Prodia, Berinovasi dengan Aneka Layanan Digital

Indriyanti R. Sukmawati, Direktur Bisnis dan Pemasaran Prodia
Indriyanti R. Sukmawati, Direktur Bisnis dan Pemasaran Prodia

Di masa pandemi yang sudah berlangsung selama setahun lebih ini, PT Prodia Widyahusada Tbk. boleh dibilang termasuk salah satu nama yang makin populer di masyarakat. Maklumlah, Prodia bergerak di jasa laboratorium dan pemeriksaan kesehatan, termasuk untuk pemeriksaan terkait Covid-19.

Namun, sesungguhnya pandemi Covid-19 ini juga memberikan tantangan tersendiri bagi perusahaan yang belum lama go public ini. Menurut Indriyanti R. Sukmawati, Direktur Bisnis dan Pemasaran Prodia, sebagai dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dari pemerintah di awal pandemi, kunjungan pelanggan ke fasilitas layanan kesehatan menurun.

Padahal, seperti penyedia layanan kesehatan lainnya, Prodia juga mengalami kelangkaan alat pelindung diri (APD) di pasar, dan menghadapi situasi kompetisi global yang ketat untuk memperoleh alat dan bahan baku lab untuk pemeriksaan Covid-19. “Hal ini berdampak pada penurunan kinerja Prodia pada awal pandemi,” ujar Indriyanti.

Pada periode tersebut, fokus utama Prodia adalah menyediakan APD bagi tenaga kesehatannya. “Bagi Prodia, hal yang paling penting adalah memastikan kesehatan, keamanan, dan keselamatan tenaga kesehatan kami sehingga kami dapat memberikan layanan kesehatan yang berkualitas,” katanya.

Salah satu perubahan besar yang terjadi akibat pandemi Covid-19, pelanggan Prodia mulai beralih untuk mengakses layanan secara digital. Untungnya, sejak 2017, Prodia telah mengembangkan layanan berbasis digital. Di antaranya, layanan e-Prodia melalui Prodia Apps, layanan e-registration dan e-payment, dan layanan hasil pemeriksaan online (HPSL Online).

Selama pandemi, Prodia juga menghadirkan beberapa inovasi layanan. Antara lain, Prodia Telekonsultasi, yang memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam melakukan konsultasi dengan dokter, yaitu melalui video call, tanpa harus datang ke cabang Prodia.

Prodia juga telah meluncurkan versi terbaru aplikasi Prodia Mobile. Dengan aplikasi ini, pelanggan dapat melakukan pemesanan, berkonsultasi dengan dokter, melihat jenis pemeriksaan, hingga mengakses hasil pemeriksaan. Selain itu, Prodia juga telah memiliki layanan Prodia in Your Car yang memungkinkan pengambilan sampel darah hingga swab test tanpa pelanggan harus turun dari mobilnya. Kalau memang dibutuhkan, Prodia pun memiliki layanan Home Service: petugas Prodia akan datang ke rumah untuk mengambil sampel.

Menurut Indriyanti, pelanggan merespons dengan cukup baik, terutama aplikasi e-Prodia. Hingga saat ini, aplikasi e-Prodia telah diunduh oleh sekitar 98 ribu orang atau meningkat 250% dibandingkan tahun 2019. Sekitar 13 ribu order telah dilakukan melalui aplikasi e-Prodia atau tumbuh 62% dibandingkan tahun 2019.

Indriyanti menyebutkan, kontribusi kanal digital terhadap penjualan masih 10%-15%. “Tapi, kontribusi ini akan terus bertambah seiring dengan berbagai program marketing yang telah kami siapkan,” ujarnya. Menariknya lagi, Prodia telah melakukan kolaborasi digital dengan beberapa platform digital kesehatan, seperti Halodoc, Grabhealth, Good Doctor, Traveloka, dan Tiket.com, guna memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Hingga saat ini, Prodia telah mengoperasikan jejaring layanan sebanyak 270 cabang, yang tersebar di 34 provinsi dan 127 kota di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya merupakan Prodia Health Care, yakni layanan wellness clinic yang berbasis personalized medicine, serta specialty clinics yang terdiri dari Prodia Children, Prodia Women, dan Prodia Senior.

          “Kami selalu berupaya meningkatkan market share setiap tahun yang didukung oleh pertumbuhan pendapatan,” kata Indriyanti. Di tahun 2019, ia mengklaim Prodia berhasil meningkatkan pangsa pasar menjadi 39,2% untuk kategori lab independen. (*)

Joko Sugiarsono & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)