Sucofindo, Updated dan Responsif terhadap Perubahan

Bachder Djohan, Direktur Utama Sucofindo
Bachder Djohan, Direktur Utama Sucofindo

Berdiri pada 22 Oktober 1956, PT Superintending Company of Indonesia (Persero) atau lebih dikenal dengan nama Sucofindo merupakan badan usaha milik negara yang dibangun Pemerintah Republik Indonesia bersama SGS, perusahaan inspeksi terbesar di dunia yang berpusat di Jenewa, Swiss. Visi perusahaan ini adalah menjadi perusahaan kelas dunia yang kompetitif, andal, dan terpercaya di bidang inspeksi, pengujian, sertifikasi, konsultasi, dan pelatihan. Boleh dibilang, Sucofindo merupakan pemain utama penyedia jasa testing, inspection, certification (TIC) di negeri ini, yang sudah bertahan selama 63 tahun.

Bachder Djohan, Direktur Utama Sucofindo, menjelaskan bahwa untuk menghadapi semua tantangan, perusahaan memang harus peka dan tanggap terhadap adanya disrupsi di semua aspek bisnis, terutama di bidang digital, serta kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).

Langkah yang dilakukannya: mendigitalisasi proses bisnis. Lalu, memanfaatkan teknologi di setiap moment of truth seperti dalam hal pemasaran dan penjualan dengan aplikasi SIAP CRM; pelaksanaan pekerjaan dengan investasi peralatan UAV (Drone), Seismic, XRF untuk uji bahan tambang, dan peralatan terkini lainnya; penagihan dengan aplikasi ERP; serta pascapelaksanaan pekerjaan dengan aplikasi ERP.

Strategi lainnya adalah kaderisasi, salah satunya membuat Rencana Jangka Panjang Pegawai (People Roadmap 2019-2023) dan Sucofindo Talent Management System untuk dukungan bisnis dan operasional. Juga dilakukan pengembangan kompetensi sesuai dengan kebutuhan bisnis dan membuat budaya kerja tim.

Dalam tiga tahun terakhir ini, Sucofindo pun telah melakukan tranformasi/revitalisasi guna menjawab berbagai tantangan baru. Pertama, mengembangkan bisnis pada pasar sektor teknologi informasi dengan membentuk Project Management Unit (PMU) Sucofindo Technology. Kedua, mengembangkan aplikasi yang terintegrasi seperti Enterprise Resource Planning (ERP) yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

Ketiga, pada 2019 mendigitalisasi proses bisnis, salah satu strategi utama perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan laba serta menekan biaya operasi (efisiensi). Keempat, melakukan investasi peralatan laboratorium, seperti XRF, Seismic, serta Drone/UAV untuk survei dan pemetaan dalam peningkatan mutu dan kecepatan pelayanan.

Tujuan Sucofindo antara lain tetap dapat memanfaatkan secara optimal semua peluang yang terjadi di masa VUCA dan disruptif seperti sekarang. Selain itu, dari sisi manajemen, berusaha lebih peka terhadap perubahan lingkungan bisnis yang dihadapi dan memberi contoh dalam pemanfaatan teknologi yang diimplementasikan di perusahaan. Dari sisi people, mempersiapkan personel yang selalu meningkatkan kapabilitas dalam semua aspek kegiatan. Adapun dari sisi proses, memastikan digitalisasi proses bisnis terlaksana sesuai dengan rencana.

Bachder juga menjelaskan strategi pencapaian kinerja perusahaan. Untuk pertumbuhan bisnis, misalnya, melakukan inovasi bisnis dan pengembangan pasar dengan membuka unit pelayanan baru, serta memasuki sektor industri yang sedang berkembang seperti elektronik, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, pariwisata, makanan dan minuman, lingkungan, serta infrastruktur. Kemudian, menciptakan sumber pendapatan baru (new revenue stream), melakukan sinergi induk-anak, serta menjalin kerjasama dengan mitra strategis. Contohnya, bekerjasama dengan HCTI Korea Selatan yang didukung Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk pengujian radio frekuensi untuk ponsel, komputer genggam, dan tablet.

Dengan berbagai strategi yang dilakukan itu, Sucofindo pun dapat meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan bisnis, yaitu dengan tercapainya pendapatan dan laba korporat di 2018. Kondisi ini berdampak pada tingkat kesejahteraan pegawai yang juga meningkat. Selain itu, terjadi pula efisiensi bisnis. Misalnya, kinerja keuangan terkait dengan umur piutang yang semakin rendah, optimalisasi seluruh infrastuktur perusahaan, penanganan piutang yang optimal, dan cash flow management yang optimal.

Pencapaian lainnya, tumbuhnya bisnis baru seperti konsultansi green port, laboratorium pengujian untuk telepon seluler (radio frekuensi), pengujian halal, pengujian alat kesehatan, dan pengujian luminer dan audio visual. Selain itu, terjadi perluasan sertifikasi produk, antara lain sertifikasi di bidang pariwisata seperti hotel dan biro wisata/umroh. “Kami juga memperoleh beberapa award selama tiga tahun terakhir, baik yang terkait dengan pemasaran, penjualan, teknologi, maupun CSR,” kata Bachder bangga.

Peluang bisnis TIC ke depan adalah adanya upaya mendukung regulasi. Misalnya, untuk perlindungan konsumen terkait standar keamanan dan kesehatan produk untuk komoditas tertentu, seperti pakaian dan mainan anak, produk listrik, infrastruktur, alat kesehatan, serta produk halal. Lalu, adanya penghematan biaya bagi pelaku usaha, alih daya kegiatan inspeksi dan pengujian, perlindungan merek, pertumbuhan sektor industri baru, serta globalisasi.

Berdasarkan data MarketsandMarkets 2017, pertumbuhan industri TIC global (2015-2020) sebesar 5%, sedangkan TIC di Indonesia 7,2%. Market size industri ini di Indonesia adalah Rp 11,8 triliun pada 2018 dan Rp 8,8 triliun pada 2019. “Pertumbuhan rata-rata Sufocindo dalam lima tahun sebesar 12,5%,” ujar Bachder. Adapun pangsa pasarnya 21,03% pada 2018.

Nah, tantangan yang dihadapi Sucofindo dalam menangkap berbagai peluang tersebut adalah bagaimana perusahaan ini dapat terus updated dan responsif terhadap segala perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis, seperti perubahan politik, ekonomi, sosial-budaya, dan teknologi. Intinya, Sucofindo harus selalu mempertahankan dan meningkatkan kompetensi inti (jasa TIC) serta selalu responsif terhadap perubahan lingkungan bisnis.

Dengan demikian, Bachder berharap jangan sampai terlena dengan zona nyaman (penugasan pemerintah), menyepelekan keluhan yang disampaikan pelanggan, tidak aware terhadap pesaing baru (merasa unggul dibandingkan pesaing), dan mengabaikan perubahan yang terjadi pada era digitalisasi dan Industri 4.0 ini.

Ke depan, Sucofindo menargetkan menjadi perusahaan TIC terintegrasi yang terkemuka di regional dengan penguasaan pasar yang signifikan (memimpin pasar). Kemudian, juga menjadi pemimpin pasar untuk jasa assurance melalui diversifikasi dan spesialisasi, serta terintegrasi dalam jasa pengujian, inspeksi, sertifikasi, konsultansi, dan pelatihan. (*)

Dede Suryadi dan Arie Liliyah

www.sw.a.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)