Wijaya Karya, Praktik GCG Mendorong Berkembangnya Portofolio Bisnis

Tumiyana, CEO PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA)

Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance/GCG) di PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) diimplementasikan sejak 2015. Penerapan GCG ini berdampak positif terhadap laju bisnis perseroan serta berkontribusi untuk perekonomian nasional. Prinsip GCG yang terdiri dari Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, dan Fairness (TARIF) merupakan pedoman bagi WIKA untuk mengelola arus kas (cashflow), pengembangan SDM, ekspansi usaha, serta tata kelola portofolio lini bisnis perseroan agar melaju mulus ke depan.

Dalam beberapa tahun terakhir, segmen bisnis BUMN konstruksi ini semakin mekar, yakni menjadi tujuh portofolio bisnis, yaitu lini bisnis rekayasa konstruksi, infrastruktur & bangunan, energi dan pabrik industri, realty & properti, industrial, kereta cepat, dan investasi. “Kami melakukan capex spending senilai Rp 30 triliun per tahun, arahnya ke energi dan infrastruktur karena business direction kami menuju aliran cashflow,” ujar Tumiyana, CEO WIKA. Aliran kas yang lancar menopang WIKA menggarap peluang bisnis di dalam negeri dan mancanegara.

Destiawan Soewardjono, Direktur Operasional III WIKA, menambahkan, strategi ekspansi bisnis ke luar negeri itu merupakan salah satu dari lima strategi bisnis perusahaan yang mencakup strategi operasional yang membidik negara berkembang yang minim ketersediaan infrastrukturnya, pengembangan lini bisnis, strategi kontraktual seperti penetrasi pasar konstruksi di Aljazair atau Myanmar, penguatan pasar EPC (engineering, procurement & construction), serta investasi. “Untuk mengurangi risiko gagal bayar, Exim Bank mem-back up WIKA karena Indonesia Exim Bank akan bermitra dengan Exim Bank di negara setempat,” Destiawan menerangkan. Perseroan telah menggarap proyek di beberapa negara, yaitu renovasi istana kepresidenan di Nigeria senilai Rp 370 miliar serta proyek pembangunan rumah di Aljazair.

Penambahan lini bisnis dan ekspansi bisnis itu merupakan bagian dari program transformasi bisnis WIKA demi menyongsong pertumbuhan bisnis di masa mendatang. Manajemen perseroan pun merancang peta jalan (road map) GCG untuk mengawal rencana pertumbuhan bisnis tersebut. Hal ini tidak bisa ditawar-tawa lagi lantaran manajemen mewajibkan semua pegawai di setiap jenjang jabatan untuk mempraktikkan dan menyerap keseluruhan aspek GCG tersebut. ”Pelaksanaan GCG tidak saja di level top management, namun juga sampai ke level pelaksana operasional dengan jalur komunikasi yang tepat, dan pelaksanaan GCG dijalankan seperti tertulis di standar operasional yang membentuk pola perilaku yang seragam bagi insan WIKA. Untuk memastikan terlaksananya semua prosedur itu, WIKA melakukan monitoring dan feedback yang menyerap aspirasi dan informasi dari stakeholders WIKA,” tutur Tumiyana tentang pelaksanaan GCG.

Survei The Indonesia Institute For Corporate Governance (IICG) 2018 yang melakukan kajian GCG menyebut WIKA sebagai perusahaan yang “Sangat Terpercaya” atau “Most Trusted” karena paripurna dalam mengimplementasikan prinsip GCG. Berbicara tentang GCG, perseroan rutin mengampanyekan GCG ke pegawai, yakni mengadakan kelas reguler, misalnya Kelas OJT (On Job Training), Mr QSHE (quality, health, safety, and environment) Morning Talk, workshop dan kelas diskusi kelompok di anak perusahaan, serta rapat rutin untuk menginternalisasi prinsip GCG itu. Buku pedoman GCG pun diterbikan pada 2015, yaitu Pedoman Etika dan Perilaku, Board Manual, dan Panduan Penerapan Good Corporate Governance.

