Mendukung Pertanian lewat Platform Teknologi

Permodalan dan penjualan hasil pertanian merupakan dua masalah klasik yang dihadapi para pelaku usaha pertanian di Indonesia. Dua startup lokal ini, Crowde dan TaniHub, berupaya menawarkan solusinya.

Ivan Arie Sustiawan Ivan Arie Sustiawan, CEO TaniHub.

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara agraris. Namun, dari dulu hingga sekarang, profesi petani dinilai tidak menarik. Sekarang, malah berkembang anggapan, menjadi petani adalah memilih penghidupan yang susah dan sarat penderitaan. Maklumlah, sering hasil panen petani dihargai sangat murah akibat ulah tengkulak. Apalagi, beberapa komoditas pertanian penting tak jarang dibanjiri produk impor. Jadi, jangankan bisa hidup makmur, banyak petani yang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk menyekolahkan anaknya, pun sulit.

Melihat kondisi seperti itu, Yohanes Sugihtononugroho merasa prihatin. Alumni Prasetiya Mulya Business School ini mengaku ikut sedih mengetahui petani di Indonesia 2-3 kali lebih miskin dibandingkan masyarakat pada umumnya. Dari situlah muncul idenya untuk menghadirkan platform teknologi yang bisa membantu petani meningkatkan kesejahteraan mereka.

Salah satu persoalannya adalah akses yang terbatas dalam memperoleh pendanaan untuk menjalankan usaha tani. Selama ini, tak sedikit petani yang terpaksa meminjam uang dari rentenir yang mematok bunga pinjaman yang mencekik. Padahal, kalau akses pendanaan murah tersedia dan usaha tani dikelola dengan baik, hasil pertanian pun cukup menjanjikan.

“Karena itu, kami fokus membantu akses permodalan,” ujar Yohanes. “Saya kemudian membuat platform yang bisa menjadi tempat bagi para petani untuk meminjam uang dan memperoleh investor,” tambahnya. Namanya, Crowde.co. Portal ini merupakan platform teknologi yang menghubungkan/mempertemukan petani dengan investor.

Lewat platform tersebut, tersedia akses bagi setiap orang untuk berinvestasi atau mendanai “proyek” yang dikerjakan petani. Sesuai dengan namanya, Crowde, setiap proyek biasanya didanai beberapa investor. Platform ini, kata Yohannes, merupakan salah satu cara mencegah petani meminjam uang dari rentenir. Di portal Crowde.co ditampilkan deretan proyek pertanian yang layak didanai. Dalam tampilannya, Crowde.co mencantumkan beberapa informasi penting seperti ekspektasi profit, risiko, profil petani, skema bisnis, dan lokasi proyek.

Sejauh ini, menurut Yohanes, otomasi baru ada di pihak pemberi pinjaman (investor). Adapun pada petani, masih berjalan pola manual: mereka memberikan rencana bisnisnya ke pihak Crowde lewat koperasi tani yang bekerjasama dengan Crowde.

Dalam dasbornya, sang pemberi pinjaman bisa melihat investment summary yang berisi informasi mengenai ekspektasi profit, realisasi profit, total proyek yang telah didanai, active balance dan total balance, serta ekspektasi profit dalam setahun. Informasi yang diberikan masih sederhana, belum termasuk kemampuan memberikan rekomendasi atau hasil olahan analitis data. “Kami memang sengaja tidak memberikan rekomendasi,” ujarnya.

Melalui platform ini, Yohanes ingin para investor bisa belajar mengambil keputusan bisnis sendiri dengan melihat rencana bisnis dari proyek-proyek pertanian yang tersedia. Crowde hanya fokus mempertemukan petani dengan pemilik dana. “Dari segi teknologi, sebenarnya kami bukanlah yang menawarkan sesuatu yang advance,” katanya mengakui.

Kendati begitu, ia memastikan bahwa keseluruhan proyek di Crowde adalah proyek yang riil atau nyata, bukan bodong. Crowde bekerjasama dengan sejumlah koperasi pertanian atau komunitas petani di desa-desa, untuk memastikan bahwa para petani tersebut memang memiliki rekam jejak yang baik. Hanya petani yang tergabung dalam koperasi atau komunitas yang telah menjadi mitranya yang bisa mengajukan proyek di Crowde. “Jadi, bila ada petani yang ingin mengajukan proyek, kami sarankan agar mereka bergabung di koperasi lebih dahulu,” ujarnya.

Ivan Arie  Sustiawan Ivan Arie Sustiawan dan Fun Tani

Koperasi dan komunitas punya andil melakukan penilaian (assessment) atas rencana bisnis yang diajukan. Menurut Yohanes, koperasi dan komunitas adalah pihak yang paling paham tentang struktur biaya pendapatan dan risiko di bidang ini, seperti soal harga pupuk, harga bibit, dan faktor-faktor risiko kegagalan. “Tentunya selain dinilai oleh koperasi dan komunitas, kami juga punya tim penilaian sendiri,” katanya.

