Bank Syariah Mandiri, Kembangkan Aplikasi Mobile Banking dan Wakaf Digital

Toni E. B. Subari, Dirut PT Bank Syariah Mandiri (BSM)
Toni E. B. Subari, Dirut PT Bank Syariah Mandiri (BSM)

Untuk memperkuat bisnis perbankan syariah, PT Bank Syariah Mandiri (BSM) pada awal Desember 2019 meluncurkan fitur pembukaan rekening online. Fitur ini memungkinkan calon nabasah BSM membuka rekening tanpa perlu datang ke kantor. Calon nasabah dapat menggunakan ponsel pintar untuk mengakses Mandiri Syariah Mobile ini. Aplikasi digital merupakan bagian dari strategi bisnis terbaru BSM yang terdiri dari tiga pilar, yaitu refocusing business, fixing the fundamental, dan strengthening enablers. “Dalam menjalankan strategi tersebut kami banyak melakukan digitalisasi proses bisnis dan membangun ekosistem digital,” kata Toni E. B. Subari, Dirut BSM.

Contoh digitalisasi itu adalah mengembangkan platform digital untuk nasabah di segmen menengah-bawah, kemudian menyediakan Mandiri Syariah Mobile yang dilengkapi 72 fitur baru di Oktober tahun ini. Aplikasi Mandiri Syariah Mobile memudahkan nasabah dalam bertransaksi. Hasilnya, jumlah transaksi nasabah BSM di mobile banking itu naik 100,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Produk digital lainnya adalah wakaf digital yang diberi nama jadiberkah.id. Menurut Toni, platform digital ini memudahkan pemberi wakaf (wakif) dan pihak yang menerima harta benda wakaf (nazhir). Melalui platform ini, masyarakat yang belum menjadi nasabah BSM dimudahkan melakukan transaksi wakaf yang transparan dan memperoleh sertifikat wakaf sesuai ketentuan. “Tantangan bisnis adalah perubahan lanskap dan kompetisi bisnis di industri keuangan karena perkembangan teknologi,” katanya.

Di era sekarang, menurut Toni, fungsi intermediasi perbankan sudah mulai berkurang. Nasabah diberi opsi untuk memilih produk unbundling atau layanan perbankan secara terpisah yang sesuai dengan kebutuhannya. “Implementasi program BSM tersebut diharapkan dapat mengembangkan kapasitas dan kapabilitas teknologi informasi dan memenuhi setiap kebutuhan nasabah yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi,” Toni menegaskan.

Demi menyelaraskan perubahan perilaku nasabah dengan teknologi, BSM menyusun rencana perusahaan tahun 2020-2024. Pada tahap pertama, manajemen fokus memperkuat transformasi digital yang menjadikan divisi teknologi informasi (TI) sebagai unit bisnis. Pengembangan TI itu, selain core banking system, juga pengembangan proyek WISE (workflow integrated system engine) untuk mendukung penyaluran pembiayaan dan proyek SAFE (smart automated funding engine), khususnya terkait pengembangan produk cash management, serta penguatan management information system (MIS).

Untuk menjalankan seluruh strategi tersebut, Toni menyebutkan, BSM menempatkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik alias GCG sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis serta mempertahankan eksistensi perusahaan dalam menghadapi tantangan dan persaingan usaha di masa mendatang, khususnya di sektor industri perbankan. “Kami menyadari bahwa penerapan GCG merupakan proses yang berkelanjutan dan berkesinambungan, sehingga memerlukan komitmen penuh dari seluruh jajaran manajemen dan pegawai,” kata Toni. BSM menja perusahaan Most Trusted berdasarkan survei majalah SWA dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) tahun 2019.

Menurut Toni, BSM menginternalisasi pelaksanaan prinsip GCG ke dalam sistem, prosedur kerja, dan perilaku pegawai agar menjadi budaya perusahaan. Sejauh ini implementasi digitalisasi yang mengacu pada GCG berkorelasi dengan kinerja bisnis BSM. Sebagai contoh, jumlah aset pada kuartal III/2019 sebesar Rp 102,78 triliun atau tumbuh 10,11% dari Rp 93,35 triliun di periode yang sama tahun 2018. ”Secara aset, BSM memiliki market share terbesar di antara bank syariah lain, yaitu sebesar 21% dari total keseluruhan aset industri perbankan syariah sebesar Rp 489 triliun,” katanya. BSM merupakan satu-satunya bank syariah di BUKU (bank umum kelompok usaha) III dengan modal inti Rp 5 triliun-30 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK)-nya terus meningkat dua digit setiap tahun. Tahun 2016, DPK BSM tercatat Rp 69,9 triliun, setahun berikutnya meningkat 11,37% menjadi Rp 77,9 triliun, dan di tahun 2018 naik menjadi Rp 87,47 triliun alias tumbuh 12,28%. Per September 2019, angka DPK mencapai Rp 90,49 triliun dengan kualitas pembiayaan dari non performing finance (NPF) terjaga di level 2,66%. Sementara laba bersih per September 2019 mencapai Rp 872 miliar (profit tertinggi sepanjang sejarah BSM) yang meningkat hingga 100,38% dari periode yang sama sebelumnya, yakni Rp 435 miliar. (*)

Vicky Rachman & Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)