SiKumis.com, Idealisme Memangkas Rantai Tengkulak

Besarnya pasar pertanian di Indonesia membuat Edward S. Siagian dan Chintya Fransisca mendirikan SiKumis.com. Perusahaan rintisan ini awalnya melayani penjualan peralatan untuk industri pertanian, perikanan, dan sebagainya. Setelah melalui perjalanan panjang, mereka tersadarkan untuk turut membantu para petani menunjang proses produksi hingga pemasaran produknya. Kini SiKumis.com telah berkembang menjadi perusahaan sosial dengan ribuan pelanggan dan nilai transaksi mencapai miliaran rupiah sejak didirikan tiga tahun silam.

Edward S. Siagian dan Chintya FransiscaDitemui SWA di Mal Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Edward memaparkan, SiKumis.com merupakan marketplace yang mempertemukan petani, nelayan, peternak, dan beragam UKM berbasis agri dengan konsumen industri secara online. Di situsnya, SiKumis menyediakan produk-produk hasil pertanian dan peternakan di Indonesia, termasuk produk industri seperti alat pertanian, peternakan, dan perikanan.

Edward dan mitranya, Chintya, adalah mantan profesional di berbagai perusahaan, antara lain Astra dan Adira. Pada 2008 keduanya memutuskan membangun perusahaan berbasis teknologi. “Kami memulai masuk di industri pertanian, perikanan, dan peternakan untuk penjualan mesin dan alat berat. Jadi, kami membangun usaha dengan memasarkan produk-produk pertanian lewat Internet,” papar Edward yang kantornya berlokasi di CBD Jababeka, Jl. Niaga Raya Kav. AA3 Blok C-21, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat.

SiKumis memiliki tiga platform. Pertama, marketplace. Kedua, mobile commerce yang menggunakan telepon atau SMS demi mengakomodasi tingkat teknologi penggunanya. Ketiga, financial technology (fintech). “Ketika masuk ke dunia pertanian, kami belajar bahwa petani atau nelayan ini tidak seperti UKM atau merchant yang ada pada Bukalapak atau Tokopedia. Ternyata, mereka harus banyak pendampingan dari hulunya sehingga kami masuk dari hulu. Kami menyebut diri kami sebagai social entrepreneur karena ada sisi sosial di dalamnya,” kata Edward yang menangani operasional dan hubungan eksternal, sementara Chintya menangani keuangan dan administrasi.

Awalnya, pembeli SiKumis kebanyakan pengusaha atau perusahaan yang memasok mesin dan alat berat untuk petani. Belakangan, para petani juga tertarik membeli dari SiKumis. Namun, ternyata mereka memerlukan kredit pertanian, sehingga SiKumis pun kemudian mengajak berbagai perusahaan pembiayaan untuk memberi kredit. “Karena ini menyangkut masalah pangan, kami tidak melakukan sendiri tetapi bekerja sama dengan banyak pihak: pemerintah, BUMD, perusahaan swasta, dll.,” ujar Edward.

Salah satu perusahaan yang bekerjasama untuk urusan pembiayaan adalah Grup FIF, anak usaha Astra. Dalam kerja sama tersebut, FIF menyiapkan dana Rp 720 miliar untuk menyalurkan kredit kepada petani, nelayan, peternak, dan UKM pangan melalui SiKumis.

Berbagai fitur dibenamkan ke dalam SiKumis agar bisa mengakomodasi visinya. Antara lain, fitur Pasar Lelang Online dan Dibutuhkan. Fitur Pasar Lelang Online mempertemukan seorang petani yang telah diverifikasi yang hendak memanen dan menjual produknya dengan pembeli dari berbagai daerah. Sementara fitur Dibutuhkan diisi oleh perusahaan seperti restoran yang hendak mencari produk. “Jadi, kehadiran SiKumis adalah sebagai penghubung langsung antara mereka dan bisa melewati banyak rintangan tengkulak. Karena itu, sejak tiga tahun silam, SiKumis mulai memasuki penjualan komoditas pertanian,” urai Edward.

