Steve Wirawan, Ciptakan Platform Berbagi Cerita

Steve Wirawan , pendiri Storial, social story telling platform

Mulanya sebuah tukar pikiran. Tahun 2015, Steve Wirawan berdiskusi dengan sahabat baiknya, Brillian Yotenega (Ega). Topiknya: industri literasi di Tanah Air. Kebetulan mereka berdua penikmat buku.

Mereka pun berbincang seputar tren dunia literasi. Namun, tak seperti Steve yang bekerja di industri properti, Ega tak hanya menjadi penikmat buku. Saat itu dia sudah memiliki perusahaan self-publishing: Nulisbuku. Ini adalah platform pencetakan buku on demand. Saat bertemu Steve, Nulisbuku baru berusia lima tahun. Sayang, pertumbuhannya tidak secepat yang diharapkan.

Dari berbincang itu, mereka merasa perlu ada satu terobosan agar dunia literasi meningkat sekaligus bisa menjadi bisnis bersama. “Kami melihat perlunya suatu platform yang memungkinkan penulis dan pembaca lebih cepat lagi dalam mengonsumsi bahan bacaan,” kata Steve. Mengapa begitu?

Mereka melihat minat baca masyarakat Indonesia terus meningkat. Hanya, akses untuk mendapatkan bacaan tampak masih kurang. Dengan adanya teknologi digital, termasuk yang bisa diakses lewat ponsel pintar, kendala ini semestinya bisa diatasi. Bahkan bisa lebih jauh dari itu: masyarakat dapat mengekspresikan diri lewat tulisan yang dibuatnya, untuk dibaca sebanyak mungkin orang. Begitu pikiran mereka.

Maka, lewat sederet diskusi lanjutan yang juga melibatkan Aulia Halimatussadiah, CEO Nulisbuku, akhirnya mereka bertiga melahirkan Storial. Ini adalah platform yang memungkinkan seorang penulis untuk mengunggah karya, entah itu puisi, cerpen, novel, atau naskah nonfiksi, dan berinteraksi dengan pembacanya. Para pendirinya menyebut platform yang mereka buat itu sebagai “social story telling platform”.

Lewat Storial, seseorang yang ingin menerbitkan karyanya memang bisa mengirim tulisan untuk dibaca serta dikomentari. Caranya mudah: mendaftar, dan setelah itu mengikuti petunjuk yang ada. User juga bisa bergabung dengan komunitas penulis sekaligus melihat beragam komentar dari komunitas pembaca tentang tulisannya.

Sejak muncul, perlahan tetapi pasti, Storial menjadi tempat nongkrong bagi peminat literasi. Hal tersebut tak terlepas dari strategi Steve dkk. dalam upaya membuat platform ini disenangi penggunanya. Pertama, ketiga sahabat ini menggunakan teknologi per bab, bukan langsung satu buku. Dengan strategi per bab, pembaca dibuat penasaran untuk membaca bab selanjutnya. Pembaca pun bisa memberikan komentar. Sementara dari sisi penulis, strategi ini mendorongnya kian giat melanjutkan karyanya.

Kedua, Steve dkk. membuat fitur monetisasi (Storial Premium Chapter) dan dompet digital (Storial Wallet). Dalam Storial Wallet tersebut, pembaca dapat mengelola semacam uang digital (Storial Coin) yang bisa digunakan untuk membaca tulisan berbayar. Sementara penulis memiliki fitur Storial Royalty untuk karya yang dihasilkannya.

Penggunaan Storial Wallet terbilang menarik karena Steve dkk. tidak menggunakan digital payment. “Kami ingin dengan adanya Storial Coin ini, pembaca terbiasa dengan currency yang kami punya. Jadi, tidak mutlak dalam mata uang rupiah, karena kami juga membagi komisi atau royalti kepada penulis. Kami ingin ada suatu mata uang yang dipahami komunitas kami,” kata Steve.

