Nestle Indonesia, Ambisi Mencapai Zero Environmental Impact

Debora R. Tjandrakusuma, Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia
Debora R. Tjandrakusuma, Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia.

Bagi PT Nestle Indonesia, mencapai zero environmental impact menjadi ambisi yang terpateri dalam kegiatan operasional perusahaan. Menurut Debora R. Tjandrakusuma, Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia, masalah lingkungan sudah sangat mendesak dan membutuhkan prioritas penanganan. Sebab itu, Nestle bertekad akan fokus pada berbagai persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.

“Komitmen kami selalu menggunakan bahan baku secara bertanggung jawab, memakai bahan dan sumber daya yang terbarukan, beroperasi lebih efisien, menghilangkan pemborosan, dan mengelola air secara bertanggung jawab,” kata Debora tandas.

Ada tiga sasaran lingkungan yang menjadi prioritas penanganan Nestle. Pertama, menginisiasi Caring for Water sebagai upaya untuk mengurangi penggunaan air. Bekerjasama dengan pemasok, terutama di rantai pasok pertanian, Nestle berusaha meningkatkan efisiensi penggunaan air. “Bersama para pemangku kepentingan, kami terlibat dalam komunitas untuk meningkatkan akses ke air minum dan layanan kebersihan,” ungkap Debora dengan gembira.

Kedua, acting on climate change, yaitu upaya mentransformasi portofolio produk dengan menyertakan lebih banyak bahan yang ramah iklim. “Kami fokus pada peningkatan penggunaan energi terbarukan dan mengembangkan berbagai inisiatif di bidang pertanian untuk penyimpanan karbon, reboisasi, dan perlindungan keanekaragaman hayati,” kata Debora. Ia berkomitmen mencapai nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050.

Ketiga, safeguarding the environment, yaitu upaya untuk melindungi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, serta meminimalkan dampak lingkungan. Maka, agar rantai pasok bebas deforestasi, Nestle bekerjasama dengan mitra industri menangani hilangnya keanekaragaman hayati. Sebagai bagian dari visi masa depan yang bebas limbah, di 2018 Nestlé berkomitmen untuk mencapai tujuan pada tahun 2025, yaitu 100% kemasannya dapat didaur ulang atau dapat digunakan kembali.

Untuk mencapai ketiga sasaran tersebut, Nestle menyusun strategi dan inovasi yang berujung pada pemenuhan Green Standard. Dikatakan Debora, strategi dan inovasi hijau itu telah dirangkum dalam Nestlé Policy on Environmental Sustainability. “Ini merupakan sistem tata kelola yang teramat ketat. Kami menyebut sistem yang juga dijalankan di tingkat global ini dengan nama Nestlé Environmental Management System (NEMS), yaitu sistem yang bertujuan untuk memastikan penataan dalam pengelolaan lingkungan dan perbaikan lingkungan yang berkelanjutan,” Debora menjelaskan.

Dalam implementasinya, Nestle menerapkan pendekatan Nestlé Continous Excellence (NCE) di seluruh unit operasi sebagai bagian integral dari strategi terkait efisiensi operasional. Berbagai metodologi dan pedoman yang tercakup dalam NCE itu digunakan untuk menyelaraskan analisis berbasis risiko dengan nilai-nilai kepatuhan. Contohnya, untuk menunjukkan bukti komitmen Nestle dalam mewujudkan sebuah perusahaan hijau (green company), disiapkan Environmental Budget yang didekasikan untuk mendukung praktik ramah lingkungan, baik di bawah prinsip kepatuhan terhadap peraturan maupun inisiatif-inisiatif beyond compliance.

Salah satu bentuk inisiatif beyond compliance adalah alokasi dana untuk pengukuran air limbah, emisi, serta kegiatan penghijauan. “Kami memiliki sistem SHE-PM yang merupakan sistem pemantauan pengelolaan lingkungan secara online dan dipantau langsung oleh Nestlé S.A. di Vevey, Swiss,” ungkap Debora.

Selain itu, Nestle juga mengevaluasi dampak lingkungan terhadap seluruh aktivitas dan produknya. Dan, untuk memastikan implementasi yang konsisten dengan praktik-praktik di tingkat global serta adanya evaluasi yang berkelanjutan, pabrik Nestle telah mengikuti sertifikasi ISO 14001 sejak tahun 2007. Pada 2016, Nestle Indonesia telah tersertifikasi ISO 14001 ver. 2015 yang menyinergikan program lingkungan dan pemberdayaan pada masyarakat.

“Kami melibatkan berbagai LSM, seperti WWF, Waste4Change, FFM (Forum Fasilitator Malang), dan SPEAK Indonesia untuk terlibat dalam usaha kami menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Debora. Di samping itu, Nestle juga menjadi anggota pendiri dan aktif di PISAgro (Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture), suatu kemitraan publik dan swasta yang bertujuan mendukung Pemerintah Indonesia dalam menangani kecukupan pangan nasional dengan meningkatkan produksi produk pertanian secara berkelanjutan dan meningkatkan kehidupan para petani kecil.

Secara rinci, bukti langkah konkret Nestle yang mengacu pada kebijakan dan strategi keberlanjutan lingkungan adalah sebagai berikut. Pertama, melaksanakan penelitian dan pengembangan produk yang senantiasa mempertimbangkan faktor lingkungan.

Kedua, berupaya menggunakan dan mengembangkan bahan baku lokal sebagai pasokan utama dalam proses produksi. Kettiga, memastikan bahwa aktivitas pabrik mendukung keberlanjutan lingkungan. Kempat, menggunakan 100% kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali di tahun 2025.

Kelima, melakukan inovasi dan pengembangan desain serta material kemasan yang memperhatikan masa depan. Keenam, mengarahkan perilaku dan pemahaman baru akan kebiasaan membuang sampah dengan bijak. Ketujuh, menerapkan panduan Nestlé Sustainable Supply Chain dalam memastikan dipenuhinya faktor lingkungan di sepanjang mata rantai produk.

Kedelapan, menempatkan kinerja lingkungan sebagai strategi penting dalam membangun kepercayaan konsumen terhadap merek dagang dan produk, serta menempatkan informasi keberlanjutan lingkungan pada bagian bawah kemasan terluar produk, seperti pembuangan kemasan dan penggunaan bahan daur ulang. “Ini untuk membantu konsumen mengambil keputusan yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Kami juga menempatkan barcode untuk informasi produk lebih lanjut,” kata Debora.

Sebagai dukungan terhadap langkah-langkah hijau itu, Nestle juga mentransformasi komunikasi perusahaan agar lebih terbuka dan transparan, mengembangkan sumber daya manusia dengan mendorong partisipasi karyawan dalam keberlanjutan lingkungan, serta senantiasa memenuhi semua standar lingkungan di area operasinya, mulai dari peraturan pemerintah daerah dan pusat hingga standar internasional seperti ISO 14001.

Debora optimistis, berbagai langkah konkret yang dijalankan, selain akan meningkatkan kinerja dan performa Nestle, juga akan mewujudkan ambisi Zero Environmental Impact Nestle. (*)

Dyah Hasto Palupi/Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)