Mandiri e-Money, Fokus Dorong ke Arah Cash Society

Thomas Wahyudi, SVP Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Di tengah guncangan pandemi Covid-19 yang menyebabkan krisis multidimensi yang sangat berat, pertumbuhan transaksi elektronik masih menggiurkan. Bank Indonesia mencatat, pada Maret 2021 nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp 21,4 triliun, tumbuh 42,46% dibandingkan Maret 2020 (year on year).

Thomas Wahyudi, SVP Transaction Banking Retail Sales PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., pun mengamini, pertumbuhan penggunaan uang elektronik ini cukup besar. “Jadi, memang ada new habit sekarang, yaitu menggunakan uang elektronik,” ujar Thomas.

Besarnya pertumbuhan transaksi elektronik tersebut, salah satunya disumbang oleh penggunaan kartu pembayaran elektronik (smart card) yang penggunaannya makin meluas. Sebut saja, e-Money, yang diluncurkan Bank Mandiri di tahun 2007, telah digunakan untuk pembayaran di sektor transportasi, ritel, dan sekolah/universitas.

“Tujuan utama penerbitan smart card ini adalah supaya masyarakat terbiasa menggunakan noncash,” kata Thomas. Penggunaan e-Money sendiri, yang utama masih di transportasi seperti di jalan tol, Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta, dan TransJakarta. Pembayaran pakir di sejumlah lokasi, di antaranya pusat perdagangan (mal) dan bandara, pun harus menggunakan kartu elektronik, salah satunya e-Money.

Namun, situasi pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 yang diikuti dengan diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial bagi masyarakat, khususnya dalam penggunaan transportasi publik, menurut Thomas, cukup memengaruhi kinerja e-Money. Pasalnya, penggunaan e-Money cukup dominan di sektor transportasi.

“Oleh karena itu, kami memperluas penggunaan kartu e-Money ke sektor ritel, seperti supermarket, minimarket, dan SPBU. Sehingga, orang-orang yang menggunakan e-Money bergeser ke sana karena mereka membatasi penggunaan uang kertas yang bisa menjadi media penularan virus Covid-19,” kata Thomas. Saat ini, menurutnya, penggunaan e-Money sudah mulai naik.

Thomas mengungkapkan, ada sejumlah inovasi yang dilakukan Bank Mandiri agar pengguna e-Money terus bertambah. Pertama, memperluas penggunaan sehingga orang lebih nyaman lagi dalam berbelanja.

Kedua, memberikan kemudahan top-up, yang memang merupakan salah satu yang paling dibutuhkan masyarakat. “Di Bank Mandiri, kami memiliki yang namanya Livin’ by Mandiri. Dengan aplikasi tersebut, pengguna bisa melakukan top-up dengan cepat. Selain itu, kami juga banyak bekerjasama dengan convenience store untuk melakukan top-up, dan juga kami kembangkan lagi ke marketplace,” kata Thomas.

Dengan demikian, pengguna e-Money bisa melakukan top-up tidak hanya di kanal milik Bank Mandiri, tetapi juga bisa di e-commerce. “Ini merupakan terobosan yang dilakukan sehingga orang tetap menggunakan e-Money,” Thomas menandaskan.

Menurutnya, e-Money bisa terus tumbuh di masa pandemi salah satunya karena punya keunggulan dalam hal distribusi. Ini memberikan kemudahan bagi pemegang e-Money untuk dapat melakukan top-up. Sebagaimana disinggung di atas, selain di cabang Bank Mandiri, top-up dapat dilakukan di marketplace.

Masyarakat juga dapat membeli e-Money dengan mudah di toko yang dimiliki bank ini, yakni Mandiri e-Store Official Shop. “Kami satu-satunya bank yang memiliki official store di e-commerce, di mana masyarakat bisa membeli kartu e-Money baru keluaran Bank Mandiri,” katanya.

Thomas tidak risau dengan kehadiran pemain lain di bisnis kartu pembayaran elektronik ini. Sebab, pasarnya masih besar sekali, apalagi populasi Indonesia nomor empat terbesar di dunia. Dan, masih banyak yang belum melakukan transaksi nontunai. “Karena itu, kami ingin mendorong ke arah sana (transaksi nontunai). Sehingga, kami tidak fokus ke persaingannya, tapi mendorong masyarakat agar memiliki habit yang menuju ke arah cashless society,” ungkapnya.

Thomas pun berupaya agar e-Money menjadi produk dompet elektronik yang digemari masyarakat dan direkomendasikan penggunaannya kepada konsumen lain. Selain promosi, ia menjelaskan, Bank Mandiri juga selalu menghadirkan desain terbaru yang menarik.

“Jadi, kami banyak bekerjasama untuk desain dengan principal, baik dari dalam maupun dari luar. Kami menggandeng kreator dalam negeri, antara lain Bumi Langit untuk mengeluarkan seri Superhero, ada Gundala, Sri Asih, Aquanus, Godam,” katanya.

Ke depan, Bank Mandiri akan mengeluarkan lagi e-Money seri Pahlawan Indonesia karya anak bangsa. Juga, ikut menyukseskan pariwisata dengan menampilkan lima Destinasi Super Prioritas yang dipadupadankan dengan seri Superhero, misalnya Sri Asih dengan latar belakang Borobudur.

Thomas mengklaim, pangsa pasar e-Money di bisnis kartu pembayaran elektronik ini mencapai 70% dan distribusinya sudah ke seluruh Indonesia. “Secara year on year, e-Money sudah naik 23% di tahun 2020,” ujarnya.

Dengan inovasi yang dilakukannya dan posisinya sebagai pemimpin pasar, tak mengherankan, dalam survei Indonesia Original Brands 2021, e-Money Mandiri tampil sebagai juara di kategori kartu pembayaran elektronik (smart card) dengan angka indeks 8,27. e-Money mengungguli pesaing terdekatnya, BCA Flazz dan Brizzi (Bank Rakyat Indonesia), yang masing-masing meraih indeks 8,24 dan 8,15.

Dengan 22 juta kartu e-Money yang beredar saat ini, menurut Thomas, ini menjadi daya tarik bagi merchant, yang tentu berharap pengguna kartu pembayaran elektronik ini berbelanja di tempat mereka. Hingga sekarang Bank Mandiri sudah bekerjasama dengan sekitar 175 ribu merchant dan partner. Thomas menargetkan, tahun ini pengguna e-Money bisa meningkat sekitar 15%. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)