Yang ketiga, dia dan teman-temannya membuat jembatan antara Storial dan Nulisbuku. “Kami merekomendasikan kepada penulis bahwa setiap buku yang sudah selesai, bisa mereka cetak di Nulisbuku. Sudah lebih dari 1.000 cerita di Storial yang diterbitkan lewat Nulisbuku,” Steve menjelaskan. Di luar itu, mereka juga akan menjalin kerjasama dengan penerbit konvensional. “Kami akan menerbitkan buku dengan Gagas Media.”

Adapun yang keempat, para pengelola Storial terus memperkuat komunitasnya. Dibuat Storial Ambassador di setiap daerah yang dikembangkan. Mereka adalah penulis aktif di Storial. “Komunitas kami perkuat agar brand kami lebih terasa citarasa lokalnya,” kata Steve. Di luar itu, Steve dkk. juga menggandeng penulis profesional untuk ikut menulis di Storial. Kini total penulis di Storial mencapai 10 ribu orang, dan 10 penulis profesional. “Tahun ini target (penulis profesional) bertambah dua kali lipat.”

Sebagai social story telling platform, faktor konten menjadi perhatian para pengelola Storial yang kini berjumlah 15 karyawan. Agar tulisan berkualitas, mereka sering mengadakan kelas workshop penulisan. Di media sosial, secara aktif mereka juga memberikan tip bagaimana menulis yang baik.

Lalu, agar tampilan menarik bagi pembaca yang sudah mencapai 60 ribu orang, pengelola Storial membuat sejumlah kategori. Ada yang berdasarkan popularitas, ada yang berdasarkan pilihan tim editorial. Yang jelas, setiap minggu dipilih delapan buku pilihan, di samping cerita terbaru.

Lantas, bagaimana dengan revenue stream? Datang dari mana?

Bagi hasil dengan penulis dan advertisement. Kami juga sedang menjajaki kerjasama dengan para produser film dengan pelaku industri film untuk mengadaptasi cerita yang ada di Storial untuk menjadi audio-visual. Ini sedang progress,” Steve menjelaskan. Rencananya, dia menambahkan, tim Storial akan melakukan kurasi, melihat potensi cerita yang punya engagement bagus dari pembaca untuk kemudian ditawarkan kepada produser film. Sejauh ini, konten yang paling diminati pembaca Indonesia adalah romansa, fantasi, horor, dan komedi.

Nurisya Febrianti, penulis sekaligus pembaca di Storial, merasakan nikmatnya platform ini. “Kesan setelah menggunakan Storial, untuk menulis benar-benar sesuai dengan yang saya butuhkan. Ada banyak pembaca di Storial, jadi kesempatan untuk karya saya dibaca banyak orang lebih besar. Sementara dari sisi membaca, saya merasa nyaman karena tampilan Storial yang ramah di mata. Saya tidak lelah meskipun baca berjam-jam di ponsel, dan (Sorial) menyediakan fitur ulasan untuk setiap buku,” katanya panjang lebar. Ada dua karya yang diunggahnya di Storial, As Always I Love dan Untuk Setiap Kata yang Tak Bisa Terucap.

Storial, Steve mengungkapkan, masih terus memiliki rencana besar. Dari sisi produk, fitur-fitur baru akan dikembangkan sebagai faktor pembeda dengan aplikasi sejenis. Selain Storial, para penulis di Indonesia bisa menggunakan platform menulis lain untuk memublikasikan karya mereka, seperti Wattpad, Bookslife, hingga Penakota. “Kami akan melakukan banyak improvement di produk, teknologi. Kemudian, mengakuisisi penulis yang kami rasa sudah punya kualitas tulisan bagus. Kami juga ingin bisa bekerjasama dengan produser untuk membuat satu film atau series dengan mereka,” katanya menegaskan.

Reportase: Nisrina Salma

Riset: Armiadi Murdiansyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)