Antis & Adem Sari, Pionir yang Terus Berinovasi

Ryan Tirta Yudhistira, Chief Sales & Marketing Officer Enesis Group.
Ryan Tirta Yudhistira, Chief Sales & Marketing Officer Enesis Group.

Dua merek dari Enesis Group tercatat di posisi teratas pada survei IOB periode ini, yaitu Antis dan Adem Sari. Penjualan Antis meningkat tajam di masa pandemi sebab antiseptic hand sanitizer menjadi barang wajib bagi setiap orang. Diungkapkan Ryan Tirta Yudhistira, Chief Sales & Marketing Officer Enesis Group, pabriknya harus bekerja keras dengan menambah shift kerja agar bisa memenuhi permintaan pasar yang mendadak besar hingga puluhan kali lipat.

“Kami harus menggenjot produksi, di saat bersamaan pemerintah memberlakukan PSBB pertama. Retailer saat itu terus menuntut agar dikirim padahal ada PSBB. Kami harus mengajukan approval dari pemprov dan Satgas Covid-19 agar bisa menjalankan produksi dengan prokes ketat agar pemintaan terpenuhi,” Ryan mengenang.

Selain menambah jumlah produksi, Enesis kemudian mengeluarkan Antis dalam bentuk sachet agar akses produknya bisa sampai ke kalangan lebih luas. “Distribusi Antis dengan sachet yang diluncurkan tahun lalu saat pandemi ini agar bisa sampai ke rural area. Bisa dibilang kami produk pertama hand sanitizer dalam bentuk sachet,” kata Ryan.

Tak hanya itu, inovasi pun terus dilakukan Antis untuk menghadapi tantangan tersebut dengan menyediakan produk dalam jerigen. Menggandeng Angkasa Pura, TransJakarta, dan Departemen Perhubungan, Antis menyediakan dispenser hand sanitizer di tempat umum agar masyarakat mudah mendapatkannya.

Selain itu, juga meluncurkan hand sanitizer dengan moisturizer untuk mencegah agar tangan tidak kering karena penggunaan yang sering. Antis nonparfum juga dihadirkan, khusus untuk rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

“Kami juga satu-satunya produk hand sanitizer yang food grade. Ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang suka makan pakai tangan. Jadi, setelah menggunakan Antis bisa langsung makan, tanpa takut bahaya kandungan alkohol atau rasa pahit di tangan,” Ryan menjelaskan.

Meski sudah sangat dikenal, pihaknya tetap perlu melakukan edukasi. Ryan mengatakan, agar relevan dengan iklim digital dan generasi milenial, pihaknya menggandeng key opinion leaders dengan cerita inspirasi.

Antis juga menjalin kerjasama dengan Citilink dan Tiket.com, memberikan healthy kit yang di dalamnya terdapat Antis, agar masyarakat tetap aman selama perjalanan. “Kami memberikan healthy kit tersebut saat naik pesawat atau di kamar hotel, agar bisa mendorong pariwisata Indonesia yang aman,” ujarnya.

Berbagai inovasi diterapkan pula pada Adem Sari yang hadir sejak 1994 ketika produk sejenisnya belum terlalu dikenal. Ryan menjelaskan, dengan kandungan herbal dan vitamin C, saat itu Adem Sari meluncur ke pasaran untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang kerap dilanda gejala panas dalam, seperti tenggorokan kering dan sariawan, akibat kondisi iklim tropis dan musim pancaroba di Indonesia.

Dalam perjalanannya mengelola produk ini, Enesis melakukan berbagai inovasi agar tetap relevan dengan zaman. Awalnya, dijual dalam bentuk serbuk yang dikemas dalam sachet, kemudian terus dikembangkan dalam hal kemasan dan varian. Memperhatikan kalangan milenial yang ingin produk yang lebih praktis, yang bisa langsung diminum dan bisa dibawa tiap bepergian, diluncurkanlah kemasan siap minum dalam bentuk kaleng dan botol sepuluh tahun lalu.

Pengembangan variannya, antara lain ada Air Sejuk Adem Sari dan Adem Sari dengan soda. Sampai yang terbaru, diluncurkan Adem Sari Ching Ku, yaitu minuman Sensa Cools Qing Ku yang dikemas menggunakan teknologi canggih cold filling. Kelebihan teknologi ini: proses pengisian dalam produksi dilakukan pada suhu rendah, sehingga bisa menjaga rasa alami dan memproduksi bahan-bahan aktif dengan khasiat yang lebih kuat. “Inovasi dalam kemasan kaleng dan botol serta rasa-rasa baru itu merupakan upaya kami agar dekat dengan generasi sekarang, dan bisa diterima pasar lebih luas,” kata Ryan.

Tantangan dalam melahirkan produk yang merupakan pionir, menurutnya, adalah edukasi. Sampai hari ini pihaknya terus melakukan edukasi, terutama mengenai pemahaman pentingnya mencegah panas dalam agar obat-obatan seperti antibiotik menjadi jalan terakhir.

“Tantangan dalam hal ini kami atasi dengan edukasi yang menarik bersama para key opinion leader. Dulu, sebelum pandemi, kami lakukan dengan seminar, lalu kampanye di lapangan, melakukan talk show, menggandeng partner seperti Kementerian Kesehatan. Lalu, selama pandemi ini kami gandeng juga Gugus Covid-19,” Ryan menerangkan.

Sebanyak 70% penjualan Adem Sari, katanya, datang dari pasar tradisional. Artinya, edukasi dan distribusinya berhasil sampai ke bawah karena sebagian besar masyarakat Indonesia belanja di pasar tradisional.

Di pasar e-commerce, Enesis membangun official store. Menurut Ryan, kanal e-commerce sangat membantu penjualan di masa pandemi ini karena produk lebih mudah diakses. “Di masa pandemi, penjualan kami justru melonjak, Adem Sari menjadi pilihan masyarakat. Mestinya ini sudah menunjukkan bahwa kami menjadi penguasa pasar,” katanya.

Adem Sari bisa terus bertahan berkat disiapkan secara matang dari riset yang lama, kekuatan edukasi, dan strategi pemasaran yang tepat, serta didukung strategi distribusi yang andal. “Adem Sari itu dari A sampai Z dilakukan orang Indonesia. R&D, bahan baku, produksi, dan pemasarannya dilakukan orang Indonesia. Jadi, ini memang produk asli Indonesia,” kata Ryan tandas.

Yosa Maulana & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)