Garam Cap Kapal, Berlayar Mengandalkan Kualitas

Robby Santoso, VP Divisi Penjualan dan Pemasaran PT Susanti Megah.
Robby Santoso, VP Divisi Penjualan dan Pemasaran PT Susanti Megah.

Berdiri sejak tahun 1978 di Surabaya, PT Susanti Megah termasuk perusahaan generasi awal yang memproduksi garam beryodium. Pada masa itu di Indonesia sedang merebak penyakit gondok. Susanti Megah kemudian digandeng UNICEF untuk kampanye memerangi gondok dengan yodium.

Sejak kampanye itu, perusahaan yang didirikan oleh Halim Santoso ini mulai beralih menggunakan bahan berstandar tinggi. Para distributor pun berdatangan. Barulah pada 1982, tercipta merek Cap Kapal. Namanya terinspirasi dari kapal di laut dengan harapan bisnisnya dapat maju seperti kapal yang berlayar dengan lancar. 

“Bisa dikatakan kami adalah pelopor garam beryodium pertama dengan packing bermerek karena pada saat itu di Indonesia belum banyak bermunculan merek pesaing,” kata Robby Santoso, VP Divisi Penjualan dan Pemasaran PT Susanti Megah.

Berbekal bahan baku kualitas premium dari 100% garam rakyat lokal, Cap Kapal mampu berlayar menembus pasar hingga saat ini. Hal ini juga tidak terlepas dari sejumlah strategi yang diterapkan untuk mengorbitkan mereknya. Robby mengungkapkan, Cap Kapal selalu melakukan pengembangan pada berbagai aspek, antara lain kemasan, mesin produksi, program loyalitas pelanggan dan petani, serta pemasaran di era digital. “Untuk Cap Kapal ini, kami pilih dari raw material terbaik. Banyak orang mengatakan garam Cap Kapal itu lebih gurih, lebih asin, meskipun pakainya sedikit,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini Cap Kapal sudah kuat di pasar menengah-bawah, dengan varian ukuran 250 gram dan 500 gram. Walau sudah menguasai pasar ini, Cap Kapal ingin terus memperbarui kemasan. Yang terbaru, kata Robby, akan meluncur di semester kedua tahun depan. Selain itu, juga akan mengeluarkan ukuran yang lebih kecil dan kemasan yang lebih menarik untuk merengkuh pasar menengah-atas. “Target pasar Cap Kapal ini di segala segmen, di pasar tradisional masuk, di high-end juga masuk,” ujarnya.

Untuk promosi digital, sejak dua tahun lalu mereka telah aktif di Instagram dan YouTube. Cap Kapal mengisi media sosialnya dengan video tentang keamanan produksi garam, mudik digital, juga tentang resep masakan, serta kegiatan di beberapa festival. 

Cap Kapal juga telah menghadirkan akses pembelian di e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Blibli, Bukalapak, Lazada, Agromaret, dan 100mart. Robby mengatakan, walaupun porsi penjualan terbesar ada di pasar tradisional, penjualan online terus meningkat signifikan, bahkan sejak terjadi pandemi bisa mencapai 100%.

Perusahaan juga rutin mengadakan community gathering untuk petani garam dan distributor setiap tahun di Surabaya, yang diisi berbagai materi, mulai dari edukasi, visi-misi perusahaan, sampai awarding bagi pemasok dan distributor terbaik. Sementara kepada masyarakat pembeli, Cap Kapal rutin hadir di berbagai festival. Salah satu kegiatan yang pernah sangat menyita perhatian adalah Saltchallenge, yakni menantang kekreatifan konsumen tentang garam yang dikemas dalam video satu menit.

Untuk bertahan di tengah gempuran garam impor dan garam rumahan, Robby mengatakan, perusahaannya menekankan pada upaya menjaga kualitas bahan baku dari pemasok. Di sisi lain, mereka pun terus mengomunikasikan bahwa Cap Kapal adalah garam untuk kesehatan karena beryodium.

Saat ini Cap Kapal berproduksi 10 ribu ton lebih per bulan, dengan rata-rata pertumbuhan penjualan tiap tahun sebesar 20-30%. “Dengan adanya inovasi baru, targetnya (penjualan) naik menjadi sekitar 50%,” ujar Robby.

Rencananya, Cap Kapal akan berekspansi ke negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina. Di sana mereka sedang dalam tahap pendaftaran. Ke sanalah mereka akan berlayar mengembangkan sayap bisnis. (*)

Yosa Maulana & Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)