Kini, SiKumis mendampingi petani dari hulu sampai hilir, termasuk penyediaan sarana dan prasarana seperti pupuk, alat, dan mesin yang dibeli SiKumis langsung dari pabriknya di dalam dan luar negeri. Apabila petani kesulitan dalam pembayaran, SiKumis membantu melalui perusahaan pembiayaan seperti FIF atau peer to peer lending. SiKumis memperoleh keuntungan dari sejumlah jasa, antara lain diskon pembelian produk dari pabrik yang nilainya bervariasi, dari beberapa ratus rupiah saja hingga puluhan juta rupiah untuk satu unit traktor.

Di SiKumis kini tergabung ribuan “petani” dan “nelayan”. Sayangnya, 80-85%-nya adalah pedagang atau tengkulak. “Karena mereka ini yang mengerti teknologi saat ini. Ke depan, kami ingin agar lebih banyak petani yang menjadi penggunanya,” ungkap Edward blak-blakan.

Total kini terdapat tujuh komoditas yang terbagi ke dalam 17 kategori utama yang ditawarkan SiKumis, yakni pertanian, peternakan, perkebunan & kehutanan, perikanan & kelautan, lingkungan hidup & taman, buku, pelatihan & software, serta makanan & minuman olahan. Adapun jumlah stock keeping unit (SKU) yang dipasarkan mencapai sekitar 4.000 jenis.

Kontribusi terbesar SiKumis masih dari alat pertanian. “Nilai transaksi secara tahunan fluktuatif, tetapi kalau dilihat dari mulai berdiri pada 2014 hingga sekarang, nilainya di atas Rp 2 miliar,” ungkap Edward.

Saat ini, Edward dan Chintya memprioritaskan pencarian pendanaan untuk membesarkan bisnisnya. “Yang kami butuhkan saat ini yakni bersinergi dengan investor atau siapa pun yang merasa terbebani dengan kondisi yang kita alami sekarang. Ini bukan masalah kami saja, tetapi masalah bangsa kita bersama. Indonesia itu kaya sumber daya, tetapi bagaimana caranya agar potensi-potensi itu dimanfaatkan dengan baik,” Chintya mencurahkan harapannya.

Salah satu yang telah memetik manfaat dari kehadiran SiKumis adalah Nanang Kusmari, petani bawang merah di Brebes dengan luas lahan mencapai 1 hektare dengan rata-rata produksi dua bulanan. Dengan adanya SiKumis, Nanang mengaku terbantu dalam hal pembiayaan alat produksi yang bisa dibeli dengan mencicil. “Saat ini kami belum menjual langsung produk pertanian bawang merah melalui SiKumis karena masih terkendala soal teknis yang perlu penanganan khusus. Tetapi bagi kami, dari pengadaan alat pertanian, termasuk pembiayaan dan modal, sudah cukup membantu kami,” ungkapnya melalui sambungan telepon.

Ke depan, Edward dan Chintya berencana membangun kerja sama dengan pemerintah untuk membuat toko-toko pangan sehingga bisa memangkas mata rantai distribusi yang panjang. “Menurut penelitian kami, dari petani sampai ke konsumen akhir ada tujuh mata rantai yang dilalui sehingga harganya sangat tinggi. Dengan adanya platform tersebut, akan bisa langsung memangkas 80-90% karena menyisakan satu hub yang menampung untuk semua ritelnya,” kata Edward.(*)

Jeihan Kahfi Barlian & Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Layanan Indosat Ooredoo Saat Ramadhan dan Lebaran

Diperkirakan sepanjang Ramadhan dan Lebaran ini, jaringan Indosat Ooredoo mengalami peningkatan signifikan. Untuk itu operator selular dengan warna korporasi kuning...

Close