Dirgantara Indonesia, Komitmen Menjaga Ruang Udara dan Antariksa

M. Ridlo Akbar, Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI.
M. Ridlo Akbar, Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI.

Nama memiliki kedalaman makna, sekaligus doa dan harapan. Begitu pula nama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) yang diberikan pada 24 Agustus 2000 oleh Presiden Republik Indonesia K.H. Abdurrahman Wahid, menggantikan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Doa dan harapannya, satu-satunya perusahaan di Indonesia bahkan Asia Tenggara yang bergerak di industri rancang-bangun pesawat terbang, sekaligus memproduksi pesawat terbang secara mandiri, ini mampu menjaga dirgantara --ruang udara dan antariksa yang ada di sekeliling dan melingkupi bumi ini-- dan membanggakannya.

Itulah sebabnya, menjaga dan peduli lingkungan hidup menjadi sebuah keharusan bagi PTDI dalam menjalankan aktivitasnya. M. Ridlo Akbar, Direktur Produksi PTDI, mengatakan bahwa seluruh aktivitas yang mereka jalankan dapat dipastikan selalu memperhatikan lingkungan; mulai dari produk, proses bisnis, hingga program kepedulian sosialnya.

“Produk kami berbasis green company; pesawat N219 adalah angkutan transportasi yang ramah lingkungan dan cocok dengan kondisi alam Indonesia. Pesawat didesain short takeoff dan landing, sehingga cocok untuk dioperasikan di landasan pendek yang mayoritas berada di daerah terpencil,” ungkap Ridlo. Ia menunjukkan betapa pesawat tersebut telah mengakomodasi kebutuhan daerah kepulauan yang hanya memerlukan rute-rute pendek.

Medium Altitude Long Endurance (MALE), pesawat tanpa awak yang memiliki endurance yang tinggi dan mengonsumsi bahan bakar yang rendah, juga dinilai prolingkungan. MALE hanya mengonsumsi 450 liter bahan bakar dan bisa mengudara 24 jam. Pesawat maritim lain mengonsumsi 5.000-an liter, dan hamya bisa terbang selama lima jam.

MALE juga bisa digunakan menjadi pesawat tempur untuk menjaga kedaulatan negara, serta menjadi pesawat pemantau daerah perbatasan dan daerah rawan pencurian ikan. MALE juga bisa dipakai untuk mengambil gambar atau citra jika terjadi kebakaran hutan.

Proses bisnis PTDI juga ramah lingkungan. Misalnya, penggunaan tartaric sulphuric acid anodizing (TSAA) untuk menggantikan bahan kimia B3. TSAA merupakan bahan yang lebih ramah lingkungan serta bisa mengurangi pencemaran dan mengurangi limbah B3.

Selain itu, ada pula Recyle Rinsing Water; melakukan efisiensi air dengan mengolah air yang terkontaminasi limbah sehingga bisa digunakan kembali dengan sistem penukar ion. Juga ada penggunaan topcoat ramah lingkungan, program penggantian bahan yang tidak ramah lingkungan dengan bahan yang ramah lingkungan; dari sebelumnya menggunakan chromate menjadi free chromate. “Material ramah lingkungan yang digunakan untuk topcoat N219 adalah N02-0390 (Z-12.390) dan anti-corrosion compound N219 N01-0906 (Z-11.906),” Ridlo menjelaskan.

Di luar semua produk dan proses bisnis ramah lingkungan, PTDI juga menyelenggarakan program-program pemberdayaan dan pengelolaan lingkungan. Program ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian masyarakat.

Ada empat program pemberdayaan lingkungan berbasis masyarakat. Pertama, konservasi pohon jati belanda. Program ini diadakan di Kotawaringin, Soreang. Sebelum program ini dilaksanakan, ada tanah luasan yang ditumbuhi pohon jati. Karena memiliki banyak manfaat, pohon jati di lokasi tersebut sering ditebang untuk dimanfaatkan oleh warga sekitar. Pada tahun 2019, perusahaan melakukan sosialisasi mengenai pentingnya tanaman jati sebagai sumber penyangga ekosistem. “Saat ini, bersama masyarakat, kami berhasil mempertahankan konservasi tanaman jati di aera tersebut,” kata Ridlo.

