Bank Mega, Andalkan Transformasi Digital dan Likuiditas

Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib.
Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib.

Di antara 100 perusahaan yang berhasil mencetak Wealth Added Index (WAI) terbaik tahun ini, PT Bank Mega Tbk. salah satunya. Bank yang dibangun pengusaha Chairul Tanjung ini kinerjanya memang terbilang kinclong. WAI-nya positif dan masuk dalam Top Five. Tahun 2019, laba bersih Bank Mega mencapai Rp 2,0 triliun, dengan total persentase Total Shareholder Return (TSR) mencapai 252,5%. Wajar WAI-nya pun positif.

Bahkan, bukan hanya pada tahun-tahun sebelumnya, di tahun ini pun, per Juni 2020, Bank Mega mampu mencatat kinerja yang baik. Laba bersih Rp 1,2 triliun dan menghasilkan ROE sebesar 15,88%. Lalu, aset tumbuh 17,7% (YoY) menjadi Rp 99,2 triliun, jumlah kredit tumbuh 8,3% (YoY) menjadi Rp 50 triliun, dana pihak ketiga tumbuh 14,5% (YoY) menjadi Rp 71,4 triliun, dan laba sebelum pajak tumbuh 30,7% (YoY) menjadi Rp 1,5 triliun.

Selain itu, dari parameter BOPO, Bank Mega membaik menjadi 70,18%. BOPO yang semakin rendah menunjukkan semakin efisiennya bank ini dalam melakukan kegiatan operasional. Lalu, NPL (gross) membaik menjadi 1,56%. Angka NPL yang rendah ini menunjukkan kemampuan Bank Mega menjaga kualitas kredit. Adapun CAR meningkat menjadi 25,34%, menunjukkan semakin besarnya kecukupan modal bank.

Hingga Juni 2020, Bank Mega memiliki likuiditas yang kuat sebagaimana tecermin dari posisi LDR-nya sebesar 67,67%. Hal ini menunjukkan besarnya cadangan likuiditas yang dimilikinya. ROA pun meningkat menjadi 2,93%. ROA yang semakin tinggi menunjukkan kemampuannya menghasilkan laba yang lebih tinggi dalam mengelola aset. Di sisi lain, ROE Bank Mega yang semakin tinggi menunjukkan kemampuannya menghasilkan laba yang lebih tinggi untuk pemegang saham.

"Kinerja yang positif akan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dan masyarakat investor pada umumnya," kata Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib. Kostaman menjelaskan, kinerja Bank Mega tak lepas dari program transformasi digital yang dijalankan. Pihaknya memang menjalankan transformasi digital berbasis keandalan ekosistem guna mempersatukan jasa keuangan dan transaksi ritel. "Transformasi itu mencakup perbaikan proses bisnis dan teknologi agar dapat menjadi one stop banking solution & services sesuai dengan tren dan kebutuhan Nasabah," katanya.

Bank Mega telah melakukan transformasi digital untuk meningkatkan pelayanan, seperti pada layanan digital berbasis teknologi artificial intelligence bernama Mila (Mega Intelligence Assistant) yang dilengkapi fitur chatbot. Bank Mega juga telah meluncurkan aplikasi Msmile, mobile super app untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi finansial, seperti menambah rekening baru, mengakses berbagai fitur kartu kredit, serta melihat informasi finansial dan promosi yang ditawarkan.

Bank Mega memiliki roadmap dengan strategi dan target yang jelas dalam menjalankan bisnis agar dapat menjaga pertumbuhan dan kinerja yang optimal secara berkesinambungan. Sebagai perusahaan publik, pihaknya terus termotivasi untuk menghasilkan kinerja yang baik untuk memberikan nilai tambah bagi stakeholder. "Kami menjalankan bisnis Bank Mega dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan terus berinovasi dalam melakukan pengembangan usaha," Kostaman mengungkapkan.

Menghadapi pandemi Covid-19, Bank Mega konsisten menjaga likuiditas, menjaga kualitas kredit, serta merestrukturisasi kredit. "Likuiditas kami jaga ketat. Likuiditas seperti darah yang mengalir dalam tubuh manusia yang tidak boleh kurang dan terhambat. Oleh karena itu, di saat krisis seperti saat ini, likuiditas adalah faktor terpenting yang harus dijaga," katanya.

Di sisi lain, Bank Mega juga memberikan relaksasi (keringanan) pembayaran kewajiban/angsuran atas pokok dan/atau bunga dengan cara perpanjangan jangka waktu kredit atau pemberian grace period. Dengan demikian, diharapkan debitur atau pemegang kartu kredit tetap dapat melakukan angsuran kredit sesuai dengan kemampuan.

Tak hanya itu, di masa pandemi ini Bank Mega berharap bisa menangkap peluang baru setelah terjadi perubahan lifestyle. Yakni, perubahan pola belanja dari offline menjadi online, dan mayoritas pembayaran dilakukan secara nontunai. (*)

Sudarmadi & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)