Lagi, Dunia IT Diwarnai Entrepreneur Muda

Seiring dengan maraknya pengguna perangkat seluler, pertumbuhan ekonomi yang pesat serta masyarakat yang makin 'melek' media, industri teknologi informasi (IT) pun makin subur. Yang menarik, pemain di industri ini diwarnai oleh entrepreneur berusia muda. Seperti apa?

Jakarta Founder Institute baru saja melakukan 'wisuda' terhadap 13 lulusan atau entrepreneur baru dengan gagasan atau ide dari berbagai lapisan industri seperti pendidikan, micro insurance, e-commerce, kesehatan, industri kreatif maupun aplikasi seluler. “Kami ingin mematangkan konsep para start up ini agar tidak hanya sekadar ide tetapi juga mampu masuk ke ranah bisnis sehingga menghasilkan profit. Seperti yang kita ketahui, ide ataupun produk saja tidak cukup. Kita perlu belajar tentang manajemen, pemasaran dan sebagainya,” kata Andy Zain, salah satu pendiri Jakarta Founder Institute

Para wirausahawan tersebut, melalui Jakarta Founder Institute, menyelesaikan program mentorship selama 4 bulan yang bertujuan mengajarkan hal penting dalam memulai start up. Empat topik utama yang diberikan adalah ideation, planning, set up dan awareness. Sesi itu dibawakan oleh 32 mentor yang sudah berpengalaman dari Indonesia, Amerika Serikat, Finlandia, Jepang dan Singapura. Beberapa nama populer diantaranya Adeo Rossi, CEO TheFunded.com, Andi S Boediman, Partner Ideosource, Andy Jobs, CMO Nexian, Eka Ginting, Founder Indo.com, Erik Meijer, President Director Bakrie Connectivity dan masih banyak lagi.

Ide yang cukup menarik muncul dari iFetcha. Ini merupakan semacam aplikasi yang memungkinkan siapa saja berkomuikasi dengan orang asing. Aplikasi dengan tagline, 'making your dating experience, fun, memorable and easy' tersebut menggabungkan konsep jejaring sosial dan 'terkoneksi' by location. “Sederhananya, kami memungkinkan masyarakat untuk berbincang dengan orang asing yang berada di daerah atas kawasan yang sama dengan mereka. Pada akhirnya, masyarakat bisa sekadar chatting dengan orang asing tersebut atau bisa dilanjutkan dengan bertemu,” kata salah satu pendiri iFetcha, Muhammad Ikram. Bagi siapapun yang khawatir dengan keamanan maupun privasi, pengguna aplikasi ini bisa mengatur hal tersebut sehingga bisa meminimalisir tindak penipuan atau kejahatan. “Siapapun bisa mengatur informasi apa saja yang mau dipublikasikan ke orang lain,” tegas Ikram.

Selain itu, situs yang cukup unik muncul dari Fokado yang mengusung motto 'give something different'. Bermain di ranah e-commerce sebenarnya sulit-sulit gampang. Sulitnya, pebisnis harus mampu mencari strategi bersaing dengan pemain 'raksasa' seperti Groupon, Living Social, Tokobagus.com, Blibli.com dan masih banyak lagi. Gampangnya, pebisnis dihadapkan oleh jumlah penduduk yang luas sehingga peluang untuk meraup pasar pun besar. Keberadaan Fokado pun, diklaim oleh sang pendiri Antonius Taufan, tidak mainstream. “Kami tidak menawarkan hal biasa. Sejatinya, bila Anda melihat toko online, Anda akan ditampilkan 'jualan' produk atau benda. Tapi kami menawarkan experience. Konsepnya adalah mengantarkan kado atau hadiah buat orang yang Anda sayangi berupa 'pengalaman'. Anda tentu sudah bosan dengan kado boneka, cokelat atau bunga kan? Bagaimana bila kadonya hal baru dan unik?”

Ide yang cukup bermanfaat untuk bidang kesehatan muncul dari start up 'andtechnology.mobi' yang mengembangkan aplikasi Aibilities. Start up ini menyediakan solusi berupa platform komunikasi bagi individu dengan movement disabilities melalui aplikasi eye-tracking Android.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)