Kirana Megatara, Berkomitmen Mencapai Sustainable Natural Rubber pada Rantai Pasok

Hendy Endarwan, Direktur KMG,
Hendy Endarwan, Direktur KMG.

Sebagai perusahaan pengolah karet remah (crumb rubber), PT Kirana Megatara Tbk. atau Kirana Megatara Group (KMG) berkomitmen menerapkan proses produksi yang efisien dan berwawasan lingkungan dengan mengutamakan penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab demi kelestarian lingkungan serta kebermanfaatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk kelompok petani rakyat. Hal itu tertuang dalam Kirana Megatara Group Sustainable Natural Rubber Policy. Jadi, sejak awal kehadirannya, menurut Hendy Endarwan, Direktur KMG, perusahaan ini tidak mengejar keuntungan ekonomi semata.

         Kebijakan tersebut, Hendy menjelaskan, terdiri dari lima sasaran perusahaan beserta strateginya. Pertama, menghargai seluruh karyawan, pekerja, dan lingkungan masyarakat, dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, termasuk tempat tinggal karyawan; menghargai hak pekerja; serta mendukung pengembangan lingkungan masyarakat. Manajemen KMG, lanjutnya, meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang secara berkelanjutan jika hak asasi manusia dihargai dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari manajamen dan operasional sehari-hari.

         Kedua, meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani karet, dengan menyosialisasikan praktik perkebunan yang baik kepada petani karet serta memberikan hasil imbalan yang adil terhadap hasil produk petani. Ketiga, melindungi lingkungan dan melakukan konversi sumber daya alam. Strateginya, mencegah praktik penggundulan hutan dan pemanfaatan lahan gambut, memanfaatkan sumber daya alam secara efisien, serta menerapkan praktik dan teknologi ramah lingkungan.

         Keempat, menciptakan daya saing global bagi perusahaan. Caranya, dengan membangun keunggulan teknologi proses pengolahan dan jaringan rantai pasok yang efisien. Dan, kelima, menjalankan tata kelola manajemen yang baik. “Strateginya, dengan membangun budidaya perilaku berdasarkan prinsip Integrity & Ethics, Excellence, Compassion, dan Humility. Lalu, membangun sumber sistem ketelusuran ke sumber produksi bahan baku karet alam, serta menerapkan sistem kepatuhan pada kebijakan perusahaan,” Hendy memaparkan.

         Dalam hal peningkatan kesejahteraan petani karet, menurut Hendy, yang sudah dilakukan KMG antara lain mengunjungi kebun petani untuk inspeksi dan penyuluhan, serta memberikan bantuan subsidi sarana pertanian seperti pisau sadap, pupuk, dan zat penggumpal asam semut. Petani mitra binaan KMG ada dalam kelompok dan individu, yaitu 640 kelompok tani yang terdiri dari sekitar 5.000 petani. Luas area peremajaan 1.000 hektare, dengan 600.000 bibit unggul, dan jumlah total asam semut kurang-lebih 20.000 liter.

         Hendy mengklaim, KMG merupakan satu-satunya perusahaan yang melakukan pendekatan dan kemitraan langsung dengan petani. “Jadi, kami juga menaikkan mutu produksi mereka. Kami berikan insentif. Jika mutu produksi mereka baik, akan dihargai dengan baik juga,” katanya.

         Terkait kesejahteraan petani karet di Indonesia, produktivitasnya masih jauh di bawah Malaysia dan Vietnam. Sehingga, untuk jangka panjang harus mulai dari bibit yang baik. Karena itu, “Sejak 3-4 belakangan ini KMG melakukan project planting. Kami bantu bukan hanya pembibitan, tapi juga memberikan subsidi untuk peremajaannya. Hasilnya memang tidak sekarang, tetapi 5-7 tahun lagi, yield-nya bisa dua kali lipat,” Hendy menerangkan.

