Tiga Sekawan di Atas AwanTunai

Teknologi membuat segalanya lebih mudah. Inilah yang diusung AwanTunai untuk menjawab kebutuhan masyarakat mendapatkan pinjaman dana melalui lol ponsel mereka. Perusahaan rintisan berbasis teknologi keuangan atau financial technology (fintech) ini memudahkan proses pengajuan peminjaman.

Windy Natriavi Windy Natriavi, Chief Operating Officer AwanTunai

Calon debitor hanya diminta menyertakan identitas diri berupa KTP. Selanjutnya, calon debitor akan mengetahui status persetujuan pinjaman dalam waktu 15 menit melalui aplikasi AwanTunai di ponsel mereka. Menariknya, mereka yang tidak memiliki rekening bank sebelumnya pun bisa mendapatkan layanan pinjaman ini.

Masih rendahnya masyarakat Indonesia yang tersentuh layanan perbankan menjadi latar belakang lahirnya AwanTunai pada Februari 2017. Mengutip data Bank Dunia, hanya 37% masyarakat dewasa Indonesia yang sudah memiliki akses keuangan, 13% di antaranya mendapatkan pinjaman formal.

Artinya, mash ada 63% masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses keuangan. Padahal, pihaknya percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan akses ke produk finansial (keuangan inklusif) dan tentunya dengan proses yang cepat, serta biaya ekonomi yang wajar dan terjangkau. Di sisi lain, hingga 2016, sedikitnya 132,7 juta orang Indonesia sudah terhubung internet. Separuh dari angka ini terkoneksi dengan internet melalui perangkat ponsel pintar atau tablet mereka. 

AwanTunai menawarkan fasilitas pinjaman digital yang dapat diakses oleh semua orang dengan mudah, cepat, dan aman. Mudah karena hanya membutuhkan KTP dan cepat karena AwanTunai memiliki credit engine sendiri sehingga calon debitor bisa mengetahui persetujuan limit kredit dalam waktu 15 menit. “Kehadiran AwanTunai dapat mendukung institusi keuangan bank maupun nonbank untuk dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” ujar Windy Natriavi, Chief Operating Officer AwanTunai. Perusahaan rintisan ini pun sudah terverifikasi dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Saat ini, cukup banyak pemain fintech, termasuk yang masuk Peer-to-Peer (P2P) lending. Secara singkat, P2P lending adalah perusahaan yang mempertemukan para pemberi pinjaman (investor) dengan para pencari pinjaman (borrower) jadi satu. Pemain fintech pun ada dua jenis, yaitu fintech offline dan fintech online. Penjelasannya, fintech offline memberikan transaksi pinjaman melalui merchant-merchant seperti Carrefour dan Giant.

Adapun fintech online transaksi pinjamannya melalui berbagai merchant di marketplace seperti Tokopedia dan Traveloka. Lalu, juga ada dua jenis tipe pinjaman, yaitu cash loan dalam bentuk uang ke nasabah dan point of sales yang uangnya diberikan kepada pemilik merchant.

Nah, AwanTunai mulainya di offline, tetapi prosesnya dengan online. “Orang- yang tidak punya akses perbankan biasanya 95% cenderung bertransaksi di offline, mendatangi merchant produk yang diinginkan. Itulah mengapa kami mendekati pelanggan melalui gerai offline yang kami ajak kerjasama,” ungkapnya memberi alasan.

Pihaknya pun mencoba menggarapnya dengan cara offline karena melihat sudah banyak yang menawarkan P2P lending dengan online seperti Akulaku dan Teralite. Saat ini juga banyak lembaga pembiayaan yang bermain dari offline dulu seperti Home Kredit, AEON, dan Kredivo. Bedanya AwanTunai dengan mereka, pada proses persetujuan pinjaman yang dilakukan online hanya 15 menit.

Saat ini, AwanTunai memberikan pinjaman kepada nasabah menengah-bawah untuk pembelian ponsel pintar (smartphone). Nilai pinjamannya Rp 1,5 juta-5 juta per nasabah. AwanTunai pun sudah bekerjasama dengan Blue Bird, Indosat, dan Unilever untuk pembiayaan ponsel pintar bagi karyawannya. Untuk meminimalkan risiko, AwanTunai dalam menyalurkan pembiayaannya bekerjasama dengan sekitar 1.000 toko ponsel di Jabodetabek, termasuk akan menggarap toko ponsel di Semarang dan kota-kota lain. Selain kerjasama dengan perusahaan dan toko, AwanTunai juga sudah bekerjasama dengan Samsung, Oppo, dan Vivo untuk memudahkan mendapatkan produk ponselnya.

Jumlah nasabah yang sudah mengajukan kredit ponsel ke AwanTunai mencapai 100 ribu orang, tetapi yang memenuhi persyaratan dan sudah di-approve sebanyak lebih dari 10 ribu orang. “Kami sangat hati-hati dalam menyalurkan kredit. Itu sebabnya, kami juga menggandeng perusahaan mitra dan toko. Calon nasabah yang berasal dari perusahaan mitra dan yang datang ke toko lebih jelas orangnya untuk diverifikasi,” kata wanita kelahiran 2 Juni 1990 ini menegaskan.

Selama tahun lalu, dana yang sudah disalurkan ke nasabah sudah di atas Rp 5 miliar. Nah sejak Januari 2018, AwanTunai mendapatkan pendanaan dari Kredit Plus (PT Finansia Multi Finance) sebesar US$ 30 juta atau sekitar Rp 300 miliar. Dana sebesar itu ditargetkan bisa disalurkan kepada nasabah pada tahun ini. Itu sebabnya, tahun ini AwanTunai akan semakin agresif menggarap nasabah dan melakukan ekspansi ke berbagai kota di luar Jabodetabek.

AwanTunai didirikan oleh tiga sekawan: Windy Natriavi, Dino Setiawan, dan Rama Notowidigdo. Menurut Windy, perjalanannya mendirikan AwanTunai bersama dua rekannya itu setelah ia diajak Rama yang juga mentornya ketika di Go-Jek. Rama saat itu menjabat sebagai Chief Product Officer Go-Jek. Adapun Dino memiliki latar belakang di investment banker di Morgan Stanley. “Waktu itu kami ada consulting project di XL Axiata, Rama dengan Dino bertemu lalu muncul ide membuat AwanTunai,” ujar Windy yang pernah memegang posisi VP Pertumbuhan Go-Jek yang bertanggung jawab untuk penetrasi transaksi di Go-Jek melalui Go-Pay.

Tiga sekawan ini saling melengkapi saat mengembangkan AwanTunai. Rama yang tidak lagi berkarier di Go-Jek memiliki keahlian di bidang teknologi. Dino memiliki akses ke sumber pendanaan, dan Wndy diandalkan untuk mengelola operasional, pemasaran, produk, dan pengembangan, serta mengelola tim. “AwanTunai memang didirikan pada Februari 2017, tapi pinjaman mulai diberikan pada Juni 2017 dan Dino didaulat sebagai CEO,” kata Windy yang pernah bekerja di McKinsey Indonesia sebagai analis bisnis atau junior associate sebelum bergabung dengan Go-Jek.

Ke depan, AwanTunai akan bekerjasama dengan berbagai mitra untuk memberikan layanan kepada seluruh masyarakat, mulai dari pedagang kecil hingga perusahaan besar. Selain itu, ia berharap kehadiran AwanTunai tidak hanya membantu kemandiran finansial masyarakat Indonesia, tetapi juga bisa mendukung pemerintah dalam meningkatkan target inklusi keuangan.

Reportase: Herning Banirestu

Riset: Elsi Anismar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!