Kemudian, manajemen perseroan menetapkan lima variabel untuk mengukur performa atau Key Performance Indicators (KPI) di setiap unit bisnis dalam melaksanakan GCG. Variabel itu mengukur kualitas kerja, efisiensi waktu, kinerja keuangan, biaya operasional, dan pengembangan SDM. Dengan demikian, WIKA memiliki koridor yang objektif dan terukur dalam mengimplementasikan GCG, perseroan sejak 2015 menerapkan Enterprise Resource Management dan mengembangkan sistem internal yang dinamakan Performance Information System yang mengintegrasikan Project Monitoring and Control System, Human Capital Information System, Builidng Information Modelling, dan Business Process Management.

Terkait kepatuhan terhadap aturan, perusahaan ini telah mempraktikkan regulasi, antara lain Safety Management System, Quality Management System, Risk Management System, Environmental Management System, dan Security Management System. Sejumlah program pengembangan sistem berhasil memangkas biaya operasional. “Untuk tahun 2017, beberapa proses sistem manajemen unggulan kami berhasil menghemat biaya, seperti penerapan Supply Chain Management yang bisa menghemat Rp 2 miliar, penerapan Knowledge Management System bisa menghemat Rp 405 juta, dan Building Information Modelling menghemat Rp 6,5 miliar,” tutur Danu Prijambodo, Direktur QSHE WIKA.

Tumiyana menyebutkan, efisiensi proses bisnis di perusahaannya merupakan hasil dari penerapan GCG. “Hal itu juga tampak di rasio margin kami yang semula di angka 4%, setelah penerapan GCG, rasio margin kami naik ke angka 5,12%. Bahkan, forecast akhir tahun 2018, angkanya akan mencapai 5,6%. Itu akibat kami menjalankan GCG dengan baik,” ia menegaskan.

Di tahun 2018, WIKA melanjutkan program pengembangan sistem manajemen yang berhubungan dengan manajemen risiko, kemudahan proses bisnis, serta penerapan KPI. Di samping pengembangan sistem itu, WIKA gencar mengembangkan kompetensi SDM-nya. Novel Arsyad, Direktur SDM WIKA, menjelaskan, arsitektur kepegawaian di perusahaannya antara lain menyiapkan generasi milenial menjadi pemimpin perusahaan. Saat ini jumlah karyawan milenial WIKA sekitar 1.500 orang, atau 61% dari total karyawan (sekitar 2.450 orang). Ke depan, ditargetkan mencapai 69%.

Mereka (Gen Y) akan memimpin perusahaan di masa depan,” ujar Novel. Akselerasi pegawai menjadi pemimpin telah ditetapkan. Masa bakti untuk menjabat manajer proyek, misalnya, dipangkas menjadi tiga tahun dari sebelumnya delapan tahun. “Kami punya program pendidikan kepemimpinan berbasis kearifan lokal, yakni mengembangkan soft skill pegawai di program Satria Pratama, Satria Utama, dan Satria Luhur,” ia menjelaskan.

Progam pengembangan SDM ini terintegrasi dengan pengembangan bisnis yang terbingkai dalam program GCG. Dampaknya, bisnis WIKA melaju mulus, yang tecermin dari pertumbuhan laba bersih di kuartal III/2018 sebesar 38,56%, atau menjadi Rp 1,05 triliun dari Rp 762,93 miliar (year on year). Laba bersih yang kinclong itu ditopang pertumbuhan pendapatan sebesar 32,29% yang nilainya naik menjadi Rp 21 triliun dari Rp 15,87 triliun. WIKA optimistis penerapan GCG bakal memacu kebersinambungan bisnis dan menjaga prinsip 3P (People, Planet, dan Profit) dengan baik.

Untuk aspek People, WIKA memiliki program WIKA mengajar untuk pendidikan masyarakat. Lalu, WIKA melaksanakan program kemitraan usaha bersama masyarakat seperti menanam pohon sengon dan jahe merah di Pamijahan, Jawa Barat, yang memenuhi aspek Profit. Kemudian, contoh penerapan aspek Planet, perseroan telah membangun gedung hemat energi-ramah lingkungan alias green building di Gedung Bank Indonesia Solo, Gedung BNI 46 Serpong, dan Gedung WIKA Tower yang mendapatkan sertifikat Platinum Green Building. (*)

Nisrina Salma & Vicky Rachman

Riset: Armiadi Murdiansyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)