Mitra Saruta Indonesia, Ekspansi ke Negara Tujuan Ekspor Baru

Freddy Kuncoro, Direktur Departemen Yarn MSI

PT Mitra Saruta Indonesia (MSI) di tahun 2018 mulai mengamati peluang mengekspor benang pintal ke China. Perusahaan ini menyodorkan produk berkualitas dengan harga kompetitif untuk memikat konsumen di negara tersebut. Inilah strategi MSI untuk mencari negara tujuan ekspor baru di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang memicu instabilitas perekonomian global.


Hasil manis dicicipi MSI lantaran benang pintal yang ditawarkan itu dibeli konsumen di China. Jumlah pemesanan pun kian meningkat. Langkah selanjutnya, manajemen MSI berupaya membesarkan pasar di China sejak awal tahun ini hingga masa mendatang. “Kemudian, kami memulai ekspor ke Afrika Selatan. Dalam dua tahun terakhir ini kami mendapatkan dua
customer di Afrika Selatan. Kami berusaha melihat peluang mungkin ada yang bisa dikembangkan di sana,” tutur Angela A. Indriasari, Manajer Departemen Ekspor-Impor MSI.

Perusahaan ini berhasil menembus negara tujuan ekspor baru berkat keuletan manajemennya mencari peluang ekspor di marketplace, seperti Alibaba.com, dan menjalin jejaring bisnis dengan para mitra di pameran dagang. Selain itu, juga mengoptimalkan perjanjian dagang internasional antara Pemerintah Indonesia dan negara lain yang memudahkan perusahaan Indonesia mengekspor produknya ke negara yang terikat di perjanjian dagang ini. Sebagai contoh, Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Cile (Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement), yang mulai berlaku pada Agustus 2019, segera direspons MSI dengan mengekspor tekstil ke negara di Amerika Selatan itu.

Kami juga mempertimbangkan isu yang berkembang di dunia. Adanya trade war memberikan benefit untuk perusahaan kami, seperti sarung tangan yang bisa diekspor karena ada tambahan market. Kami mengekspor 50% dari total produksi sarung tangan produksi kami ke Jepang,” tutur Freddy Kuncoro, Direktur Departemen Yarn MSI.

Perusahaan yang memiliki pabrik di Gresik, Jawa Timur, ini memproduksi tekstil yang bahan bakunya dari produk recycle serta sarung tangan (knitted working gloves). Menurut Freddy, bahan baku daur ulang yang diproses di pabrik Gresik itu mencapai 3 ribu ton/bulan. Sebanyak 60-70% bahan baku daur ulang ini dipasok dari produsen poliester atau pabrik garmen di dalam negeri, sedangkan sisanya berasal dari China, Vietnam, dan Taiwan.

Bahan baku daur ulang ini diyakini MSI sebagai keunggulan produknya yang memenuhi keinginan konsumen terhadap produk “hijau” yang memberikan nilai tambah, termasuk konsumen di mancanegara. MSI pun mencatatkan pertumbuhan ekspor 5-10% dalam tiga tahun terakhir. Keberhasilan MSI mendorong ekspor melanjutkan prestasinya dalam mengekspor benang dan sarung tangan ke berbagai negara, misalnya Rusia, Mesir, Korea Selatan, dan Jepang.

Cara MSI membuka pasar ekspor di Rusia diawali pada 2008. Kala itu, manajemen perusahaan ini mencari peluang di Alibaba.com, menghimpun data di TradeMap.org, kemudian menjajaki konsumen untuk memenuhi syarat administrasi yang ditetapkan konsumen dan regulator serta menjalin kemitraan dengan agen penjualan di Rusia. Hasilnya, ekspor benang MSI ke Rusia yang dimulai pada 2009 berlanjut hingga saat ini. Nilai ekspor ke Rusia menyumbang 40% dari total ekspor MSI.

Ditargetkan ada peningkatan total ekspor sebesar 10% di tahun ini. Kapasitas produksi pabrik kami telah ditingkatkan,” kata Freddy. MSI berdiri di tahun 1989 dan berorientasi ekspor sejak 1992. Ekspor produk MSI menjangkau 30 negara. (*)

Nisrina Salma &Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)