Sukses Wira dkk. Bisniskan Teknologi Chatbot

Wira Pradana (37 tahun) dan beberapa kawannya tahu betul bagaimana memanfaatkan perkembangan teknologi. Mengibarkan bendera PT Elektronik Virtual Asisten (EVA.id), mereka mengembangkan platform teknologi chatbot untuk membantu kalangan korporasi dalam memberikan pelayanan pelanggan.

Wira Pradana

Platform teknologi chatbot sejatinya bagian dari manajemen messaging service yang bisa berjalan di atas aplikasi seperti Telegram, Facebook Messenger, LINE, dan web-based chatbot. Chatbot EVA ini dapat digunakan untuk kepentingan divisi layanan pelanggan, pengelolaan manajemen, dan sistem transaksi. “Manfaat paling utama, untuk reduce cost dan mempercepat proses. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang sama dan sering muncul berulang kali. Maklum, sebenarnya pertanyaan yang diterima oleh customer service itu sering merupakan pertanyaan berulang. Hal-hal seperti itu tidak perlu dijawab oleh manusia, tetapi cukup dengan robot,” kata Wira, Co-founder dan pemilik EVA.id.

Wira dkk. awalnya berbisnis di bidang distribusi pulsa elektronik. Tahun 2015 mereka mencoba menfasilitasi para agen pulsa agar bisa lebih interaktif dan efisien dalam bertransaksi dengan membuat personal chatbot. Nama aplikasinya: Miun. “Ketika kami mengembangkan chatbot yang berbasis percakapan, ternyata interaksi agen-agen dengan chatbot berkembang dengan beragam pertanyaan. Akhirnya, kami menangkap bahwa pola itu bisa digunakan banyak perusahaan lain sehingga kami mendirikan startup EVA.id untuk dikomersialkan,” kata Wira.

Berdiri pada 2015, modal awal EVA hanya dari internal, sekitar Rp 3 miliar. Mereka punya duit lumayan karena sebelumnya sudah berbisnis pulsa. Tim inti EVA awalnya hanya sembilan orang. Wira sendiri bukan programmer dan lebih bertanggung jawab atas aspek pengembangan bisnis. Dia mendalami pemasaran digital dan sukses mengantongi Google Certified Partner sehingga cukup mengerti pemasaran digital untuk mendekati pelanggan korporat.

Dari sisi teknologi, kata Wira, chatbot merupakan interface (antarmuka) dari sistem existing yang dikonversi menjadi percakapan. Chatbot memproses percakapan melalui keyword yang dimasukkan oleh konsumen. “Kami tidak mengubah data, hanya membuat interface yang bisa diakses oleh konsumen. Dengan chatbot, customer bisa langsung mencapai apa yang dibutuhkan, cukup dengan chatting," kata lulusan Jurusan Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung ini.

Fungsi chatbot tak hanya sebatas pada layanan pelanggan, tetapi juga layanan transaksional yang terkoneksi dengan payment getaway. Yang pasti, memberikan kemudahan akses bagi customer dan meningkatkan engagement.

Tim EVA mencari pemasukan dari project development fees dengan kisaran harga Rp 50 juta-300 juta, bergantung pada fitur yang dibutuhkan. Selain itu, ada kredit chat seharga Rp 70 ribu/10 ribu respons atau proses. Dari sisi bisnis, saat ini EVA memiliki dua strategi. Pertama, mengerjakan custom project untuk korporat. Kedua, meluncurkan produk ritel ke end user dengan produk asisten keuangan digital untuk pengelolaan keuangan sehari-hari dengan segmen pasar: keluarga, perorangan, dan UKM. Layanan ini dinamai Monei.id -- berfungsi untuk mencatat dan mengecek keuangan personal dan usaha cukup lewat chat. Monei membuatkan laporan keuangan yang akurat mulai dari jurnal, arus kas, laba rugi, hingga neraca. Diluncurkan akhir 2017, saat ini Monei sudah memiliki 2.000 user. Layanan ini berbasis subskripsi dengan harga Rp 190 ribu/bulan.

Kini total pelanggan korporat EVA.id mencapai 20 perusahaan, melibatkan lebih dari 11 ribu user dengan statistik 3 juta chat/bulan. Pelanggannya antara lain PT Pos Indonesia yang menggunakan jasanya untuk pelayanan pelanggan dan tracking pengiriman. Juga ada Kementerian Ketenagakerjaan RI, Mandiri Taspen, Prodia, PT PP Properti Tbk, Daihatsu Finance, dan Electronic City. Menurut Wira, belum banyak pengembang yang bermain di sektor ini karena teknologinya cukup rumit. Dan, yang punya trusted customer atau klien korporat besar masih di bawah tiga pemain.

Ke depan, EVA sudah siap meluncurkan sejumlah produk baru untuk berbagai segmen. Di sisi lain, mereka juga terus mengikuti tren teknologi chatbot terbaru, termasuk dalam penggunaan artificial intelligence. Sehingga, chatbot akan memiliki kecerdasan yang bisa memahami pola bicara orang, memilah-milah perkataan yang masuk. “Kami terus mengembangkan chatbot EVA agar makin pintar belajar dari percakapan/input yang masuk serta lebih humanis secara bahasa dan respons," kata Wira. (*)

Sudarmadi dan Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)