Selain itu, koperasi dan komunitas mitra juga akan selalu dimonitor oleh Crowde. Dalam pengertian, Crowde akan menilai hasil rekomendasi yang diberikan. Apabila rekomendasinya asal-asalan, bukan tidak mungkin koperasi tersebut akan di-blacklist.

Meski demkian, Yohanes menggarisbawahi bahwa calon investor sebenarnya bisa melakukan penilaian tersendiri terhadap proyek yang akan didanai. Pasalnya, untuk setiap proyek, Crowde menampilkan file mengenai analisis biaya dan pendapatan yang dapat diunduh.

Sebagai contoh, ada proyek Penanaman Jamur Putih Tiram di Jember atas nama petani Imam Buhari. Dalam perhitungan profitnya, Imam menyampaikan bahwa skema bagi hasil untuk petani dan investor adalah 70:30. Dalam proposalnya,  ia merinci biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bibit, termometer, dan ruangan; membayar tenaga kerja; serta biaya tak terduga. Ia juga memberikan simulasi pendapatan dalam berbagai proyeksi. “Jadi, sebenarnya calon investor bisa menilai sendiri apakah suatu proyek layak didanai atau tidak,” ungkap Yohanes.

Namun, ia menegaskan, Crowde tidak bisa menjamin seluruh proyek pasti akan untung atau menghasilkan profit sesuai dengan ekspektasi investor. “Namanya berinvestasi, tentu saja bisa rugi dan bisa untung,” ujarnya. Karena itu, ia selalu menyosialisasikan kepada para investor agar tidak menaruh uang mereka dalam jumlah besar pada satu proyek saja. Ia menyarankan agar uang investasi tersebut didistribusikan ke banyak proyek.

Saat ini, menurut Yohanes, setidaknya ada 100 proyek yang telah diunggah Crowde sejak awal peluncuran pada 2015. Dari keseluruhan proyek tersebut, ia mengklaim, hanya sedikit proyek yang dikategorikan gagal atau tidak bisa menghasilkan pendapatan seperti yang diekspektasikan. “Mungkin kurang dari 1%,” ujarnya yakin.

Untuk pembuatan platform, Crowde membangun sistem tersebut secara mandiri. Ada empat pengembang yang mengerjakannya, di antaranya Galih Pratama sebagai front-end developer dan Sheila Hana Azizah sebagai back-end developer. Selain mereka, Crowde juga memanfaatkan keterampilan para lulusan SMK.

Yohanes mengungkapkan, menemukan orang yang tepat untuk membangun sistem tidaklah mudah. Salah satu penyebabnya, Crowde berangkat dengan modal yang sangat kecil, sedangkan biaya merekrut orang yang memiliki kemampuan teknologi informasi tidaklah murah. Begitu pula dengan peranti hardware yang dibutuhkan. “Harga server ternyata cukup mahal. Begitu juga sistem keamanan untuk menjaga server dan data para pengguna,” ujarnya.

Meskipun sampai saat ini belum ada kendala berarti dalam hal sistem, Yohannes mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan di Crowde. Ia berencana memasukkan fitur-fitur lain yang bisa memberikan kenyamanan untuk kedua belah pihak, petani dan investor. Ia juga ingin menyajikan pilihan pembayaran lain bagi investor, selain pola transfer bank yang saat ini disediakan. “Dalam waktu dekat kami akan mulai membangun kerjasama dengan beberapa perusahaan fintech yang bergerak di bidang payment getway,” ungkapnya.

Yohanes mengklaim, saat ini jumlah pengunjung harian ke portal Crowde telah mencapai 600 orang, dan mencapai sekitar 1.000 orang bila sedang banyak proposal proyek yang masuk. Total investasi yang telah dikelola oleh Crowde mencapai Rp 3 miliar, dalam waktu sekitar setahun.

Selain Crowde, wirausaha digital lainnya yang menerjuni bidang pertanian adalah TaniHub. Sementara Crowde memanfaatkan teknologi untuk memberikan solusi pertanian di bidang permodalan, TaniHub memainkan peran untuk membantu dari segi distribusi hasil pertanian.

Dengan menggunakan platform TaniHub, petani ataupun peternak bisa terhubung langsung dengan konsumen. Mengusung konsep “order, petik, dan kirim”, TaniHub menjanjikan: semua produk pertanian (dalam arti luas, termasuk produk peternakan dan perikanan) yang dijajakan lebih segar dibandingkan produk pertanian lainnya, dengan harga lebih terjangkau. “Konsepnya seperti marketplace,” ujar Ivan Arie Sustiawan, CEO TaniHub.

