Kereta Api Indonesia, Terus Melaju Melewati Lintasan Perubahan

Edi Sukmoro, Direktur Utama  PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI
Edi Sukmoro, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI

Laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) volume penumpang PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI selama lima tahun terakhir ialah 14%, sedangkan laju volume barang sebesar 13%. Pertumbuhan KAI ini berada di atas rata-rata pertumbuhan industri transportasi dan logistik yang mencapai 10-11%. “Peluang bisnis kereta api masih cukup besar, baik dari sisi penumpang, barang, aset, maupun dari anak perusahaan,” kata Edi Sukmoro, Direktur Utama KAI.

Lalu, apa yang dilakukan KAI untuk meningkatkan bisnisnya? Menurut Edi, untuk angkutan penumpang, KAI sedang melakukan reaktivasi jalur-jalur nonaktif yang akan menambah rute layanannya. Rute-rute baru juga terus dipelajari apakah memang pasarnya ada dan akan menguntungkan jika KAI mengoperasikan rute tersebut. Salah satunya, kereta api (KA) bandara yang sedang dikerjakan di beberapa wilayah. Dengan adanya KA bandara, alternatif moda transportasi masyarakat dari dan menuju bandara akan semakin banyak. Di wilayah Jabodebek, KAI akan mengoperasikan LRT Jabodebek yang melayani masyarakat di wilayah Cibubur dan Bekasi menuju Stasiun Dukuh Atas, Jakarta.

Peluang lainnya untuk angkutan penumpang jarak jauh yaitu melakukan investasi sarana angkut dan menciptakan produk layanan angkutan baru. Pertama, pengadaan 20 unit lokomotif shunting di 2019-2020 untuk mengganti lokomotif langsir, sehingga dapat mengoptimalkan lokomotif langsir tersebut untuk menambah perjalanan KA baru. Kedua, pengadaan 24 trainset kereta baru untuk menggantikan KA yang masih menggunakan kereta yang usianya lebih dari 30 tahun. Pengadaan lokomotif baru di 2022 untuk mengganti lokomotif tua seperti CC201. Ketiga, pembentukan loop line mirip jalur Joglosemarkerto (Jawa tengah) di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur, serta peluang potensi tinggi untuk volume angkutan komuter menggunakan KRL atau LRT di berbagai wilayah kota besar, seperti Yogyakarta, Surabaya, Cirebon, Semarang, dan Bandung. Tantangannya, belum adanya prasarana listrik aliran atas yang harus disediakan pemerintah (Kementerian Perhubungan).

Edi menjelaskan, dari segi angkutan barang, KAI juga terus memetakan potensi angkutan baru yang ingin memanfaatkan moda transportasi KA. Tidak hanya angkutan batu bara di Sumatera Selatan, komoditas lainnya juga masih berpotensi untuk ditingkatkan angkutannya. Salah satunya, bisnis angkutan ritel. Ada sekitar 11 mitra angkutan di Jawa yang ingin bergabung dan delapan mitra angkutan batu bara, dengan estimasi total volume yang diangkut 20 juta ton.

Di bidang pengusahaan aset, KAI terus memaksimalkan pendapatan dari aset-aset yang dimiliki. Peluang dari periklanan di stasiun, persewaan rumah perusahaan, tanah, dan aset lainnya masih terus berkembang. KAI juga melihat adanya peluang dari pengembangan stasiun di wilayah kota-kota besar. Bekerjasama dengan BUMN Karya, KAI akan mengembangkan kawasan Transit Oriented Development (TOD), yang nantinya dalam satu wilayah akan ada kawasan residensial, komersial, dan transportasi publik.

Lalu, pihaknya mengembangkan TOD di wilayah stasiun yang memiliki nilai komersial aset yang tinggi (khususnya DAOP I Jakarta), yang juga memberikan peluang bisnis tambahan yang dapat dikelola oleh anak perusahaan KAI. Sebagai contoh, anak perusahaan dapat mengembangkan bisnis ritel (restoran/kafe, logistik pengiriman barang, minimarket, iklan, dan reklame) serta bisnis building management (apartemen, sewa gedung perkantoran, hotel, kebersihan kantor, penyediaan petugas sekuriti) untuk memenuhi kebutuhan penumpang di sekitar stasiun.

Bicara upaya menghadapi VUCA, Edi yang sebelumnya 32 tahun berkarier di PLN ini menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi KAI saat ini adalah terbatasnya prasarana KA yang tersedia sehingga pihaknya belum mampu menjangkau pasar lainnya. “Dengan keterbatasan jalur yang tersedia, KAI akan terus memaksimalkan berbagai potensi yang ada. Hal tersebut terbukti, dengan pertumbuhan penambahan jalur KA setiap tahunnya yang terbatas, KAI mampu meningkatkan kapasitas volume angkutan penumpang dan volume angkutan barangnya. Saat ini pemerintah secara bertahap telah mengembangkan double track di berbagai jalur KA, serta melakukan reaktivasi jalur kereta api,” paparnya.

Di era seperti ini, KAI juga terus mengembangkan sisi teknologi informasi (TI) di berbagai bidang usahanya. Pengembangan sistem ticketing, aplikasi penjualan tiket, sistem angkutan barang, pemasangan Wi-Fi di kereta dan stasiun, dan hal-hal lainnya merupakan langkah KAI untuk menjawab tantangan terkait kebutuhan masayarakat yang saat ini serba online.

