Vale Indonesia, Bangun Peta-Jalan Menuju Carbon Neutral

Agus Superiadi, Direktur Support & Site Vale Indonesia.

Manajemen PT Vale Indonesia Tbk. –perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi– tampaknya memahami tanggung jawabnya terhadap aspek keberlanjutan di wilayah operasional perusahaan. Selama lebih dari lima dekade beroperasi, Vale (sebutan singkat perusahaan yang dulu bernama Inco ini) berorientasi pada nilai tambah dengan tidak mengekspor bijih mentah, melainkan melakukan pemrosesan di fasilitas pengolahan di Sorowako, Sulawesi Selatan, hingga menghasilkan nikel matte dengan kadar 78%.

Nikel disebut-sebut sebagai logam masa depan karena berperan besar dalam pembuatan kendaraan listrik dan berbagai perangkat alih teknologi menuju peradaban yang lebih ramah lingkungan. “Potensi demand tersebut kami maknai sebagai tantangan untuk memproduksi nikel dengan lebih bertanggung jawab,” kata Agus Superiadi, Direktur Support & Site Vale Indonesia. “Produk akhir nikel yang menjadi komponen penting bagi perangkat ramah lingkungan sudah semestinya ditambang dan diolah dengan praktik-praktik yang mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ia menambahkan.

Vale telah menyusun prioritas strategis yang akan dijalankan dari 2020 hingga 3-5 tahun ke depan. Tahun-tahun tersebut dijadikan momen untuk menancapkan fondasi demi mencapai target yang ambisius di 2030 dan 2050. Salah satu pilar utama dalam prioritas strategis adalah keberlanjutan bisnis yang diselaraskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan Paris Agreement.

Inisiatif yang termasuk dalam pilar sustainability antara lain: mempertahankan predikat Proper Hijau, melaksanakan program reforestasi dengan cakupan lahan yang lebih luas (bahkan hingga lintas-batas kabupaten), membangun peta-jalan (roadmap) menuju carbon neutral, serta melanjutkan agenda pengembangan masyarakat.

Di awal 2020 ini, Vale meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, setelah mengantongi predikat Proper Biru selama enam tahun berturut-turut. Selain prestasi pertama bagi Vale, capaian Proper Hijau ini juga merupakan yang pertama bagi pelaku bisnis tambang nikel yang terintegrasi di Indonesia.

Kegiatan penambangan bijih nikel yang dilakukan Vale diintegrasikan dengan aktivitas reklamasi dan rehabilitasi lahan pasca-tambang. Selama ini, Vale merehabilitasi lahan di tambang aktif di Blok Sorowako. Hingga 2019, total sudah mencapai 4.249,45 hektare lahan pascatambang yang direklamasinya.

Mulai tahun ini, Vale menjalankan kegiatan reforestasi lintas-batas. “Hingga tahun depan, kami mengagendakan penanaman hutan kembali di area seluas 3.417 ha di empat kabupaten, yakni Luwu Timur, Gowa, Bone, dan Toraja,” Agus menjelaskan.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)