-pintar dalam managing cycle agar lebih efisien bisa sampai ke konsumen dengan baik.

Cakupan harga tergantung pada produknya. “Misalnya lagi panen raya, harga bisa murah. Buah naga Rp 3.000/kg atau ada juga yang paling mahal, yaitu stroberi, bisa mencapai Rp 40.000/kg,” ucap Amanda. Sekarang Sayurbox sudah bermitra dengan petani yang kebanyakan dari Jawa Timur dan Jawa Barat, seperti Cipanas, Lembang, Sukabumi, dan Bogor. “Kami sudah bekerjasama dengan sekitar 200 petani,” ujarnya.

Dalam pandangan Handito Joewono, CEO Arrbey Consulting, kehadiran Sayurbox tetap menjadi ide yang bagus, menarik, dan bermanfaat. Hanya saja, memang karena saat ini kompetisi untuk startup di bidang logistik dan perdagangan sudah makin banyak, dibutuhkan bisnis model yang komprehensif. Bisnis model yang tidak sekadar menawarkan kemudahan transaksi, baik buat pemasok maupun konsumen, tetapi juga sebenarnya membutuhkan kelengkapan mekanisme pelayanannya.

Sayurbox memasarkan produk yang membutuhkan penanganan khusus karena gampang rusak; membutuhkan pendingin dan sebagainya agar produknya tidak cepat rusak. Ini harus hati-hati ke sana, karena mesti investasi dan menyediakan infrastrukturnya. Ini bukan untuk melemahkan Sayurbox, tetapi jangan lupa masuk ke bisnis ini di zaman sekarang membutuhkan kesiapan yang matang. Belum lagi harga jual yang harus dipertimbangkan supaya bisa kompetitif.

Saya selalu menganjurkan sebuah aplikasi atau e-commerce harus punya uniqueness produk juga, tidak hanya menyediakan sarana untuk transaksinya tetapi juga punya produk-produk yang unik, yang tidak tersedia di jalur-jalur online lain maupun offline,” kata Handito memberi masukan.(*)

Dede Suryadi dan Vina Anggita

Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)