Bank BJB, Dorong Karyawan Berinovasi

Yuddy Renaldi, Dirut Bank BJB
Yuddy Renaldi, Dirut Bank BJB

Dari sekian banyak bank pembangunan daerah (BPD) yang beroperasi di Indonesia, Bank BJB merupakan salah satu yang telah berusia di atas 50 tahun. Bahkan, bersama Bank DKI, Bank BJB tergolong BPD yang paling tua (didirikan tahun 1961).

Sebagai bank, Bank BJB tentu menghadapi tantangan dari sisi regulasi yang semakin banyak memberikan tekanan dalam hal likuiditas dan permodalan. Lalu, karena bergerak di industri perbankan, tantangan disrupsi teknologi tentu juga dihadapi Bank BJB. “Disrupsi teknologi telah mengubah lanskap kompetisi bisnis menjadi lebih kompleks, terutama dengan hadirnya penyedia jasa keuangan berbasis teknologi atau tekfin,” ujar Yuddy Renaldi, Dirut Bank BJB. Karena itu, menurutnya, perusahaan penyedia jasa keuangan sekarang pun seperti berlomba mengadopsi teknkologi terkini untuk menekan biaya operasi melalui otomasi, memberikan pengalaman unik melalui produk berbasis TI, sampai dengan mendorong SDM untuk berkreasi.

Bagaimana tantangan dari segi SDM? Meskipun tergolong BPD yang paling tua, menurut Yuddy, demografi Bank BJB justru didominasi karyawan milenial. Sebanyak 54,6% dari total karyawan bank ini berusia masih di bawah 30 tahun. “Ini seperti bonus demografi buat kami, tinggal bagaimana kami memanfaatkan momentum ini,” katanya.

Karena itu, menurut Yuddy, profil demografi seperti itu bisa dipandang sebagai kelebihan atau kekurangan. Menjadi kelebihan bila Bank BJB dapat mengoptimalkan kreativitas generasi muda, dengan mendidik dan mengasah potensi mereka, dan mendatangkan keuntungan dari segi output dan produktivitas. Sebaliknya, bila tak pandai mengelola, SDM generasi muda ini akan menjadi beban perusahaan dalam jangka panjang.

Menurut Yuddy, pihaknya menyadari usia perusahaan yang semakin menua, sedangkan di luar situasi cepat berubah. Karena itu, tim riset Bank BJB secara berkala melakukan analisis life cycle dari seluruh produknya. “Atas dasar analisis itu, kami menentukan strategi yang dapat diambil di setiap fasenya,” ujar sang dirut. Ia mengakui tidak seluruh produk Bank BJB sedang berada di fase pertumbuhan atau “grow”.

Yuddy mencontohkan, untuk produk yang telah mencapai fase “mature” bahkan “decline”, manajemen Bank BJB harus mengambil langkah cepat untuk melakukan inovasi, baik dengan repackaging ataupun adopsi teknologi. Menurutnya, langkah terminasi mungkin saja dilakukan jika memang produk tersebut sudah tidak laku di pasar. Adapun produk yang sedang di fase “grow” dimanfaatkan sebagai pemicu pertumbuhan (growth driver) bagi bisnis bank ini.

Seiring dengan perkembangan yang terjadi belakangan ini, Bank BJB juga mengaku melakukan langkah revitalisasi. Dalam hal ini, fokus pada aspek budaya perusahaan. “Pada tahun 2018 kami melakukan revitalisasi budaya perusahaan dengan memasukkan unsur innovation sebagai salah satu dari enam nilai budaya perusahaan,” kata Yuddy. Nilai-nilai budaya perusahaan (corporate values) hasil rumusan ini diberi sebutan Go SPIRIT. Kata “SPIRIT” merupakan singkatan dari 6 nilai tersebut, yakni Service Excellence, Professionalism, Integrity, Respect, Innovation, dan Trust.

Yuddy menyebutkan, manajemen Bank BJB berupaya mendorong seluruh karyawan untuk memberikan ide-ide terbaiknya. Salah satunya lewat kegiatan tahunan BJB Innovation Award, yang memberikan penghargaan kepada karyawan dengan ide kreatif terbaik untuk pengembangan bisnis. Nilai inovasi ini, menurutnya, penting didorong supaya karyawan lebih terbuka terhadap ide-ide dan tidak ragu dalam berpendapat, serta akan diperlukan dalam hal pengambilan keputusan, problem solving, ataupun pengembangan bisnis. “Kami rasa nilai innovation dalam budaya perusahaan kami sangat cocok dengan demografi karyawan yang didominasi generasi milenial,” katanya.

Dari hasil revitalisasi budaya perusahaan dengan menyuntikkan nilai inovasi tersebut, Yuddy mengaku produktivitas bisa meningkat karena inovasi mendorong penyelesaian pekerjaan yang kompleks menjadi lebih sederhana, dengan solusi yang inovatif. Selain itu, inovasi teknologi yang diterapkan lewat otomasi meningkatkan efisiensi dalam operasional bank.

Kinerja bisnis Bank BJB secara keseluruhan terjadi peningkatan. Yuddy menyebutkan, penyaluran kredit secara year on year (yoy) meningkat 8,2%, penghimpunan dana pihak ketiga naik 7,0%, dan total aset meningkat 6,4%. “Meskipun dari sisi laba hasilnya belum optimal, karena besarnya tekanan regulasi yang berdampak terhadap biaya bank yang harus dipenuhi di tahun 2019 ini,” katanya mengakui.

Adapun jika dilihat dalam rentang lima tahun, rata-rata pertumbuhan tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) penyaluran kredit Bank BJB sebesar 9,52%, dan penghimpunan dana pihak ketiga 11,01%. Yuddy membanggakan bahwa angka rata-rata pertumbuhan tersebut berada di atas CAGR industri perbankan Indonesia, yang sebesar 8,13% untuk kredit dan 6,63% untuk dana pihak ketiga.

Khusus mengenai kredit, portofolio kredit Bank BJB masih didominasi kredit konsumsi, dengan pangsa pasar pada posisi Mei 2019 sebesar 3,99% dari total penyaluran kredit secara nasional. Nilai tersebut relatif besar, mengingat aset bank ini terhadap industri perbankan nasional hanya sebesar 1,35%.

Ke depan, menurut Yuddy, pihaknya masih konsisten dengan visi untuk masuk dalam daftar 10 bank terbesar dan berkinerja terbaik di Indonesia. Untuk itu, manajemen Bank BJB selanjutnya akan memberikan perhatian besar pada tiga hal, yakni reposisi bisnis, reengineering TI, dan reorganisasi. (*)

Joko Sugiarsono/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)