Pupuk Kalimantan Timur, Terus Berinovasi untuk Menekan Emisi

 Rahmad Pribadi, Direktur Utama PKT.
Rahmad Pribadi, Direktur Utama PKT.

Sebagai salah satu perusahaan pupuk terbesar di Asia Pasifik, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) diam-diam terus melakukan inovasi untuk merealisasikan visinya di bidang kelestarian lingkungan hidup. PKT sudah memiliki roadmap untuk membangun industri yang net zero emission dan terus melangkah untuk mengembangkan industri kimia berbasis renewable resources. Setahap demi setahap perusahaan yang pabriknya berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, ini berusaha mengembangkan ekosistem pertanian yang sustainable.

Salah satu yang saat ini menjadi kepeduliannya adalah hal terkait karbon. Maklum, untuk memproduksi pupuk urea, PKT terlebih dulu harus memproduksi amonia, dan amonia biasanya selalu terkait emisi karbon ⸺karena masih ada karbon yang dikeluarkan saat proses produksi.

“Pupuk Kaltim menuju blue ammonia, karbon yang keluar diubah menjadi produk lain, sehingga tidak mengganggu lingkungan. Kami sedang mengembangkan proses produksi yang menggunakan bahan baku yang sama sekali tidak mengandung karbon sehingga ramah lingkungan,” kata Rahmad Pribadi, Direktur Utama PKT.

Dari sisi produksi, sejauh ini telah dilakukan berbagai improvisasi sehingga proses dan output-nya lebih green. “Produk granulated urea kami sudah mendapatkan sertifikasi Environmental Product Declaration (EPD). Awalnya, kami melakukan life cycle assessment di tiap pabrik. Dari sana kami mengetahui hotspot yang memengaruhi lingkungan dan membuat  program untuk mengatasi dampak lingkungan tersebut,” Rahmad menjelaskan.

Kemudian, masih di pabrik, PKT melakukan inovasi terkait emisi amonia. Untuk menurunkan tingkat emisi amonia, perusahaan ini membuat alat untuk menyerap emisi amonia hingga 7 ton per hari. Inovasi ini mendapatkan Subroto Award for energy Efficiency 2021 dan Rintisan Teknologi Industri 2021.

Lalu, saat mengoperasikan pabrik, juga memperhatikan efisiensi, khususnya pada pemakaian bahan baku gas alam guna mengurangi emisi yang dikeluarkan. Sementara itu, untuk pengadaan listrik (energi), perusahaan ini telah mengembangkan energi ramah lingkungan sendiri berbasis tenaga surya yang panelnya ditempatkan di atap kantor pusat, dengan kapasitas daya listrik 1 MW.

Inovasi dilakukan pula pada limbah produksi. PKT membuat produk inovatif berupa green asphalt yang didapat dari mencampur limbah hasil produksi dengan aspal. “Green asphalt ini sudah kami pakai untuk mengaspal jalan-jalan di kompleks operasional kami,” kata Rahmad.

Terkait ekosistem pertanian yang lebih sustainable, perusahaan ini mengembangkan aplikasi Precipalm untuk mendukung pertanian dengan akurasi tinggi. Aplikasi ini berguna untuk memberikan rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. “Dengan ini, kami bisa mengurangi impact negatif karena kelebihan pupuk dan pencemaran air,” ujarnya.

Di tingkat yang lebih mikro, PKT pun mendorong budaya peduli lingkungan ke internal karyawan. “Untuk menciptakan budaya hijau di kalangan karyawan, kami di pabrik ada program Jumat Bersih. Di mana, selama satu jam di pagi hari, seluruh karyawan dari berbagai level turun ke lapangan untuk membersihkan pabrik di Bontang,” katanya. Selain itu, juga mengembangkan program bank sampah. Karyawan yang ikut mengumpulkan sampah diberi deposit.

Inovasi unik lainnya, menggalakkan program yang disebut Budiman Oke (Budidaya Tanaman Obat Keluarga), dengan menanami lahan kosong atau tidur milik PKT. “Kami memanfaatkan lahan untuk membuat tanaman obat yang dilakukan oleh ibu-ibu di sekitar lingkungan kami. Saat ini, ada 200 jenis tanaman yang dikembangkan yang kebanyakan tanaman asli Kalimantan. Dari program itu, kampung yang kami bina menjadi rujukan budidaya tanaman obat di Provinsi Kalimantan Timur,” Rahmad memaparkan.

Selain Budiman Oke, ada pula program Server Mang Budi (Konservasi dan Diversifikasi Mangrove dan Budidaya Kepiting).  Melalui program ini, PKT ingin melestarikan ekosistem mangrove dan kepiting di hutan mangrove.

Perusahaan ini pun memiliki inisiatif mengembangkan konservasi biodiversitas kelautan dan melakukan konservasi seluas 8.000 m2 di sekitar pantai. Bahkan, aktif menghijaukan kembali lahan-lahan bekas lahan tambang di Kalimantan (bukan tambang PKT) melalui teknologi yang dikembangkannya.

Yang jelas, keseriusannya dalam membangun green company tak melupakan fondasi bottom line bisnisnya. Terbukti, kinerjanya tetap ciamik di masa pandemi. Sampai 2021, kinerjanya terus meningkat dari tahun ke tahun dan di 2021 mampu memanen revenue Rp 25 triliun.

Beberapa skor dari parameter utama korporasi pun menguat, misalnya CSR Program Satisfaction sebesar 89,63%, Costumer Satisfaction Index 4,81, Employee Engagement Index 82,97%. “Kami juga sudah mendapatkan lima Proper Emas dari tahun 2017 hingga 2021,” ungkap Rahmad. (*)

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)