Kedua, program budidaya cacing tanah. Ini merupakan program pengembangan dan pemanfaatan ternak sapi. Mitra mendapatkan edukasi tentang pemanfaatan feses sapi sebagai media tumbuh cacing. Cacing yang dibudidayakan bisa menjadi alternatif bahan kimia untuk pembuatan kosmetik, protein dalam pakan hewan, dan umpan pancing. Hingga saat ini, pelaku usaha sudah bisa memperluas area budidaya dan meningkatkan cacing hasil budidaya, sehingga kesejahteraan mitra binaan menjadi lebih baik. Di waktu yang bersamaan, mitra binaan juga berkontribusi dalam pembinaan dan pemanfaatan feses ternak, sehingga mengurangi pembuangan limbah tersebut secara tidak terorganisasi ke lingkungan.

Ketiga, program pembuatan ventilator selama pandemi Covid-19. Ini merupakan program kerjasama perusahaan dengan berbagai instansi, antara lain Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran. Melalui program ini, PTDI menjaga kelestarian lingkungan karena berhasil memanfaatkan kembali material yang tidak digunakan, dan di saat yang bersamaan mengembangkan sumber daya masyarakat dengan meningkatkan keterampilan dan kemandirian mereka.

Keempat, program pemberdayaan masyarakat melalui pemakaian material kayu bekas. “Kami menghasilkan kayu bekas sebagai packaging. Sejak tahun 2016, kami aktif bermitra dengan masyarakat untuk memanfaatkan kembali kayu bekas untuk kerajinan, ” kata Ridlo. Limbah kayu tidak dibuang begitu saja. Hingga sekarang, program ini sudah mampu dikelola oleh tiga  mitra binaan.

Selama masa pandemi, terjadi penurunan kapasitas produksi kerajinan kayu ini, juga penurunan daya beli. “Namun, bersama mitra perusahaan, kami mengembangkan touchless wastafel. Selain pengelolaan lingkungan, kami berusaha membangun ketahanan dan kemandirian masyarakat di tengah Covid-19, sekaligus mencegah penularannya,” Ridlo  menerangkan.

Program ketiga dan keempat, diakui Ridlo, sebagai inisiatif baru menghadapi pandemi Covid-19. Menurutnya, betapapun perusahaan harus membuat langkah-langkah baru dalam rangka masuk ke dalam kondisi masa adaptasi baru. “Perusahaan memperkenalkan tahapan-tahapan, mulai dari awareness, understanding, by in, hingga ownership untuk memasuki adaptasi baru ini,” katanya. Ia menyebutkan, change management ini fokus pada internal dan eksternal perusahaan.

Kepada tim juri Indonesia Green Companies, Ridlo mengatakan, sampai saat ini komitmen PTDI tidak berubah, terutama dalam hal pengembangan produk berbasis green dan juga menyambut era kenormalan baru. Misalnya, meski saat ini belum menggunakan bioavtur, program penjajakan terus dijalankan. Kini PTDI pun memakai dua jenis bahan kimia, yang awalnya menggunakan chromate, menjadi free chromate. Dari sisi efisiensi biaya, turun 40-50% dari sebelumnya.

Khusus untuk menghadapi era kenormalan baru, PTDI merencanakan pengadaan filter Hepa di area badan pesawat, untuk operasi pesawat terbang. “Untuk persiapan produksi di area badan pesawat, kami meningkatkan protokol kesehatan yang ketat, di mana pekerja yang bekerja di ruang terbatas akan dimonitor lebih detail untuk proses bekerja,” Ridlo menandaskan. (*)

Dyah Hasto Palupi/Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)