Prambanan Kencana, Nama Penting di Balik Bisnis Kuliner Indonesia

Danny H. Solichin, Presiden Direktur  PT Prambanan Kencana.
Danny H. Solichin, Presiden Direktur PT Prambanan Kencana.

Didirikan pada 1953, PT Prambanan Kencana merupakan salah satu pelopor bisnis di bidang food supply terlengkap yang melayani industri makanan dan ritel di Indonesia. Mengawali bisnisnya sebagai importir bahan kimia dan agro, perusahaan ini sekarang telah menjelma menjadi pemain utama di bidang baking ingredients.

Menengok sedikit sejarahnya, Hidayat Solichin, sang pendiri, di tahun 1970-an bertemu dengan representatif produsen ragi asal Belanda, Zeelandia International, yang sedang mencari distributor untuk wilayah Indonesia. Mereka tertarik untuk menjalin hubungan bisnis dengan Prambanan Kencana, dan akhirnya sepakat menunjuknya sebagai distributor di Indonesia.

Di tahun 1980-an, Prambanan Kencana mulai membangun usaha food manufacturing untuk baking ingredients yang produknya dijual ke hotel, bakery, katering, dan restoran. Sekarang, perusahaan ini sudah dikenal sebagai salah satu pemain penting di produk baking ingredients. Produk unggulannya sampai sekarang adalah cokelat compound dan bakery mixes yang mulai diproduksi tahun 1987.

Kini tongkat kepemimpinan dipegang generasi penerus, yakni Danny H. Solichin, yang menjabat sebagai presdir. Ia memegang filosofi untuk tidak akan memproduksi dan mendistribusikan barang yang ia sendiri tidak mau mengonsumsi.

“Artinya, kami tidak ingin memproduksi bahan dengan kualitas rendah meskipun pasarnya besar. Bahkan, standar yang kami terapkan adalah standar internasional,” kata Danny, yang bergabung sejak 1995.

Terobosan penting yang digagas Danny adalah memperlebar varian produk. Dari yang semula hanya mendistribusikan produk dry goods, kini Prambanan Kencana sudah masuk juga ke bisnis distribusi produk refrigerated items atau produk yang memerlukan jalur pendingin seperti keju, susu, dan mentega.

Secara keseluruhan, total produk yang diproduksi dan didistribusikannya sekitar 2.000 item. Nama besar yang menjadi kliennya antara lain A&W, BreadTalk, Dunkin’ Donuts, Kartika Sari, KFC, Krispy Kreme, Pizza Hut, Starbucks, Four Seasons Hotel, Hotel Mulia, Hotel Grand Hyatt, Alfamart, Indomaret, Giant, Campina, Indofood, Nestle, dan Mayora.

Prambanan Kencana pada dasarnya berbisnis secara business to business (B2B). Namun, ada sebagian kecil produk yang dijual secara business to consumer (B2C), baik melalui gerai ritel modern maupun tradisional.

Selain memproduksi sendiri baking ingredients, perusahaan ini juga mengimpor produk untuk kemudian dipasarkan. Karenanya, portofolio produknya cukup komplet. “Kelengkapan produk ini juga merupakan selling point Prambanan Kencana,” kata Danny.

Melalui salah satu anak perusahaannya, Prambanan Kencana sudah melakukan ekspor ke lebih dari 30 negara. Mayoritas ke Malaysia dan Filipina. Menurut Danny, meski pasar ekspor terus mengalami pertumbuhan, pihaknya tidak ingin terlalu agresif melakukan ekspor, lantaran pasar domestik masih berpotensi.

Untuk menjawab kebutuhan bisnis di era digital, perusahaan ini sedang dalam proses transformasi digital. Di antaranya, untuk kebutuhan monitoring dan pembayaran digital. Upaya lain yang juga dilakukan adalah menyelenggarakan demo masak secara online sejak 2020. Sebelum pandemi merebak, perusahaan banyak melakukan aktivitas demo masak dan membuat kue secara offline, sedangkan selama pandemi lebih banyak beraktivitas secara online.

Akibat pandemi, yang juga memukul sektor pariwisata, Danny mengakui, pihaknya mengalami penurunan bisnis 8% pada 2020. Terlebih, banyak klien yang berasal dari kalangan perhotelan, sehingga otomatis suplai ke hotel menjadi minim. Distribusi ke hotel penurunannya mencapai 75%.

Sebelumnya, rata-rata pertumbuhan bisnisnya 7,5% per tahun. Tahun ini, targetnya tumbuh dua digit, meski masih terlalu dini untuk menyebutkan angka karena pasarnya masih unpredictable. “Namun, penjualan di bulan Maret dan April sudah lebih baik, sehingga kami berharap tetap sustainable,” kata Danny.

Ia menyadari, jika pihaknya tidak mengikuti perkembangan zaman, bisnisnya bisa redup. “Karena itu, kami harus terus mencari peluang dan melakukan improvement secara terus-menerus,” ujarnya tandas.

Jumlah karyawannya kini sekitar 1.300 orang. Karyawan milenial sudah melebihi jumlah karyawan nonmilenial.

Menurut Danny, ada kiat bisnis yang dijalankan sehingga perusahaan bisa berumur panjang. Pertama, lebih konservatif. Kedua, bersikap respek dan menghargai pendapat orang lain, sehingga karyawan bisa bekerja seperti keluarga. Sehingga, perusahaan bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah. “Kita harus menghargai semua orang, dari level bawah hingga direksi. Jangan sampai ada hero, karena semua adalah kerja tim,” katanya menegaskan.

Ke depan, inovasi dan rencana diarahkan ke e-commerce. Saat ini, Prambanan Kencana sudah melakukan penjualan online. Meski nilainya masih kecil, ia mengklaim, pertumbuhannya bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat.

“Kami masih mencari formula yang tepat untuk bisa memaksimalkan pertumbuhan melalui digital,” kata Danny. “Kami juga ingin agar industri makanan di Indonesia naik kelas, sehingga masyarakat bisa mengonsumsi produk yang berkualitas,” katanya lagi. (*)

Jeihan K. Barlian & Anastasia A. Suksmonowati

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)