Taufik Hidayat, Menjaring Ratusan Juta Rupiah dari Jamur

Hujan deras terjun bebas menerjang kumbung (rumah jamur) di Pengalengan, Bandung Selatan. Taufik Hidayat yang berada di kumbung itu sedang memanen jamur. Tanpa disadarinya, air menggenangi kumbung lantaran saluran air tersumbat. “Kami sedang panen, tanpa kami sadari air sudah sampai sebetis dan ada yang berbunyi kreeek, seperti suara roboh,” kata Taufik mengenang kejadian di tahun 2015. Dia bersama sejumlah pegawainya terkejut. Mereka pun berhamburan keluar agar tidak tertimpa material kumbung yang roboh itu. “Saya sedih, padahal waktu itu baru mulai usaha budidaya jamur dan meminjam uang ke teman untuk modal usaha,” ceritanya.

Taufik HidayatPengalaman itu tak membuat Taufik patah arang. Dia segera bangkit dan berhasil memperoleh dana segar dari sahabatnya untuk membenahi bisnis jamurnya itu. Taufik adalah pendiri Villa Mushroom Agrifarm yang berlokasi di Pangalengan. Pria kelahiran Bandung 1 Juni 1992 ini, belajar secara otodidak perihal tata cara bercocok tanam jamur dari forum petani jamur, teman yang berwirausaha jamur, dan artikel di Internet.

Taufik merintis usahanya dari modal yang ditabungnya selama menjadi karyawan. Kemudian, ia mengajak teman-temannya berpatungan untuk memenuhi kebutuhan modal usaha. “Waktu itu tabungan saya hanya Rp 10 juta. Saya meminjam dana teman-teman yang menjadi investor di budidaya jamur ini. Total modal sekitar Rp 100 juta,” ia menuturkan. Dana itu dibelanjakan untuk membiayai berbagai kegiatan operasional dan produksi, antara lain, menyewa lahan, membuat kumbung (tempat budidaya jamur) dan membeli berbagai keperluan lain termasuk bibit jamur.

Adapun tabungan Taufik yang sebesar Rp 10 juta itu dikumpulkannya ketika berkarier sebagai teknisi di PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Jakarta Utara, dan bekerja di PT Samsung Indonesia, Cikarang, Jawa Barat (2013-2014). Dia berhenti dari pekerjaannya awal tahun 2014 untuk merintis bisnis jamur di kampung halamannya. Lantaran pengetahuannya minim, Taufik menyambangi usaha jamur yang dikelola oleh teman kuliahnya di Cisarua, Lembang, Bandung. Di akhir tahun tersebut, dia memberanikan diri berwirausaha jamur kendati belum berpengalaman budidaya jamur. “Saya tergolong nekat,” katanya.

Di tahap awal, Taufik dibantu kedua kakak kandungnya yang berprofesi sebagai tukang ojek untuk membuat baglog (media tanam jamur) dan menanam bibit jamur di kumbung. Bibit itu disebar ke baglog. Sebanyak 25 ribu baglog ditampung di kumbung. Secara umum budidaya jamur biasanya berada di suhu udara yang relatif dingin, terlindung dari hujan, paparan langsung dari sinar matahari, dan bebas dari spora jamur lainnya. “Kami membeli bibit lalu disimpan di kumbung. Kami tunggu sekitar dua minggu, setelah itu bisa panen. Awal panen bisa mencapai 5 kg lalu naik bertahap menjadi 10 kg,” Taufik menguraikan. Saat ini, produksinya sebanyak 2 ton per pekan. Setelah panen, Taufik menjualnya ke pasar di Pengalengan.

Ia rutin menjual jamur ke pedagang jamur di pasar di Pengalengan. Taufik memiliki empat pelanggan. Mereka adalah pedagang jamur. Menurutnya, tantangan memasarkan produknya adalah menyiasati perantara yang selama ini mencengkeram tata niaga jamur di pasar tradisional. Perantara itu menentukan pihak tertentu yang diizinkan memasok jamur ke para pedagang di pasar. Taufik mengatasinya dengan mendatangi langsung rumah pedagang jamur yang dikenalnya itu. “Kami tidak mendekati pedagang di dalam pasar, melainkan ke rumahnya. Untuk pasar di Bandung, kami sudah saling mengenal dengan pedagang dan pemasok jamur yang berbeda jenis jamurnya,” tutur alumni Politeknik Negeri Bandung ini. Jamur yang dipasok Taufik adalah jamur tiram putih dan jamur cokelat. Sementara kenalannya itu memasok jamur kancing. “Sampai saat ini, kami fokus membudidayakan kedua jamur tersebut,” ia menambahkan.