         Tak hanya itu, KMG juga memberikan beasiswa kepada anak-anak petani. Hingga saat ini yang mendapatkan beasiswa mencapai 509 siswa (2014-2019). Ini dilakukan melalui kerjasama joint CSR (corporate social responsibility) dengan mitra strategis pabrik ban ternama, antara lain Pirelli, Michelin, Goodyear, dan Yokohama.

         Untuk operasional pabrik, menurut Hendy, harus memenuhi sistem manajemen yang baik dan terpadu. “Terkait dengan lingkungan, 100% pabrik taat terhadap perizinan lingkungan dan semua limbah diolah sebelum dibuang ke lingkungan,” ia menegaskan. Dua belas pabrik milik KMG mendapatkan peringkat Proper Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Kami juga menerapkan 4R, yaitu pengoptimalan reduce, reuse, recycle, dan recovery pada setiap lini produksi. Seluruh pabrik KMG sudah memperoleh sertifikat ISO 14001:2015,” katanya.

         Hendy mengungkapkan, KMG telah menyusun dan menetapkan Sasaran Perusahaan, mengacu pada Permenperin No. 09 tahun 2019 tentang Standar Industri Hijau bagi Kegiatan Industri Karet Remah yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Peraturan ini mencakup upaya seleksi bahan baku yang bersih dan bebas kontaminasi (sehingga kadar karet kering minimal 55%), konsumsi energi listrik maksimal 175 kWh/ton, total konsumsi air maksimal 35 m3/ton, rasio penggunaan air recycle minimal 25%, tingkat produk reject maksimal 1%, penerapan 3R, dan tingkat emisi CO2 maksimal 200 kg CO2/ton. Menurutnya, dari sejumlah parameter tersebut, beberapa sudah dipenuhi KMG, bahkan di atas standar yang ditetapkan. Misalnya, konsumsi listriknya saat ini di level 160 kWh/ton, konsumsi air 25,12 m3/ton, penggunaan air recycle 43,18%, dan tingkat emisi CO2 132,86 kg/ton.

         Target KMG ke depan, Hendy menjelaskan, pertama, menjaga pasokan air bersih. Ketersediaan pasokan air bersih menjadi sumber vital bagi Industri karet alam dan lingkungan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga. Tahun 2019, KMG telah mampu mengurangi penggunaan air sungai untuk produksi hingga mencapai angka 40%. Dengan pencapaian ini, perusahaan yang didirikan oleh Theodore P. Rachmat dan Benny Subianto (alm.) ini telah memenuhi standar Kementerian Perindustrian terkait intensitas penggunaan dan reduksi air bagi industri karet alam. “Komitmen kami, meningkatkan persentase penggunaan air recycle sebesar 60% di tahun 2025,” katanya tandas.

         Kedua, menuju zero waste. Menurut Hendy, manajemen KMG yakin bahwa perusahaan ini dapat berkontribusi terhadap usaha reduksi sampah yang menjadi fokus global. Kami percaya bahwa tindakan ini akan memberikan dampak jangka panjang untuk lingkungan. “Kami meyakini bahwa manajemen pengelolaan sampah (4R) di perusahaan kami perlu ditingkatkan. Sehingga, kami meningkatkan pola pikir zero waste dengan menambahkan satu aktivitas pada lini bisnis kami. Targetnya, tahun 2025 perusahaan ini mulai mengimplementasikan prosedur refuse, termasuk mengedukasi para supplier,” ia menjelaskan.

         Ketiga, KMG berkomitmen mencapai sustainable natural rubber (SNR) yang diterapkan pada seluruh rantai pasok. Program Responsible Sourcing from Smallholders (RSS) telah menjadi program awal untuk melangkah lebih jauh.

         “Kami akan menerapkan metode traceability terhadap rantai pasok untuk mengidentifikasi dan menilai risiko terhadap SNR, serta mengembangkan dan meningkatkan hubungan kerjasama dengan smallholders untuk peningkatan kesejahteraan mereka melalui program RSS. Komitmen kami, pada 2025 traceability mencapai 60% dan jumlah kerjasama dengan pihak smallholders mencapai 40.000 petani,” ungkap Hendy. (*)

   Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)