Melahap Oleh - Oleh Agate dari Perancis

Siapa sangka di antara raksasa pengembang game (game developer) sekelas Electronic Art (EA), Sony Entertainment, Big Fish, terselip dua nama developer Indonesia yaitu Agate Studio dan Nightspade. Mereka adalah partisipan Game Connection Europe, ajang bisnis khusus industri game developer dunia yang digelar di Paris, Prancis.

Screenshot Football Saga 2, salah satu game buatan Agate Studio

Sederet pengalaman menarik jadi oleh-oleh Agate yang dibagikan pada reporter SWA Online, termasuk bagaimana mengejar ketertinggalan industri kreatif tanah air. Dalam acara tersebut, Agate berkesempatan memperkenalkan dua game andalannya yaitu Football Saga 2 dan Up in Flames yang dirilis tahun depan di platform iOS. Didukung Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Agate pun sempat merencanakan kerjasama dengan developer luar untuk membuat game baru.

“Mereka cukup kaget Indonesia punya game developer,” kisah Andrew Pratomo Budianto, Chief Marketing Officer Agate Studio. “Oh ini seperti industri kita beberapa tahun lalu,” Andrew menirukan komentar salah satu game developer yang ia temui.

“Ini adalah kali pertama Indonesia memiliki kesempatan mengikuti acara Game Connection,” kata Vincentius Hening Widhyarto Ismawan, co-founder Agate Studio. “Kami dapat belajar perjalanan industri game negara lain yang lebih dewasa dan berusaha mengeksplorasi potensi yang kami miliki untuk bisa bersaing di tingkat internasional.”

Game Connection Europe merupakan ajang pertemuan business-to-business yang fokus pada peningkatan kemampuan bisnis game developer. Oleh karena itu acara tersebut diliputi berbagai program bisnis seperti business meetings, top level conferences, professional networking, dan marketing awards. Partisipannya pun berbasis bisnis, yaitu publisher, investor, payment solution, dan game developer seluruh dunia.

Diakui Andrew, Agate Studio punya setumpuk pekerjaan rumah yang harus diselesaikan supaya sejajar dengan developer dunia. Bicara jam terbang dan pengalaman, Agate memang belum bisa menandingi game developer sebesar EA Sport. Itulah yang menjadi tantangan Agate saat ini. “Industri sekitar game juga harus support,” tutur Andrew, Selasa (4/12).

Andrew menaruh harapan besar sejak dibentuknya kemenparekraf dapat mendorong industri kreatif termasuk game developer. Namun dukungan Kemenparekraf saja ternyata tak cukup. Belum maraknya lembaga akademis yang membuka jurusan game developing juga diakui Andrew sebagai tantangan dalam mengembangkan industri game nasional. Di samping itu, pemilik brand belum memanfaatkan kemampuan advergame dalam membangun brand awareness di kalangan konsumen seperti umumnya terjadi di negara lain.

Agate Studio adalah game developer asal Bandung yang berdiri tiga tahun lalu. Perusahaan tersebut berkembang pesat hingga mampu mempekerjakan 80 orang tenaga kreatif usia 25 sampai 30 tahun. Dari Football Saga 2 yang belum marak dipasarkan saja, Agate mampu menyedot 30.000 user. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)