Golden Energy Mines, Optimalkan Fungsi Corsec sebagai Pendorong Sustainable Business

Sudin SH, Corporate Secretary GEMS

Tugas, tantangan, dan fungsi Corporate Secretary di PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) dari tahun ke tahun semakin kompleks. Terlebih, perusahaan tambang ini termasuk perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat dan banyak melakukan corporate action, khususnya melalui berbagai kegiatan akuisisi aset.

Kini GEMS, yang bergerak di bidang pertambangan dan perdagangan batu bara, mengelola lahan konsesi seluas 66.204 hektare di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jambi, dan Sumatera Selatan dengan jumlah cadangan batu bara sebesar 1,03 miliar ton dan sumber daya batu bara lebih dari 2,95 miliar ton.

Tim Corsec berusaha terus mengadaptasi kompetensi dan cakupan pelaksanaan tugas yang harus bisa mengejar tuntutan bisnis. Contohnya, di bidang reporting, yang menjadi kewajiban perusahaan.

“Dalam pemenuhan Sustainability Report (SR), kami juga sudah memenuhi ketentuan POJK No. 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik, serta Ketentuan relaksasi dari OJK bagi Perusahaan Terbuka untuk menyampaikan SR yang semula pada tahun 2020 menjadi tahun 2021,” Sudin SH, Corporate Secretary GEMS, menjelaskan.

Tak hanya itu. Sudin menambahkan, pihaknya juga berusaha selalu menjaga kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan meningkatkan praktik Good Corporate Governance. Dan kini, salah satu peran penting Tim Corsec GEMS ialah ikut mendorong dan mendukung program keberlanjutan usaha perseroan, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Tim Corsec pun aktif menyosialisasi ketentuan SDG di 10 unit GEMS. Perseroan terus menanamkan nilai-nilai perusahaan dan karakter yang membentuk budaya Perseroan yang propertumbuhan-berkesinambungan.

Terkait pencatatan saham di bursa, saham GEMS memang pernah disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Januari 2018, karena tidak terpenuhinya ketentuan free float. Hal ini menjadi tantangan serius bagi Tim Corsec.

Saat itu syarat saham free float GEMS sejatinya sudah melampaui 50 juta lembar sesuai dengan ketentuan. Namun, proporsinya masih di bawah 7,5%, yaitu hanya 3%, sehingga dipandang masih wajib melakukan penyesuaian. Saham GEMS terkena suspensi sejak 30 Januari 2018 di level Rp 2 .550 per saham, dengan kapitalisasi pasar Rp 15 triliun.

Sebagai wujud kesungguhan dan kerja keras untuk bisa memenuhi free float, Tim Corsec membangun koordinasi yang erat di antara pemegang saham pengendali perseroan. yaitu Sinar Mas dan GMR (pemegang saham utama saat itu), juga dengan regulator dan BEI. “Kami juga harus memenuhi target ketentuan dari regulator di batas waktu yang cukup terbatas,” kata Sudin.

Untuk meyakinkan tim pemegang saham, butuh perjuangan dan harus berkoordinasi dengan banyak pihak. Pihaknya berupaya memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk kelengkapan dokumen.

Sebab itu, kemudian berhasil diputuskan untuk melaksanakan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Tak mengherankan, pada akhir 30 Maret 2021 pengendali saham perseroan, Golden Energy Resources Ltd. (GEAR), mendivestasikan 264.705.885 saham GEMS kepada Ascend Global Investment Fund SPC (ADSP).

Jumlah tersebut setara dengan 4,5% dari total kepemilikan saham GEAR atas GEMS, sehingga kalau ditotal sudah bisa memenuhi aturan tentang free float. Akhirnya, manajemen GEMS bisa memenuhi ketentuan free float, dan suspense saham Perseroan dicabut oleh BEI pada 26 April 2021.

Yang menarik, setelah gembok perdagangan sahamnya dibuka, saham GEMS mengalami kenaikan harga 24,71% ke posisi Rp 3.180 per saham. Saham GEMS dibuka melonjak 630 poin ke posisi Rp 3.180 dari penutupan perdagangan pada 2018 di posisi Rp 2.550. Total frekuensi perdagangan saham 110 kali, dengan nilai transaksi Rp 1,1 miliar.

Dan, sepanjang 2022, emiten batu bara ini mencatat laba bersih US$ 680,37 juta atau Rp 10,54 triliun (kurs Rp 15.502/dolar AS) naik 95,57% dari tahun 2021 yang meraih laba tahun berjalan diatribusikan kepada pemilik entitas induk US$ 348 juta. Jadi, pendapatan Perseroan naik hampir dua kali lipat menjadi US$ 2,91 miliar di 2022 dari pendapatan 2021 sebesar US$ 1,58 miliar.

Tim Corsec di GEMS berusaha selalu memastikan bahwa seluruh direksi dan manajemen selalu updated tentang berbagai informasi dan regulasi bursa di Indonesia. Tim ini juga rutin melakukan meeting berkala dengan kalangan investor dan regulator untuk melakukan koordinasi berbagai hal. Termasuk, memberikan laporan yang diperlukan.

Mereka juga aktif mengoordinasikan meeting antara direksi dan stakeholders, termasuk dengan kalangan investor dan otoritas bursa. Tak lupa pula memberikan laporan tertulis yang diperlukan, termasuk laporan keuangan, sustainability report, dan laporan keterbukaan informasi.

Pada praktiknya, Tim Corsec di holding memang mampu mendorong unit-unit bisnis untuk berkembang dan berprestasi. Contohnya, salah satu anak usaha GEMS, PT Borneo Indobara, meraih Penghargaan Subroto 2022 dalam kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Batu Bara Terinovatif, 4 Oktober 2022, yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM.

Tak hanya itu. Borneo Indobara juga menerima GMP Award dari Kementerian ESDM pada 29 September 2022 dalam enam sektor. (*)

Sudarmadi & Herning Banirestu

www.swa.co.id

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag