Akulaku Finance, Tangkap Peluang Tren Transaksi Digital di Masa Pandemi

Efrinal Sinaga, Presdir Akulaku.
Efrinal Sinaga, Presdir Akulaku.

Pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan yang cukup dalam bagi semua sektor ekonomi, termasuk sektor pembiayaan. Pada 2020, sektor ini mengalami kontraksi pertumbuhan minus 17%.

Namun, bagi manajemen PT Akulaku Finance Indonesia, situasi tersebut justru dinilai semakin mengarahkan konsumen untuk lebih selektif dalam menentukan prioritas antara kebutuhan (needs) dan kemauan (wants). “Pandemi menjadi salah satu game changer yang mengubah berbagai kebiasaan masyarakat untuk mengedepankan social distancing, transaksi digital, contactless, dan cashless,” kata Efrinal Sinaga, Presdir Akulaku.

Sebagai pelaku usaha pembiayaan digital, Akulaku bergerak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terlayani layanan perbankan. “Dengan semakin populernya penggunaan pembiayaan digital, kami berharap dapat terus meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia,” kata Efrinal. Akulaku sendiri, menurutnya, berhasil kembali on the track sejak kuartal III hingga akhir 2020.

Langkah yang dilakukan Akulaku adalah menghadirkan inovasi produk dalam bentuk kredit digital dengan merek Akucicil untuk membantu masyarakat kategori underserved dan unbankable. Fasilitas cicilan ini bisa digunakan pada lebih dari 600 merchant, termasuk sejumlah platform e-commerce. Pada transaksi e-commerce, fasilitas ini juga menjadi semacam metode pembayaran saat check out.

Di samping inovasi produk, Akulaku juga berkolaborasi dengan sejumlah mitra, dari kalangan marketplace, merchant baru, hingga perbankan untuk mewujudkan digital value chain. Akulaku pun memaksimalkan teknologi big data untuk melakukan risk management dan data analytics dalam ekosistem, yang bertujuan untuk memberikan pelayanan terbaik dan produk yang sesuai dengan kebutuhan.

Efrinal menyebutkan, penggunaan Akucicil mampu meningkatkan jumlah pelanggan/user baru sebanyak 30%. Sepanjang 2020, Akulaku mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan lebih dari 40%. Adapun kualitas penyaluran pembiayaan terlihat dari rasio non performing financing (NPF) netto yang terjaga di level yang sehat, sebesar 0,05%.

Di tahun 2021 ini, Efrinal mengatakan, Akulaku menargetkan penyaluran pembiayaan dapat tumbuh hingga 50% secara tahunan. “Kami optimistis target ini bisa tercapai karena semakin kuatnya adaptasi layanan keuangan digital oleh masyarakat, adanya pergeseran tren yang mengarah ke penggunaan layanan yang mengedepankan aspek teknologi, cashless, dan contactless,” katanya. Selain itu, dengan semakin gencarnya program vaksinasi Covid-19, pihaknya berharap akan semakin mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia dan meningkatkan volume pembiayaan perusahaan.

Akulaku juga telah mentransformasi proses bisnis dengan mengubah proses transaksi menjadi secara digital. Berbagai lembar dokumen ―seperti formulir aplikasi pembiayaan, pesanan pembelian, berita acara serah-terima barang, invoice, kontrak perjanjian pembiayaan, dokumen fidusia, surat kuasa, dokumen pendukung konsumen, slip bukti transaksi pembayaran, hingga lembar tanda pembayaran angsuran― terkonversi secara digital di dalam platform dan database digital Akulaku. Dengan konsep tersebut, perusahaan ini dapat menghemat penggunaan kertas yang mencapai 14,7 juta ton atau senilai Rp 7,2 miliar di sepanjang 2020.

Ke depan, Akulaku akan terus konsisten memberikan pelayanan pembiayaan digital yang dapat diandalkan. Selain itu, terus mengedepankan proses e-KYC (Know Your Customer) yang lengkap, proses transaksi yang transparan dan contactless, serta memperhatikan kontribusi positif kepada lingkungan hidup. “Kami ingin selalu hadir sebagai pilihan pembiayaan terbaik yang dapat diandalkan sekaligus meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia,” kata Efrinal.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)