Di sisi pengembangan angkutan penumpang, KAI terus berimprovisasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Di akhir 2017, aplikasi pemesanan tiket resmi milik KAI, yakni KAI Access versi terbaru, diluncurkan. Dengan aplikasi tersebut, penumpang semakin dimudahkan. Mereka bisa pesan tiket, melakukan check-in, pesan porter, bahkan pesan makanan langsung dari ponsel masing-masing. Calon penumpang tidak perlu lagi melakukan check-in dan cetak boarding pass di mesin check-in counter di stasiun. Mereka bisa langsung menuju boarding gate untuk pemeriksaan identitas dengan menunjukkan e-boarding pass di layar ponsel kepada petugas. Kini aplikasi tersebut juga melayani pembelian tiket KA lokal, pembatalan tiket, dan perubahan jadwal KA.

Terkait umur perusahaan yang telah melewati 50 tahun, disampaikan Edi, hingga Juni 2019, KAI memiliki 18.503 karyawan, sekitar 61%-nya adalah generasi milenial. “Hal tersebut merupakan tantangan bagi KAI agar mampu memaksimalkan personel yang ada menyesuaikan dengan gaya hidup milenial yang berbeda,” katanya.

Dalam rangka peningkatan performa perusahaan ke arah yang lebih baik, KAI telah melakukan banyak perubahan besar di semua proses bisnis, antara lain aspek teknologi, tata kelola, serta kualitas pelayanan kepada pelanggan. Modernisasi perangkat dan fasilitas dengan memanfaatkan TI serta peningkatan ketatakelolaan harus didukung secara efektif oleh fungsi SDM dan budaya kerja perusahaan yang baik. KAI pun telah mengambil langkah strategis dengan terus meningkatkan pengembangan SDM untuk memenuhi tuntutan dunia industri yang terus berkembang.

Selain itu, untuk menghadapi tantangan bisnis ke depan yang cepat berubah, transformasi dilakukan terutama dalam upaya meningkatkan layanan kepada pelanggan. “Transformasi untuk perubahan yang lebih baik terus dilakukan KAI. Transformasi tersebut menyentuh aspek angkutan penumpang, angkutan barang, dan pengusahaan aset,” kata Edi.

Selama tiga tahun terakhir, KAI juga mengembangkan angkutan massal berbasis rel di berbagai daerah. Di Palembang, KAI mengoperasikan angkutan LRT Sumatera Selatan pada pertengahan 2018, bertepatan dengan pergelaran Asian Games di Jakarta-Palembang. Pada 2018, mengoperasikan dua kereta bandara, yakni Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan Kereta Bandara Minangkabau. Integrasi antarmoda transportasi ini diharapkan akan semakin memudahkan mobilitas penumpang.

Pada April 2019, KAI membuka fasilitas coworking space untuk memudahkan penumpang yang ingin bekerja dengan ruang yang nyaman saat berada di stasiun. Fasilitas coworking space ini tersedia di sembilan stasiun, yaitu Stasiun Gambir Jakarta, Juanda Jakarta, BNI City Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang Tawang, Yogyakarta, Surabaya Gubeng, dan Jember. Peningkatan pelayanan lainnya dilakukan dengan menambah rute baru, menyediakan area bermain anak, serta memperluas dan mempercantik ruang tunggu stasiun. Di sektor angkutan barang, revitalisasi dilakukan baik di sisi prasarana, sarana, maupun TI.

Adapun pada sektor aset, ada tiga fokus dalam mengoptimalisasi aset KAI yang begitu luas. Yaitu, pengembangan stasiun-stasiun besar, pengelolaan aset potensial di lokasi-lokasi yang strategis, serta pengembangan bisnis ritel di berbagai stasiun besar ataupun kecil.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan manajemen KAI, moda transportasi KA semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini terbukti dengan meningkatnya volume penumpang KA dari tahun ke tahun. Pada 2016, KAI mengangkut 352,3 juta penumpang. Di 2017, jumlahnya naik 12% menjadi 394,1 juta penumpang. Lonjakan penumpang berlanjut di 2018 dengan jumlah total 425 juta penumpang atau naik 8%. Semester I/2019, terjadi peningkatan 2% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pada semester I/2019 KAI melayani 210 juta penumpang, sedangkan di semester I/2018 melayani 207 juta penumpang.

Dari sisi angkutan barang, kinerjanya juga mengalami tren positif. Pada semester I/2019, KAI telah mengangkut 22,7 juta ton barang. Angka ini naik 6% dibandingkan semester I/2018, yang sebesar 21,4 juta ton barang. Angkutan tertinggi masih komoditas batu bara, sebesar 15,9 juta ton.

Lalu, apa target dan rencana ke depan? Menurut Edi, KAI menargetkan volume angkutan penumpang di 2019 mencapai 435 juta penumpang, atau naik 4% dibandingkan realisasi 2018 yang sebesar 425 juta penumpang. Untuk angkutan barang, target volume 53 juta ton, naik 18% dari realisasi 2018 yang sebesar 45 juta juta ton.

Selain itu, berbagai inovasi pemasaran, TI, sarana, prasarana, pola operasi, dll. juga akan terus dilakukan untuk mencapai target yang ditetapkan perusahaan. Untuk proyek yang masih berjalan, seperti LRT Jabodebek, KA Bandara Adi Soemarmo, KA Bandara Yogyakarta, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dan reaktivasi jalur KA, secara bertahap akan dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu. (*)

Herning Banirestu dan Dede Suryadi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)