Royal Lestari Utama, Kelola Perkebunan Karet dengan Kolaborasi Multipihak

Arifadi Budiarjo (kanan), GM Public Affairs  Royal Lestari Utama (RLU) bersama Tim
Arifadi Budiarjo (kanan), GM Public Affairs Royal Lestari Utama (RLU) bersama Tim

Sejak awal didirikan pada 2015 sebagai usaha patungan antara Michelin (raksasa produsen ban asal Prancis) dan Barito Pacific Group, PT Royal Lestari Utama (RLU) menyadari perlunya mengembangkan kinerja bisnis yang berkelanjutan. Maklumlah, perusahaan perkebunan dan pengolahan karet alam yang beroperasi di Jambi dan Kalimantan Timur ini mengelola kawasan hutan produksi yang sebelumnya telah mengalami deforestasi dan terdegradasi karena proses perambahan, pembalakan liar, dan berbagai aktivitas ilegal lainnya.

Menurut Arifadi Budiarjo, GM Public Affairs RLU, manajemen berkomitmen akan mengoptimalkan pengalamannya di bidang kehutanan dan agronomi dalam mengelola kawasan tersebut. Tujuannya agar bisa menjadi area perkebunan karet alam yang ramah lingkungan, serta terintegrasi dengan pabrik karet alam di Samarinda (yang merupakan pabrik pengolahan karet pertama di Kal-Tim).

Dalam pemaparannya, Arifadi menyebutkan, RLU mengoperasikan tiga Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu–Hutan Tanaman Industri karet alam yang terintegrasi dengan pabrik pengolahan karet alam di Jambi (PT Lestari Asri Jaya dan PT Wanamukti Wisesa) seluas 70 ribu hektare, dan di Kal-Tim (PT Multi Kusuma Cemerlang) seluas 18 ribu ha. RLU hanya menetapkan 34 ribu ha untuk area produksi dari total lahan konsesi yang dikelolanya. Di luar area produksi ini. dikembangkan untuk area konservasi dan area kemitraan dengan masyarakat.

Khusus di Jambi, HTI RLU menjadi productive buffer zone (daerah penyangga produktif) bagi perlindungan kawasan hutan Bukit Tiga Puluh yang terus menghadapi berbagai tekanan karena deforestasi. Bukit Tiga Puluh merupakan satu dari enam wilayah prioritas untuk penyelamatan populasi harimau Sumatera yang terancam punah --diperkirakan 30 ekor di antaranya hidup di wilayah ini bersama 120 ekor gajah dan 160 orangutan Sumatera.

RLU mencanangkan visi menjadi green natural rubber company dengan salah satu sasarannya: mengembangkan HTI karet alam dengan prinsip “nol deforestasi”. Caranya, dengan mengandalkan metodologi Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value) dan Nilai Karbon Tinggi (High Carbon Stock) yang menjadi standar internasional. Selain itu, menurut Arifadi, RLU menggunakan bibit karet yang unggul, sehingga produktivitasnya bisa di atas rata-rata produksi kebun karet lainnya di Indonesia.

Untuk memastikan tata kelola ini berjalan baik, RLU bekerjasama dengan WWF Prancis dan WWF Indonesia, serta sejumlah pemangku kepentingan. “Kami menyadari keterbatasan kapasitas dan pengetahuan kami tentang konservasi, sehingga sejak awal menggandeng WWF,” ungkap Arifadi.

Selain itu, RLU memastikan sebanyak 23 desa yang kehidupannya berhubungan langsung dengan area hutan dibuatkan berbagai program binaan (Community Partnership Program), seperti budi daya karet dan program pertanian terpadu. “Kami mengajak mereka untuk bisa mengelola lahan secara lebih intensif, karena sebelumnya pola pikir mereka hanya ekstensif,” katanya.

Menurut Arifadi, dengan model program seperti ini, kehadiran RLU bisa diterima oleh masyarakat, sehingga keamanan kebun karetnya bisa terjamin. Bahkan, petani sekitar telah menjadi bagian dari rantai pasok pabrik pengolahan karet alam RLU di Samarinda, sehingga memberikan harga yang lebih baik bagi petani, juga memastikan suplai bahan baku bagi pabrik di Kal-Tim.

Arifadi juga menjelaskan bahwa komitmen Michelin adalah memastikan akses ke pasar global tetap terjaga. Dalam hal ini, Michelin memberikan prioritas kepada RLU untuk menyuplai produk karet alamnya buat perusahaan asal Prancis ini. “Michelin punya komitmen untuk membeli produk karet yang kami hasilkan, dan mereka juga bersedia membeli dengan harga terbaik yang membuat kami bisa sustain dari sisi bisnis,” tuturnya. Saat ini, RLU memasok sekitar 10% dari total karet yang dibutuhkan Michelin.

Program konservasi yang dilakukan RLU tidak sepenuhnya menggunakan alokasi dana perusahaan. Salah satu resep kuncinya adalah kolaborasi multipihak.

Meski baru berusia empat tahun, menurut Arifadi, RLU merupakan perusahaan pertama di Asia yang mendapatkan Sustainable (Green) Bond dari Tropical Landscape Finance Facility yang diinisiasi UN Environment Program (UNEP), ICRAF, BNP Paribas, dan ADM Capital. Alasannya, kinerja sosial dan lingkungan RLU memenuhi green standard. (*)

Jeihan Kahfi Barlian & Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)