Pawoon, Penyedia Sistem Point of Sale untuk UMKM

Jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air saat ini yang sebanyak 57,9 juta unit menjadi peluang tersendiri bagi perusahaan-perusahaan pendukungnya. Salah satunya untuk penyediaan sistem point of sale (POS). Mungkin karena itulah belakangan berkembang sejumlah pemain startup yang menyediakan layanan POS online berbasis sistem cloud, seperti Pawoon, Moka, Olsera, Deal POS, dan Omega POS Cloud.

Ahmad GadiPawoon, yang didirikan oleh Ahmad Gadi (29 tahun), termasuk di antara yang pesat pertumbuhannya. Dalam dua tahun terakhir, sudah ada 14 ribu pengguna (user) terdaftar di Pawoon, berasal dari sekitar 40 kota di Indonesia. Dari jumlah pengguna tersebut, ia mengklaim, nilai total transaksi yang diproses melalui Pawoon sudah mencapai Rp 150 miliar.

Gadi, mantan karyawan Kraft Food, menceritakan ketertarikannya membangun Pawoon, karena latar belakang pendidikannya memang di bidang keuangan dan enjiniring software. Ia melihat bagaimana perusahaan ritel modern sangat terbantu bisnisnya ketika menggunakan software POS yang canggih. Dari sana ia berpikir, seharusnya peranti (tool) yang sama juga bisa digunakan oleh para pelaku UMKM. “Ide awalnya pendirian Pawoon ini memang untuk membantu pelaku UMKM, agar bisa memanfaatkan teknologi dalam kegiatan bisnisnya,” ungkap Gadi.

Gadi percaya dengan sistem pelaporan manajemen yang terintegrasi akan memudahkan kerja operasional kalangan UMKM. Misalnya untuk pencatatan transaksi, manajemen stok, dan rekapitulasi kas. Pemilik bisnis mikro dan kecil ini juga bisa mendapatkan data real time terkait performa bisnis mereka tanpa harus berada di lokasi usahanya. “Solusi Pawoon ini juga bisa membantu mereka yang punya usaha dengan banyak cabang,” ujarnya.

Menurut Gadi, Pawoon bisa diterima pasar lantaran harga yang dikenakan tidak memberatkan pelaku UMKM. Untuk berlangganan, pelaku UMKM cukup membayar Rp 199 ribu dengan jumlah transaksi tidak terbatas. Pawoon juga menyediakan masa 14 hari percobaan gratis untuk menarik peminat calon pelanggan. Pendapatan Pawoon memang tidak terkait dengan besarnya nilai transaksi yang diraih oleh pengguna sistem. Sebab, Pawoon melakukan monetisasi melalui pola berlangganan, dengan menargetkan bisnis UMKM yang belum memiliki sistem mapan.

Untuk membangun awareness khalayak terhadap kehadiran layanannya, Pawoon banyak memanfaatkan kanal online marketing, seperti media sosial dan Google Ads. Tak hanya itu, Pawoon aktif pula melakukan sinergi dengan komunitas UMKM seperti Komunitas Tangan Di Atas dan HIPMI. Pawoon juga menjalin kerja sama antarplatform seperti yang telah dilakukan dengan vendor software akuntansi, Zahir Accounting, melalui integrasi di Zahir Connected Apps. “Integrasi dengan Zahir bisa memudahkan proses pembuatan laporan keuangan tanpa harus meng-input ulang,” kata Gadi.

Rifat Zubaidi, pemilik sebuah kafe yang menjual produk es krim dan waffle, dengan merek Be Waffle, mengaku cukup puas dengan layanan sistem POS dari Pawoon. Ia aktif menggunakan Pawoon sejak Mei tahun 2015. “Efeknya pada bisnis amat terasa dari segi kontrol yang lebih mudah dan pencatatan yang lebih baik,” kata Rifat. Ia berharap ke depan Pawoon bisa memberikan tambahan fitur baru seperti Modified Product untuk pencatatan menu dengan varian yang berbeda. Sejauh ini, ia menilai Pawoon sangat terbuka menerima masukan dan respons untuk perkembangan produknya. “Sekarang saya sudah memiliki tiga gerai di Surabaya, dan semuanya menggunakan layanan POS dari Pawoon,” kata Rifat.

 

Profil Singkat Pendiri

Nama : Ahmad Gadi

Usia : 29 tahun

Pendidikan : Bachelor of Commerce and

Engineering University of Melbourne

Bisnis : Pawoon, sistem POS online berbasis cloud

Investor : Indosat Ooredoo dan Kejora

Jumlah pelanggan: 14 ribu user

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)