Kini, Taufik menjadi pengusaha muda yang makmur dari hasil berbisnis jamur. Omsetnya melambung dua kali lipat. “Omset kami mencapai ratusan juta setiap tahun dari hasil penjualan baglog, jamur, dan bibit,” ungkapnya. Menurutnya, konsumen banyak yang membeli baglog jamur untuk mencoba-coba membudidayakan jamur. Taufik tak segan-segan memberikan konsultasi dan pengalamannya kepada konsumen yang hendak merintis bisnis jamur.

Konsumen, disebutkan Taufik, sangat meminati jamur yang dipasoknya itu. Untuk terus memperluas pemasarannya, dia ingin meningkatkan kapasitas produksi jamurnya. Peluang pasar yang diincarnya adalah Mayora, yang meminta pasokan sebanyak 2 ton, dan Kota Bogor (5 ton). “Sekarang kami bisa panen 1,5 ton dan membangun empat kumbung yang baru agar bisa memenuhi permintaan,” tuturnya. Kumbung itu seluas 11 x 7 meter dan menampung 12 ribu baglog. Baru-baru ini pihaknya merampungkan pembangunan kumbung terbaru yang bakal menambah produksinya. “Target produksi tahun ini bisa mencapai 1 ton per hari, sehingga setiap bulannya mencapai 30 ton,” ujarnya. Ke depan, dia ingin membidik konsumen di Pasar Caringin, Bandung, serta mempertimbangkan untuk memasok hotel dan supermarket. Untuk memuluskan rencana itu, Taufik berencana mendirikan entitas bisnis setingkat CV. Dia kini mempekerjakan 10 pegawai, sedangkan saat awal mendirikan usahanya, karyawannya hanya 1-2 orang.

Ujang Sumarwan, pakar perilaku konsumen dari Institut Pertanian Bogor, mengemukakan bahwa jamur merupakan salah satu komoditas yang mulai disukai konsumen Indonesia. Menanggapi bisnis jamur Taufik, Ujang mengapresiasi kegigihannya merintis bisnis jamur. “Taufik memulai bisnis dengan baik dan bahkan mampu memasok 2 kuintal per hari,” ujarnya. Agar kapasitas produksi meningkat, Ujang menyarankan Taufik bermitra dengan petani dan menambah lini produksi, serta menakar risiko yang bakal dihadapinya. “Taufik harus bekerja lebih keras untuk memberikan pelatihan kepada petani yang menjadi mitra dan rutin mengawasinya. Kelebihan sistem kerja seperti ini adalah sebagian risiko ditanggung oleh petani yang bersangkutan,” Ujang menjelaskan.

Lebih lanjut, Ujang menyarankan agar Taufik memperluas pasar ke pasar tradisional di Jakarta dan Bandung. Lalu, mengenalkan produknya ke supermarket. “Apabila dia bisa masuk ke pasar ini, dia punya peluang untuk meningkatkan produksi yang besar karena pasar modern memiliki jaringan yang luas, serta penetrasi pasar untuk ekspor dan menambah saluran penjualan melalui toko online,” tutur Ujang. Terkait hal itu, Taufik menjabarkan dirinya sudah bermitra dengan petani dan menjual bibit, baglog, dan jamur di Facebook Villa Mushroom Agrifarm. Sejauh ini, strategi penjualannya mengandalkan getok tular. Permintaan ekspor dari Belanda, Malaysia dan Filipina juga dibidiknya. Namun, dia belum bisa menyanggupi lantaran terkendala perizinan. “Semoga tahun depan sudah bisa mengekspor,” ujar Taufik berharap.

Vicky Rachman & Aulia Dhetira

Riset: Armiadi Murdiansyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)