Momogi, Perkuat Merek dengan Pemasaran Digital

Aggy Erlangga Amir, Kepala Pemasaran PT Sari Murni Abadi Group.
Aggy Erlangga Amir, Kepala Pemasaran PT Sari Murni Abadi Group.

Tahun genting 2020 berhasil dilalui dengan baik oleh PT Sari Murni Abadi Group (SMAG). Kendati dunia usaha sedang tidak stabil digerus Covid-19, perusahaan yang memproduksi makanan ringan ini berhasil mengantarkan Momogi, merek unggulannya, meraih brand value tertinggi di kategori Wafer Stick Jagung, sebesar 48,1.

Kinerja perusahaan skala keluarga yang kemudian berkembang menjadi perusahaan nasional ini belakangan memang terlihat moncer dengan debutnya di kategori makanan ringan (snack extrude). Momogi meninggalkan para pesaingnya dengan menguasai lebih dari 75% pangsa pasar wafer stick jagung.

Menurut Aggy Erlangga Amir, Kepala Pemasaran PT Sari Murni Abadi Group, hal itu karena perubahan strategi pemasaran yang lebih fokus dan terintegrasi. “Kami menjalankan strategi pemasaran yang terintegrasi di seluruh aspek pemasaran; baik dari distribusi, direct marketing, digital, branding, brand developement, dan brand awareness,” ungkapnya. Kini, Aggy menambahkan, pihaknya menitikberatkan pada pemasaran digital.

Bukan tanpa alasan Momogi genjot awareness melalui sarana digital. Pasalnya, konsumen Momogi umumnya adalah generasi baru yang dekat dengan internet dan media sosial. Sehingga, media digital memang yang paling efektif saat ini untuk menjadi media penyampaian strategi perusahaan ke konsumen. Medsos juga dirasakan paling efektif untuk menyampaikan citra positif perusahaan sekaligus paling mudah untuk membangun komunikasi yang baik dengan konsumen.

“Selain sebagai media komunikasi, media sosial ini juga kami gunakan sebagai media activation untuk membangun engagement, misalnya membuat semacam kontes di Facebook, di mana kami mengajak mereka untuk meng-create story yang berkaitan dengan produk-produk kami. Kemudian, kami pilih story yang paling menarik untuk mendapatkan hadiah,” Aggy memaparkan.

Tak hanya melakukan kampanye digital, penjualan Momogi pun mulai beralih ke e-commerce. Di masa pandemi Covid-19 sekarang, menurut Aggy, dengan e-commerce terbukti lebih optimal, baik jangkauan, kemudahan, maupun kecepatannya. Karena itu, perusahaan sengaja menggandeng mitra online, seperti Tokopedia dan Bukalapak, untuk men-deliver produk Momogi sampai ke tangan konsumen. “Kami menyiasati traffic ke store yang bisa dikatakan minus ketika saat PSBB (pembatasan sosial berskala besar),” ungkap Aggy. Sehingga, tambahnya, kebutuhan snack tetap bisa dipenuhi lewat pembelian di toko online.

“Kami memanfaatkan segala inovasi yang sudah ada, baik dari e-commerce, marketplace, maupun endorsement. Dan, menggandeng pihak ketiga yang sudah memiliki leverage di dunia digital ini, seperti Tokopedia dan Bukalapak,” kata Aggi. Kanal-kanal itu justru pada saat pandemi ini menjadi tulang punggung komunikasi dan pemasarannya. Sebagai gambaran, pertumbuhan penjualan Momogi di 2020 ini setelah terjadi pandemi Covid-19 sebesar kurang-lebih 11% dibandingkan tahun lalu.

Bagi Momogi, dalam kondisi sekarang yang penting adalah tidak berhenti berinovasi dan selalu optimistis ke depan akan lebih baik lagi. Seperti yang dilakukannya, Momogi selalu berinovasi dari segala aspek marketing mix: product, price, placement, dan promotion. Selain itu, Momogi juga berinovasi dengan mengembangkan beberapa varian baru, seperti biskuit, wafer, dan mie kremes.

“Pokoknya, kami konsisten berkomunikasi kepada target audience bahwa snack yang kami produksi membuat konsumen senantiasa ‘momogi’ atau ‘mau-mau lagi’,” kata Aggy meyakinkan. Perusahaan akan terus menciptakan produk yang diminati konsumen dan selalu konsisten menjaga kualitas produk. (*)

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)