Dengan adanya aplikasi tersebut, menurut Ivan, petani dan peternak tidak perlu lagi menjual produk melalui tengkulak. Dengan demikian, margin keuntungan petani bisa lebih besar. TaniHub berusaha menjembatani petani, agar dapat langsung memasarkan produk pertanian mereka ke konsumen, sehingga tak terjadi tekanan dan permainan harga dari perantara seperti yang selama ini terjadi. “Kami berupaya memangkas rantai distribusi yang panjang,” ujarnya

Dalam konteks bisnis penjualan hasil pertanian ini, Ivan mengungkapkan, TaniHub telah menggeser model bisnisnya yang tadinya berpola business to consumer (B2C) menjadi business to business (B2B). Dengan demikian, pelanggan produk pertanian di TaniHub sekarang adalah kalangan bisnis/perusahaan. Beberapa gerai ritel modern, hotel, restoran, dan usaha katering telah membeli produk-produk di TaniHub. Di antara mereka, ada Ranch Market, Superindo, Total Buah, dan Rumah Buah. ”Kami telah memiliki kurang-lebih 60 pelanggan, dengan jumlah petani sebanyak 600 kelompok tani atau sekitar 12.000 petani,” katanya.

Karena berpola bisnis B2B, tidak semua pengguna perorangan bisa mengakses platform TaniHub. Ketika melakukan pendaftaran, pengguna tersebut terlebih dahulu harus memberikan data diri seperti nama, alamat surat elektronik (surel) dan nomor ponsel. Sesudah itu, pihak TaniHub juga akan meminta pengguna mengunggah foto KTP dan foto NPWP. Kemudian, TaniHub akan memverifikasi data yang diberikan. Jadi, tidak langsung terdaftar. “Karena platform kami itu B2B, NPWP sangat penting untuk pembuatan kontrak,” kata Ivan menjelaskan.

Yohanes Sugihtonugroho Yohanes Sugihtonugroho, CEO Crowde.co

Namun, kini manajemen TaniHub tak hanya menunggu masuknya pendaftaran dari calon pengguna baru, tetapi juga aktif melakukan jemput bola ke kalangan toko ritel, resto, hotel, dan perusahaan katering. Ivan mengungkapkan, banyak juga pengguna individu yang mendaftar, yang akhirnya tidak jadi membeli lantaran minimal pembelian di TaniHub harus dalam jumlah besar, yaitu 0,5 ton. “Karenanya, kami aktif jemput bola saja,” ujarnya.

Ivan bukanlah orang baru di dunia startup digital. Sebelum di TaniHub, ia pernah berkarier sebagai Group Finance Controller HappyFresh dan VP Finance Etobee, mobile marketplace yang menghubungkan perusahaan logistik dengan pelanggan yang membutuhkan jasa pengiriman instan.”Baru tahun lalu saya bergabung dengan TaniHub,” ungkapnya.

Seperti halnya Crowde.co, platform TaniHub juga dikembangkan secara in-house oleh tangan-tangan pengembangnya yang berjumlah 10 orang. Lewat platform TaniHUb, pembeli (perusahaan) bisa membandingkan harga dari setiap pemasok untuk mendapatkan harga termurah. TaniHub juga memberikan fitur permintaan khusus bagi pembelinya, untuk mendeskripsikan apa saja yang mereka butuhkan. “Misalnya, apakah barang yang dibeli akan dikemas dengan kardus 25 liter,” ungkapnya.

Berbeda dari marketplace pada umumnya, di TaniHub pembeli bisa mengatur sendiri waktu pengiriman, seperti tanggal dan jam pengiriman. Pembeli juga diberi keleluasaan apakah ingin membayar tunai di muka, atau dengan menggunakan pembayaran bertempo (cicilan) yang khusus diberikan bila pembeli sudah terverifikasi dan memesan secara rutin. Untuk pola ini, TaniHub menalangi dulu pembelian, karena seperti diketahui banyak perusahaan menggunakan sistem invoice dalam melakukan pembayaran. “Padahal, kalau dari sisi petani, cash flow mereka tidak memungkinkan untuk itu,” ujarnya.

Saat ini hampir seluruh kegiatan di platform tersebut sudah go digital. Dalam hal ini disediakan dasbor khusus bagi pengguna untuk memantau status pembayaran, merekam history pembelian, dsb. Kendati begitu, Ivan mengaku masih ada bagian yang harus dilakukan secara manual, yaitu kontrak jual-beli. Pihaknya masih mengirimkan surel secara manual kepada pembeli yang berisikan kontrak jual-beli yang harus ditandatangani. File ini harus dikirim kembali karena masih membutuhkan tanda tangan “basah”. “Namun, tidak menutup kemungkinan di masa depan, TaniHub memfasilitasi tanda tangan digital. “Mungkin nanti bila aturan digital signature sendiri sudah clear,” ujarnya.

Saat ini, Ivan mengklaim, nilai transaksi di TaniHub telah mencapai Rp1 miliar per bulan. Angka itu, menurutnya, masih berpotensi terus meningkat mengingat saat ini banyak kebutuhan pembeli yang tidak bisa disanggupi petani. “Petani masih kesulitan permodalannya untuk memenuhi permintaan yang sangat besar.”

Karena itulah, pada Januari 2017 TaniHub meluncurkan platform bernama TaniFund, yang diharapkan menjadi jembatan antara petani dan pemilik dana . “Proyek-proyek yang ada di TaniFund sudah kami jamin hasil panennya bisa dijual di TaniHub,” kata Ivan. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)