Kisah Omar & Aldi Bawa Dua Coffee ke Washington DC

Omar Karim Prawiranegara, Co-owner 'Dua Coffee'

Akhir 2016, Omar Karim Prawiranegara (34 tahun) yang sudah hilir mudik berkarier di beberapa perusahaan FMCG multinasional, memutuskan untuk berhenti dan memulai bisnisnya sendiri. Omar kemudian menggandeng Rinaldi Nurpratama, teman sekelasnya sewaktu berkuliah di Universitas Padjajaran Bandung.

Kemudian, mereka membangun kafe dengan nama Dua Coffee di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Februari nanti Dua Coffee akan membuka cabang di Washington DC, AS. Bagaimana mereka membesarkan bisnis ini hingga merambah ke Amerika? berikut kutipan wawancara SWA Online dengan Omar di Jakarta, Selasa 22/1/2019 lalu:

Sejak kapan bisnis ini dibangun dan bagaimana Anda memulainya?

Bisnis ini kami dibangun sejak akhir 2016 lalu. Mulanya kami hanya ingin bikin sebuah tempat untuk tempat kumpul teman-teman yang punya food bazaar. Nah, niat saya dan Aldi mau bikin semacam food court untuk memfasilitasi mereka. Tapi memang setelah kami evaluasi dan uji kelayakan bisnisnya, kayaknya kami memang harus punya produk sendiri. Akhirnya kami putuskan untuk punya produk sendiri yaitu kopi, lalu kanannya di-support sama teman-teman vendor yang biasa ada di pameran-pameran. Sampai akhirnya kami pindah ke tempat baru yang lebih besar, kami bisa punya dapur sendiri jadi sudah bisa bikin makanannya sendiri.

Tapi, kenapa yang dipilih kopi ?

Karena begini, kebetulan saya punya mentor bisnis, beliau sudah senior di dunia bisnis kuliner, dia bilang kami harus punya produk sendiri, dan disarankan untuk bikin kopi saja. Sebab, bisnis kopi di Indonesia itu paling bersahabat buat pemain baru. Bahkan di Cipete itu kan kedai kopi berjejer-jejer, secara bisnis kami kompetitor tapi sekaligus jadi komunitas. Saya kalau main ke mereka, dengan terbuka mereka sharing segala macam teknisnya mulai dari meracik kopi, pilih bahan baku, service dan sebagainya. Itulah kenapa mentor saya bilang bisnis ini ramah buat pemain baru.

Waktu awal membangun modalnya dari mana modalnya dan berapa besar?

Kami rogoh kocek sendiri dan patungan berdua, jadi total modal awalnya Rp 100 juta, kami mulai dari skala yang benar-benar kecil. Kami sengaja investasi bertahap, pelan-pelan, tapi secara cash flow akan lebih sehat, karena untuk bisnis kuliner cash flow itu nyawa. Sekarang, setelah pertumbuhannya sudah bagus, sudah lumayan stabil dan kami sudah punya cukup kapital, kami sudah mulai investasi di mesin dan SDM.

Sejauh ini bagaimana pertumbuhan bisnisnya?

Alhamdulillah setelah tiga tahun jalan, penjualannya tumbuh rata-rata 20% per tahun. Berapa omsetnya per bulan dan apakah sudah balik modal? Sekarang omsetnya sekitar Rp 400 – 500 juta per bulan, dan Alhamdulillah sudah balik modal di tahun kedua.

Apa rencana pengembangan bisnis ke depannya?

Tahun ini kami akan buka dua cabang di seputaran Jakarta dan satu cabang di Washington DC, Amerika. Kenapa begitu cepat buka cabang ke Amerika, sementara di dalam negeri sendiri masih besar peluangnya? Jadi, ini bukan soal cepat-cepatan, tapi lebih karena kesempatan tidak datang dua kali. Tahun 2018 lalu, kami dapat kesempatan ikut salah satu event-nya Kementerian Pariwisata yang mempromosikan wisata Indonesia di Amerika, kami ikut dan bawa contoh kopi Indonesia untuk dibagi-bagi gratis bagi pengunjung pameran itu.

Tidak disangka, ternyata kopi Indonesia sangat digemari di sana, di booth kami orang-orang antri lumayan panjang. Sampai kami kehabisan stok bubuk kopi yang buat bikin minuman, yang tersisa hanya yang masih berupa biji, itupun habis mereka beli. Dari situ kami kemudian ketemu dengan partner lokal dan ditawari tempat seluas 150 m2, sekitar dua blok dari Gedung Putih. Akan mulai resmi dibuka Februari 2019 ini.

Berapa besar investasi buka coffee shop di tengah kota Washington DC?

Untuk area seluas 150 m2 nilai investasinya tidak jauh beda dengan nilai investasi buka coffee shop di mall di Jakarta. Kenapa disana bisa lebih ringan? Karena di sana itu iklim bisnisnya friendly, misalnya untuk sewa tempat, kami menandatangani kontrak untuk 10 tahun, tapi kami diminta bayar kontrakannya bulanan. Jadi nilai investasi di awal tidak begitu berat. Di sana biaya yang besar adalah gaji untuk baristanya, US$ 13,5 per jam.

Apa yang membedakan Dua Coffee dengan cafe atau coffee shop lainnya ?

Yang kami kedepankan adalah hospitality-nya, makanya tagline kami adalah ‘rumah kedua’. Kami ingin orang mampir ke Dua Coffee itu jadi betah karena terasa seperti di rumah sendiri. Pelayan yang ramah, desain interiornya juga kami desain agar orang betah untuk sekadar duduk-duduk, ngobrol atau menyelesaikan pekerjaan. Kalau kopi, yang kami sajikan ada kopi lokal Indonesia, kami punya cukup lengkap dari Timur sampai Barat. Kemudian ada juga kopi luar seperti kopi Colombia. Kami sengaja menyajikan kopi luar juga agar orang-orang yang penasaran ingin membandingkan rasa kopi Indonesia versus kopi luar bisa mendapatkan pengalamannya di tempat kami.

Lalu, apa target dan rencana ke depannya untuk bisnis ini?

Seperti arti namanya Dua, itu dalam Bahasa Arab artinya do’a. Dalam Bahasa Indonesua, dua artinya kami berdua saya dan rekan saya Aldi. Jadi harapannya, kami ingin jadi UKM yang menginspirasi banyak orang, setiap orang yang bergabung di keluarga Dua (tim kerja) bisa jadi jalan buat mereka gapai cita-citanya. Kemudian juga nantinya kalau yang di Washington itu sudah jalan, kami akan adakan pertukaran barista, antara Jakarta dan Washington DC.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)