Resep Wilson Tjandra Kibarkan Burgushi

Wilson Tjandra, founder & owner Resto Burgush

Namanya Burgushi, singkatan dari burger dan sushi. Resto besutan Wilson Tjandra (23 tahun) ini unik. Memadukan burger dan sushi, Burgushi diklaim yang pertama di Indonesia. Walaupun baru dirintis dua tahun lalu, Burgushi telah memiliki beberapa gerai di Jakarta. Di antaranya, di kawasan Panglima Polim, Pluit, Tanjung Duren, dan Tebet. Hingga kini, rata-rata pengunjung tiap gerai 100 orang/hari dengan omset mencapai Rp 200 juta-300 juta/bulan per gerai.

Wilson mengenang, awalnya Burgushi adalah proyek yang dirancang saat ia kuliah semester VI di Jurusan Public Relations Universitas Multimedia Nusantara, Serpong. “Pada waktu itu, saya memang mencari usaha sampingan,” ujarnya. Ia kemudian mengajak dua temannya yang mengerti soal masakan dan desain branding . “Nah, Februari 2017 kami nekat membuka bisnis burger yang masih menggunakan roti, namun dengan isian masakan Jepang, di wilayah Grogol, Jakarta Barat,“ cerita Wilson. Ia menambahkan, modalnya di bawah Rp 50 juta.

Setahun pertama, Wilson mencoba mencari format model bisnis yang tepat sembari melakukan inovasi produk, seperti membuat rice box dan menjajaki penjualan di bazar. “Namun, waktu itu kami belum menemukan momentumnya,” ujarnya.

Meski demikian, Wilson tidak pantang menyerah. Pada 2018, ia memberanikan diri membuka restoran Burgushi di Panglima Polim, Jakarta Selatan. Sayangnya, kedua temannya itu tidak berani bergabung. Artinya, hanya ia sendiri yang membuat resto tersebut. “Ini merupakan restoran pertama yang saya dirikan. Sebelumnya, saya hanya menggunakan konsep food court,” katanya.

Pada saat itu, ia meluncurkan burger menggunakan nasi yang dicampur dengan tepung roti dan digoreng, seperti katsu. Di sanalah momentumnya karena banyak orang yang suka Burgushi. “Saya berhasil balik modal selama empat bulan. Akhirnya, kami membuka cabang baru di Pluit, Tanjung Duren, dan Tebet,” ucapnya bangga.

Wilson mengaku, ia membawa konsep baru, yakni nasi onigiri yang digoreng dan disesuaikan dengan pasar di Indonesia. Nasinya menjadi crunchy, seperti katsu. “Yang bikin burgushi kami berbeda, karena ada proses sushi rice yang digoreng itu,” ujarnya. Adapun target pasar yang dibidik adalah usia 21-34 tahun, anak muda dan pekerja.

Wilson menceritakan suka-dukanya saat membuka resto di Panglima Polim. Sukanya, ia merasa beruntung karena momentumnya tepat. Saat itu, Burgushi sempat viral karena pihaknya banyak melakukan promosi dengan menggunakan blogger. Gerai Burgushi pada tiga bulan pertama diserbu pengunjung hingga mereka pun harus waiting list, terutama di saat weekend dan makan malam.

Lalu, apa dukanya? Menurut Wilson, karena Burgushi di Panglima Polim adalah resto pertamanya, masih banyak kekurangan yang harus terus diperbaiki. Ia mengakui, belum memiliki pengetahuan dan pengalaman seperti tentang merenovasi tempat, mengelola karyawan, dan mengelola dapur. “Jadi, itu membuat restoran pertama saya di Panglima Polim kurang nyaman. Tempat itu belum setahun sudah renovasi dua kali. Hal-hal itu yang banyak membuat konsumen dirugikan,” ungkapnya.

Dari situlah ia banyak belajar, agar cabang-cabang Burgushi berikutnya tidak mengalami kondisi seperti gerai pertamanya tersebut. “Saat awal pendirian Burgushi di Panglima Polim, saya sendiri dan dengan modal sendiri. Namun, sejak awal tahun ini kami sudah joint venture dengan tiga orang lain dengan partner yang berbeda,” katanya menjelaskan.

Bicara pemasaran, ada dua strategi yang dilakukannya, yakni promosi dan ekspansi. Pertama, pihaknya aktif di media sosial karena pasar yang dibidik adalah anak muda. Saat ini, ia menggunakan iklan dan influencer untuk mempromosikan produknya.

Kedua, terus melakukan ekspansi agar tumbuh lebih cepat. Ekspansi ini harus dilakukan karena belum banyak yang tahu konsep Burgushi. “Kami ingin memiliki konsep seperti fast food dan kami mengetahui bahwa pesaing banyak sekali. Jadi, yang harus kami lakukan adalah harus membangun banyak cabang agar bisa mengimbangi mereka dan bisa cepat menguasai market dengan konsep dan makanan baru ini,” katanya penuh semangat.

Adapun strateginya untuk menambah cabang dan memperluas wilayah pemasaran ialah dengan menggunakan sistem kemitraan franchise pasif. “Di mana kami adalah pihak yang melakukan operasional, marketing, serta melatih dan me-maintenance karyawan. Sementara partner hanya keluar nilai uangnya,” katanya.

Agar Burgushi tetap diminati pelanggan, Wilson akan terus melakukan inovasi. “Sejak awal 2019, kami berencana setiap enam bulan ke depan akan membuat varian rasa khas negara tertentu,” katanya. Misalnya pada Januari lalu, pihaknya membuat Indonesian flavour seperti rendang dan ayam geprek. Di Februari, membuat Asian flavour. “Grand design-nya, setiap bulan kami akan membuat rasa khas negara-negara. Tujuannya, agar Burgushi yang identik dengan Jepang dan Barat saja bisa dinikmati semua kalangan. Kami ingin mengubah image itu dan membuktikan bahwa Burgushi itu cocok untuk semua orang. Kami akan melakukan campaign varian rasa itu selama enam bulan ke depan,” ungkapnya panjang lebar.

Untuk tempat, pihaknya pun akan terus melakukan perbaikan. Setiap cabang selalu berbeda tata letaknya, tetapi masih dengan tone yang mirip. Sementara untuk bidang pemasaran, pihaknya fokus di digital marketing seperti melalui influencer dan digital ads. “Saat ini, kami memang fokus ke Instagram ads, dengan mencari konten yang menarik dan membuat video dengan kemasan yang menarik. Postingan di Instagram itu penting namun harus dibuat semenarik mungkin. Jadi, kami akan lebih fokus ke konten iklannya,” paparnya.

Selain itu, pihaknya juga akan berkolaborasi dengan aplikasi lain, seperti Zomato dan Go-Food. Karena, biayanya relatif murah dibandingkan media lain dan cocok dengan target pasarnya, yaitu anak muda. (*)

Dede Suryadi dan Anastasia Anggoro Suksmonowati; Riset: Hendi Pradika

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)