Start-Up Harus Bangun Komunikasi Sejak Dini

Berawal dari suksesnya Facebook dengan lebih dari 900 juta pengguna, banyak start-up kemudian tampil lebih percaya diri. Alih-alih menghadirkan konsep baru dunia digital, tak sedikit start-up berguguran. Ternyata untuk menjadi start-up tidak bisa bermodalkan ide semata. Start-up perlu model bisnis dan pengembangan reputasi yang mampu menyelaraskan ide brilian. Dari sinilah kemudian Dian Noeh Abubakar, CEO Kennedy, Voice & Berliner (KVB) menegaskan, "Start-up perlu PR!"

Dian Noeh bersama tim KVB

"Sebelum start-up itu besar seperti Facebook," lanjut Dian, "mereka perlu PR. Justru mumpung masih pemula, reputasi harus mulai dibangun, begitu juga komunikasi dengan media."

Dian menambahkan, "Indonesia harus kelihatan brand-nya,". Ia pun berharap bisa membesarkan brand lokal sehingga start-up bagus tidak tenggelam. Diakui Dian konsep PR untuk start-up berbeda dengan PR untuk perusahaan besar. Industri PR dituntut mampu membuat program yang cost-effective namun keren dan memiliki efek jangka panjang.

"Misalnya Gojek dan AlumnIPB. Mereka berdua punya konsep bagus dan punya tujuan. Tapi kalau masyarakat tidak tahu konsep mereka, bagaimana spirit idenya, produk mereka tidak akan diminati," ungkap mantan Senior Vice President Weber Shandwick tersebut.

Menurut perempuan jebolan RMIT University tersebut,  PR untuk start-up baik digital maupun non-digital lebih tenang namun siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Strategi yang diterapkan pun berbeda-beda tergantung ke mana mereka akan membawa bisnis tersebut.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)